RADAR BOGOR – Musim Natal dan tahun baru (Nataru) seharusnya menjadi salah satu puncak siklus bagi seluruh bisnis wisata.
Namun, pelaku bisnis perhotelan mengakui, cuaca ekstrem yang terjadi selama akhir tahun mengakibatkan okupansi tidak maksimal.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jawa Timur Dwi Cahyono menjelaskan, musim Nataru yang baru berlalu berjalan di luar prediksi pelaku perhotelan.
Pasalnya, okupansi tidak terlalu signifikan.
”Tak seperti tahun sebelumnya, booking yang kami terima cukup fluktuatif,” ungkapnya.
Biasanya, puncak Nataru dimulai sejak 22 Desember.
Lonjakan kemudian bertahan hingga 1 Januari.
Pemesanan kamar biasanya dilakukan jauh hari sebelum periode tersebut.
Rata-rata okupansi hotel bisa tembus 90 persen pada masa tersebut.
Di kota destinasi wisata, okupansi hotel bahkan bisa mencapai 100 persen.
Namun, okupansi selama Nataru kali ini terhambat di angka 80 persen.
Di hotel destinasi wisata pun okupansinya hanya mencapai 85 persen.
”Satu-satunya wilayah yang saya lihat bisa mencapai 90 persen cuma Malang dan Batu. Lainnya seperti Pasuruan dan Banyuwangi juga belum bisa mencapai okupansi yang ideal,” imbuhnya.
Soal minat wisata, dia menegaskan, tidak ada yang salah dengan faktor tersebut.
Antusiasme masyarakat Jatim untuk pelesiran tahun ini sangat tinggi. Yang menjadi masalah adalah cuaca ekstrem.
Menurut dia, bencana yang hadir pada akhir tahun membuat masyarakat khawatir bepergian terlalu jauh dan terlalu lama.
Di pantai, banyak gelombang tinggi. Di pegunungan, banyak longsor. Di perkotaan, banyak banjir.
”Kalau yang wisata banyak. Tapi, mereka biasanya memilih untuk tidak menginap,” ungkapnya.
Secara total, kinerja perhotelan 2024 memang membaik meski belum maksimal.
Rata-rata okupansi perhotelan mencapai kisaran 60–65 persen.
Menurut dia, capaian tersebut dibantu dengan pesta demokrasi tahun lalu.
Dia tak menampik bahwa momen pilkada mendorong kinerja hotel, terutama di segmen MICE.
Sebelumnya, Kepala Badan Pusat Statistik Jawa Timur (BPS Jatim) Zulkipli mengatakan, kinerja wisata Jatim pada 2024 membaik.
Pada November tahun lalu, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di Jatim mencapai 57,24 persen.
Angka itu sedikit lebih rendah dibandingkan TPK pada November 2023 sebesar 57,59 persen.
Namun, jika diakumulasi, rata-rata TPK hotel berbintang pada 11 bulan pertama tahun lalu mencapai 53,09 persen.
Hal itu juga tumbuh dibandingkan capaian periode yang sama 2023 dengan angka 52,59 persen.
”Angka kunjungan wisatawan mancanegara juga tumbuh. Secara akumulasi, sudah ada 302 ribu kunjungan pada 11 bulan pertama tahun lalu. Angka itu sudah mengalahkan capaian 2023, bahkan 2019, dengan masing-masing 195 ribu dan 223 ribu,” tegasnya. (bil/fal)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim