RADAR BOGOR - Tiap Ramadhan dan jelang Lebaran, tingkat konsumsi masyarakat selalu mengalami peningkatan dibandingkan waktu-waktu sebelumnya.
Hanya untuk momen Lebaran tahun ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
Dari beberapa pengelola mall dan owner serta management beberapa toko mengaku Ramadhan berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Meski jumlah pengunjung tidak ada perbedaan yang significant, namun dilihat dari daya beli ada penurunan.
"Lebih ramai tahun lalu. Sekarang masih sepi, berharap ada peningkatan sampai Lebaran nanti," perwakilan salah satu mall Kota Bogor, Juli.
Setelah keluarnya THR, mereka berharap ada peningkatan daya beli dan kunjungan ke mall.
Hal senada juga disampaikan Marcomm Mgr Botani Square, Ova Novara.
Dia menyebutkan, untuk saat ini traffic kunjungan cenderung stagnan, sama dengan Ramadan tahun lalu dan bulan-bulan sebelumnya.
Menurut Ova, cenderung stagnan dan daya beli yang menurun berbagai faktor yang mempengaruhi.
Selain karena THR belum keluar, juga karena faktor ekonomi. Banyak PHK, kenaikan pajak dan isu-isu lainnya.
"Kalau store sepi mungkin diatas jadi salah satu alasanya bisa juga karena produk yang ditawarkan tidak update atau mungkin promonya juga yang kurang menarik," ucap Ova.
Sementara itu menurut Kepala LPPM UIKA, Prof. Dr. Immas Nurhayati, kenaikan tersebut masih lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan daya beli ini juga tercermin dalam purchasing manager index (PMI) manufaktur Indonesia pada Februari 2025 lalu, mencapai level 53,6, tertinggi dalam 11 bulan terakhir.
“Secara efek musiman, ada kenaikan daya beli masyarakat berdasarkan PMI manufaktur kemarin. Pesanan sudah mulai naik, yang biasanya berkaitan dengan efek musiman Ramadan,” jelas Prof Immas.
Meski mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya, Prof Immas melihat daya beli masyarakat masih lebih rendah dibandingkan Ramadan 2024. "Lebaran ini lebih pusing imbas efisiensi dan gelombang PHK," tegas Immas.(mer)
Editor : Alpin.