RADAR BOGOR - Indonesia mengalami lonjakan signifikan dalam penggunaan e-Commerce, dengan jumlah pengguna mencapai 65,65 juta orang pada 2024, meningkat 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Peningkatan ini mencerminkan pergeseran perilaku belanja masyarakat yang semakin mengandalkan platform digital e-Commerce untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pertumbuhan pengguna e-Commerce ini tidak hanya didorong oleh kemudahan akses internet dan penetrasi smartphone yang tinggi, tetapi juga oleh perubahan perilaku konsumen selama pandemi Covid-19.
Pandemi memaksa banyak orang untuk beradaptasi dengan belanja online, sebuah tren yang terus berlanjut hingga kini.
Namun, di balik angka pertumbuhan yang impresif ini, industri e-commerce Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang perlu segera diatasi.
Salah satu isu utama adalah minimnya pemahaman UMKM terhadap pemasaran digital dan akses informasi.
Banyak pelaku UMKM belum sepenuhnya memanfaatkan platform digital untuk mengembangkan bisnis mereka, sehingga potensi e-commerce belum tergarap maksimal.
Selain itu, infrastruktur logistik dan pembayaran digital yang belum merata, terutama di luar Pulau Jawa, menjadi hambatan signifikan.
Keterbatasan ini mengakibatkan kesenjangan akses dan kualitas layanan e-commerce antara wilayah perkotaan dan pedesaan, yang pada gilirannya membatasi pertumbuhan ekonomi digital secara inklusif.
Perubahan model bisnis juga menambah kompleksitas ekosistem e-commerce. Jika sebelumnya marketplace mendominasi, kini muncul tren social commerce, live shopping, dan penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam personalisasi pengalaman pelanggan.
Inovasi yang cepat ini menuntut pelaku industri untuk terus beradaptasi agar tetap kompetitif.
Dalam sebuah diskusi kelompok terarah yang diselenggarakan Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA), Direktur Perdagangan melalui Sistem Elektronik dan Perdagangan Jasa Kementerian Perdagangan, Rifan Ardianto, mengungkapkan bahwa nilai transaksi e-commerce pada 2024 mencapai Rp512 triliun, meningkat 12,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski demikian, Rifan menekankan perlunya kolaborasi antara industri dan regulator untuk menciptakan ekosistem yang sehat dan berkelanjutan.
Ekonom Senior Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, menambahkan bahwa e-commerce bukan sekadar pasar digital, melainkan ekosistem yang melibatkan berbagai sektor seperti logistik, sistem pembayaran, pemasaran digital, dan pelaku usaha dalam berbagai skala.
Pendekatan holistik diperlukan untuk memastikan semua komponen ekosistem dapat berkembang secara harmonis.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa jumlah pengguna e-commerce di Indonesia terus meningkat sejak tahun 2020, dan diperkirakan akan mencapai 99,1 juta pengguna pada tahun 2029.
Angka ini menegaskan potensi besar yang dimiliki sektor e-commerce, namun juga menyoroti urgensi pembenahan ekosistem untuk mengakomodasi pertumbuhan tersebut.
Salah satu langkah strategis yang perlu diambil adalah meningkatkan literasi digital bagi pelaku UMKM.
Pelatihan dan pendampingan dalam memanfaatkan platform digital dapat membuka akses pasar yang lebih luas dan meningkatkan daya saing produk lokal.
Selain itu, penguatan infrastruktur logistik dan pembayaran digital harus menjadi prioritas. Pemerataan akses internet berkualitas dan layanan pengiriman yang andal akan mendorong pertumbuhan e-commerce di daerah-daerah yang selama ini terpinggirkan.
Adopsi teknologi terkini seperti AI dan augmented reality (AR) juga perlu dipertimbangkan untuk meningkatkan pengalaman belanja online.
Penggunaan AI dapat membantu personalisasi layanan, sementara AR memungkinkan konsumen mencoba produk secara virtual sebelum membeli, meningkatkan kepuasan dan kepercayaan pelanggan.
Namun, semua upaya ini harus didukung oleh regulasi yang adaptif dan mendukung pertumbuhan.
Pemerintah perlu menciptakan kebijakan yang fleksibel namun tetap melindungi konsumen dan pelaku usaha, sehingga inovasi dapat berkembang tanpa mengorbankan aspek keamanan dan keadilan.
Kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ini. Dengan bekerja sama, Indonesia dapat membangun ekosistem e-commerce yang tidak hanya tumbuh secara kuantitatif, tetapi juga berkualitas dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, pertumbuhan pengguna e-commerce yang mencapai 65 persen harus diimbangi dengan pembenahan ekosistem yang komprehensif.
Hanya dengan demikian, potensi penuh ekonomi digital Indonesia dapat terwujud, memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat. (***)
Penulis: Sholihatun Nur Khasanah/Magang-Unpak
Editor : Yosep Awaludin