Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Hotel di Bogor Tutup saat Jumlah Wisata Naik, Pengamat Unpak Ungkap Akar Masalahnya

Fikri Rahmat Utama • Selasa, 8 April 2025 | 19:49 WIB
Pengamat ekonomi yang juga Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pakuan (UNPAK), Towaf Totok Irawan.
Pengamat ekonomi yang juga Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pakuan (UNPAK), Towaf Totok Irawan.

RADAR BOGOR – Lonjakan jumlah wisatawan ke Kota Bogor, belakangan ini tidak sepenuhnya mencerminkan perbaikan ekonomi masyarakat.

Pasalnya, sejumlah hotel di Kota Bogor justru tutup akibat rendahnya okupansi.

Penutupan hotel di Kota Bogor disebut-sebut sebagai imbas dari melemahnya daya beli serta kebijakan efisiensi anggaran pemerintah.

Pengamat ekonomi yang juga Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pakuan (UNPAK), Towaf Totok Irawan, menilai peningkatan sektor pariwisata tidak serta-merta mencerminkan pulihnya ekonomi masyarakat.

Dia menyoroti daya beli sebagai persoalan utama yang memicu rendahnya okupansi hotel.

“Ketika kunjungan wisata meningkat tapi tingkat okupansi hotel menurun, hal itu berarti ada soal daya beli,” ujar Totok saat dihubungi Radar Bogor, Selasa (8/4/2025).

Menurut dia, masyarakat yang menginap di hotel umumnya berasal dari kelas menengah atas. Namun saat ini, sebagian kelompok tersebut sedang mengalami tekanan ekonomi.

Situasi itu diperparah dengan kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang berdampak langsung terhadap konsumsi, termasuk dari kalangan aparatur sipil negara (ASN).

“Kalangan ASN selama ini cukup berperan dalam mendongkrak konsumsi di sektor transportasi, hotel, UMKM, restoran, dan lainnya. Ketika efisiensi dilakukan, daya beli mereka ikut menurun,” paparnya.

Totok menjelaskan, kondisi ini membuat perputaran ekonomi lokal jadi lebih banyak bergantung pada sektor swasta.

Namun, sektor swasta pun saat ini menghadapi tekanan permintaan akibat berbagai faktor ekonomi makro dampak geopolitik global hingga persaingan bisnis nasional yang makin ketat.

“Ekonomi nasional sedang mengalami tekanan di sektor pasar modal dan nilai tukar. Ini memengaruhi kepercayaan investor dan kegiatan impor, dan ujungnya berdampak pada industri nasional maupun daerah,” jelasnya.

Totok mendorong pemerintah mengambil langkah strategis melalui backward looking policy. Sebuah pendekatan yang berfokus ke dalam, dengan memaksimalkan sumber daya alam domestik untuk memenuhi kebutuhan nasional.

“Bangun hilirisasi berbasis sumber daya lokal, agar industri dalam negeri makin kuat, menyerap tenaga kerja, dan mengembalikan daya beli masyarakat ke posisi normal,” tandasnya.

Meski demikian, untuk jangka pendek, Totok menilai sektor pariwisata tetap bisa menjadi tumpuan utama pemulihan ekonomi di Bogor.

Menurutnya, sektor ini memiliki efek berganda yang luas terhadap UMKM, penginapan, hingga transportasi.

“Pariwisata adalah salah satu sektor unggulan di Bogor yang cepat menghasilkan uang dan membuka lapangan pekerjaan,” katanya. (uma)

Editor : Alpin.
#kota bogor #hotel tutup #wisatawan