Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Strategi Tahan Penurunan Rupiah Terhadap US Dolar, Apindo Dorong Optimalisasi Devisa Hasil Ekspor

Siti Dewi Yanti • Rabu, 9 April 2025 | 03:45 WIB
Analis Kebijakan Ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia atau Apindo, Ajib Hamdani.
Analis Kebijakan Ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia atau Apindo, Ajib Hamdani.

RADAR BOGOR - Nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan.

Dalam rentang dua hari terakhir, mata uang rupiah masih melemah di pasar non deliverable forward (NDF) yang notabene nilai tukar yang digunakan dalam kontrak berjangka valuta asing (valas).

Meski Bank Indonesia (BI) telah melakukan intervensi, rupiah belum menguat.

Analis Kebijakan Ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Ajib Hamdani menuturkan, jika dikaji lebih mendalam, indikator ekonomi makro domestik Indonesia relatif stabil.

Ajib merujuk pada tingkat suku bunga acuan yang stabil di angka 5,75 persen dan inflasi masih pada rentang kendali di bawah 2,5 persen.

Faktor lain penentu stabilitas mata uang, dalam hal ini faktor politik, juga relatif stabil dengan dimulainya pemerintahan baru di bawah Prabowo Subianto.

“Pelemahan nilai tukar rupiah ini cenderung dipengaruhi oleh tiga faktor. Pertama, ekonomi global dan kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menaikkan tarif impor. Hal itu akan membuat konstraksi neraca dagang Indonesia-Amerika, yang pada 2024 mencapai surplus lebih dari 16 miliar USD,” ujarnya di Jakarta, Selasa (8/4).

Kedua, tingkat keyakinan pasar global atas ekonomi dalam negeri Indonesia.

Salah satu indikatornya adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok lebih dari 9 persen begitu perdagangan bursa dibuka, Selasa (8/4).

Ketiga adalah faktor kebijakan ekonomi Indonesia yang menganut defisit fiskal.

Sehingga, setiap isu pengelolaan keuangan negara akan memengaruhi dan sekaligus terpengaruh oleh fluktuasi nilai tukar.

Proyeksi yang dibuat oleh pemerintah dalam Kerangka Ekonomi Makro sepanjang 2025, nilai tukar rupiah di kisaran Rp 16.000 per US dolar.

“Pemerintah harus membuat penyesuaian kebijakan-kebijakan fiskal maupun moneter untuk memitigasi fluktuasi yang ada,” tutur Ajib

Ajib menyebutkan, setidaknya ada empat langkah untuk mitigasi jangka pendek maupun jangka panjang, di luar kebijakan fiskal dan moneter.

“Pertama, melanjutkan program optimalisasi devisa hasil ekspor (DHE) sambil tetap memberikan insentif terbaik agar dunia usaha tetap berjalan dan tidak kekurangan likuiditas. Kedua, fokus dengan program orientasi ekspor dan substitusi impor,” katanya.

Ketiga, mendorong peningkatan nilai tambah atas komoditas-komoditas unggulan, terutama di sektor pertanian, perkebunan, dan maritim.

Keempat, mendorong kebijakan revitalisasi sektor padat karya dan deregulasi.

Hal itu diharapkan bisa menekan high cost economy yang membebani dunia usaha dan bisa meningkatkan daya saing.(dee/dio)

Pergerakan Rupiah Terhadap US Dolar Periode April

2 April Rp 16.712,5

3 April Rp 16.745,5

4 April Rp 16.652,5

7 April Rp 16.821,5

8 April Rp 16.891

Editor : Siti Dewi Yanti
#bogor #uang #US dolar #rupiah #prabowo subianto #suku bunga