Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Guna Mengadopsi Teknologi AI dalam Bisnis Mereka, Mayoritas Pedagang E-Commerce Masih Memerlukan Dukungan

Yosep Awaludin • Minggu, 13 April 2025 | 18:00 WIB
Ilustrasi e-Commerce
Ilustrasi e-Commerce

RADAR BOGOR - Sebuah laporan terbaru yang dirilis oleh Lazada, bekerja sama dengan perusahaan riset Kantar, mengungkapkan bahwa mayoritas pedagang e-commerce di Asia Tenggara telah mengenal teknologi kecerdasan buatan (AI).

Namun masih terdapat kesenjangan yang signifikan antara tingkat kesadaran pedagang e-commerce dan bagaimana hal itu diterapkan dalam operasi bisnis mereka.

1.214 pedagang e-commerce dari enam negara Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam dilibatkan dalam studi yang disebut "Bridging the AI Divide: Online Seller Perceptions and Adoption Trends in Southeast Asia".

Hasil survei menunjukkan bahwa 68% pedagang e-commerce di kawasan tersebut mengklaim familiar dengan AI, namun hanya 37% yang telah mengimplementasikannya dalam operasi bisnis mereka.

Di Indonesia, misalnya, 52% responden menyatakan sudah menggunakan AI, tetapi estimasi integrasi sebenarnya hanya mencapai 42%.

Hal ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kesenjangan terbesar antara persepsi dan praktik dalam adopsi AI.

Sebagian besar penjual setuju bahwa AI dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi biaya: 89% percaya bahwa teknologi ini dapat meningkatkan produktivitas dan 93% percaya bahwa teknologi ini dapat membantu mengurangi biaya dalam jangka panjang.

Namun, biaya dan proses implementasi yang memakan waktu tetap menjadi hambatan utama, sebagaimana diungkapkan oleh 64% responden.

James Dong, CEO Lazada Group, mengomentari temuan ini dengan menyatakan bahwa meskipun sebagian besar penjual memahami potensi transformatif AI, banyak yang masih mencari cara untuk beralih dari pengakuan menuju implementasi.

Sebagai platform e-commerce terkemuka di Asia Tenggara, Lazada berkomitmen untuk menjembatani kesenjangan pengetahuan dan adopsi dengan mengembangkan solusi AI yang dapat diakses dan disesuaikan dengan tantangan unik yang dihadapi penjual di berbagai pasar.

Indonesia dan Vietnam memimpin dalam hal kesiapan adopsi AI dengan 42% di berbagai fungsi bisnis, diikuti oleh Singapura dan Thailand dengan 39%, masing-masing.

Laporan Lazada membagi kesiapan adopsi AI menjadi lima fungsi inti: operasi dan logistik, manajemen produk, pemasaran dan periklanan, layanan pelanggan, dan manajemen tenaga kerja.

Penjual dimasukkan ke dalam tiga kelompok berdasarkan tingkat adopsi AI. Kelompok pertama, AI Adepts, terdiri dari penjual yang menggunakan AI di lebih dari 80% operasi mereka, 24% di Asia Tenggara dan 29% di Indonesia.

Kelompok kedua, AI Aspirants, mencakup penjual yang telah mengimplementasikan AI secara parsial namun masih menghadapi kesenjangan signifikan dalam fungsi bisnis inti; kelompok ini mencakup 50% baik secara regional maupun di Indonesia.

Terakhir, AI Agnostics adalah mereka yang masih sangat bergantung pada proses manual, mewakili 26% penjual di kawasan dan 21% di Indonesia.

Thailand memiliki proporsi AI Adepts tertinggi sebesar 30%, diikuti oleh Singapura dan Indonesia yang masing-masing mencapai 29%. Malaysia dan Filipina tertinggal, terhambat oleh infrastruktur dan dukungan yang terbatas.

Secara keseluruhan, 76% responden termasuk dalam kelompok AI Aspirants atau Agnostics, menunjukkan bahwa sebagian besar bisnis masih memerlukan dukungan signifikan untuk sepenuhnya memanfaatkan kemampuan AI.

Salah satu tantangan utama yang dihadapi penjual adalah kurangnya kesiapan karyawan. Meskipun 93% setuju bahwa peningkatan keterampilan tenaga kerja dalam AI adalah krusial, tiga perempat melaporkan bahwa tim mereka masih lebih memilih alat yang sudah dikenal dibandingkan solusi baru berbasis AI.

Untuk mengatasi hal ini, Lazada telah meluncurkan "Online Sellers Artificial Intelligence Readiness Playbook", panduan khusus yang menawarkan strategi dan praktik terbaik untuk mengintegrasikan AI ke dalam operasi harian.

Panduan ini dibangun berdasarkan kemampuan AI yang sudah ada dalam platform Lazada, yang telah memberikan hasil positif—67% penjual menyatakan kepuasan tinggi terhadap fitur AI Lazada.

Sementara itu, dari sisi konsumen, adopsi AI dalam e-commerce menunjukkan tren positif. Sebuah survei yang melibatkan 6.000 pengguna e-commerce dari enam negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, mengungkapkan bahwa 88% konsumen membuat keputusan pembelian berdasarkan rekomendasi yang dihasilkan oleh AI.

Selain itu, 83% dari mereka bersedia membayar lebih untuk pengalaman belanja yang dipersonalisasi oleh teknologi AI.

Menurut laporan tersebut, 80% responden menggunakan fitur berbasis AI setidaknya menunjukkan bahwa 80% responden menggunakan fitur berbasis AI setidaknya sekali dalam seminggu, dengan chatbot menjadi fitur yang paling sering digunakan, diikuti oleh pencarian visual produk dan alat terjemahan.

Meskipun adopsi AI di kalangan konsumen meningkat, masih terdapat kesenjangan antara persepsi dan penggunaan aktual fitur AI.

Sebanyak 63% responden percaya bahwa AI telah diadopsi secara luas dalam e-commerce, namun penggunaan nyata untuk fitur seperti chatbot AI, pencarian visual produk, dan terjemahan masing-masing hanya mencapai 47%, 40%, dan 40%.

Kesenjangan ini menunjukkan peluang bagi platform e-commerce untuk meningkatkan pengalaman pengguna dengan memanfaatkan teknologi AI secara lebih efektif.

Dengan mengintegrasikan AI secara lebih mendalam, platform dapat menawarkan pengalaman belanja yang lebih personal dan efisien, yang pada akhirnya meningkatkan kepuasan dan loyalitas pelanggan pedagang e-commerce. (***)

Penulis: Sholihatun Nur Khasanah/Magang-Unpak

Editor : Yosep Awaludin
#lazada #asia tenggara #e-commerce