Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Fenomena Warga Berbondong-bondong Beli Emas, Pengamat Sebut Perilaku Rasional di Tengah Ekonomi Tidak Menentu

Omer Ritonga • Senin, 21 April 2025 | 16:13 WIB
Warga saat melakukan pembelian emas Butik Emas LM Antam, Jalan Raya Padjajaran, Kota Bogor.
Warga saat melakukan pembelian emas Butik Emas LM Antam, Jalan Raya Padjajaran, Kota Bogor.

RADAR BOGOR - Warga yang berlari membeli emas logam mulia Antam, viral di media sosial. Tampak puluhan warga berbondong-bondong demi mendapat antrean pertama saat toko emas dibuka.

Tak pelak fenomena ini menjadi sorotan publik. Memperlihatkan antrian warga di Butik Emas LM Antam, Jalan Raya Padjajaran, Kota Bogor.

Bahkan beberapa waktu lalu beredar video antrian warga di booth LM Antam di salah satu mall di Kota Bogor.

Rupanya mereka antre untuk membeli emas batang logam mulia Antam.

Pengamat Ekonomi dan juga Kepala LPPM UIKA, Prof. Dr. Immas Nurhayati, SE., MM, menilai perilaku membeli emas secara besar- besaran ini merupakan hal yang rasional.

Apalagi saat ini kondisi ekonomi global tak menentu. Menurut Immas, emas sering dianggap "safe heaven" atau tempat berlindung yang aman untuk kekayaan.

Jelasnya juga fenomena harga emas naik dan masyarakat antri membeli emas, refleksi dari keyakinan masyarakat terhadap emas sebagai aset yang aman dan stabil, terutama dalam kondisi ekonomi yang tidak pasti.

Meskipun harga emas naik, minat masyarakat untuk berinvestasi emas tetap tinggi karena berbagai faktor, diantaranya ketidakpastian ekonomi, inflasi, dan kebijakan moneter.

Kalau harga emas cenderung naik maka masyarakat luas maupun di Bogor melihat hal ini sebagai kesempatan untuk melindungi nilai kekayaan mereka.

Tak hanya itu, emas dinilai memiliki keunggulan dibandingkan saat ini nilai mata uang Dollar alami penguatan dibanding Rupiah, yakninya bersifat fisik dan dapat disimpan secara pribadi.

"Meskipun Dolar juga menguat, emas memiliki keunggulan dibandingkan menyimpan mata uang asing, karena emas bersifat fisik dan dapat disimpan secara pribadi, diterima secara universal dan memiliki nilai intrinsik dan track record ribuan tahun sebagai penyimpan nilai. Dan emas tidak tergantung pada kebijakan bank sentral tertentu," katanya.

Sebagai seorang ekonom, menilai langkah membeli emas merupakan hal yang tepat dan bijaksana, lantaran apabila terjadi sebuah inflasi, nilai uang kertas akan menurun, sementara emas cenderung mempertahankan nilainya.

"Secara historis emas sering mengalami kenaikan harga yang signifikan selama periode inflasi tinggi," katanya.

Namun, Ia mengingatkan masyarakat agar tidak terlalu 'demam emas', tentu tak semua aset kekayaan diinvestasikan melalui emas.

"Penting melakukan diversifikasi aset dan tidak menginvestasikan seluruh kekayaan hanya pada satu jenis aset," ujarnya.

Dipahami bersama, emas meskipun relatif stabil, tetap memiliki fluktuasi harga, secara keseluruhan tren ini mencerminkan respon rasional terhadap ketidakpastian ekonomi dan kekhawatiran akan inflasi masa depan.

Menilai adanya stimulan perang dagang yang menyebabkan perilaku membeli emas secara spekulan ini. Perang dagang itu hanya stimulan saja dan lebih makro situasinya, itupun kan Trump sudah memundurkan pemberlakuan nya, Trump pun gentar menghadapi serangan balasan dari China.

Ditambah investasi emas menurutnya sangat familiar di kalangan masyarakat terutama kalangan Ibu, sangat ini familiar berinvestasi emas karena selain harga yang jarang turun, bisa pula jadi perhiasan.

Dari semua itu, hal itu membuktikan masyarakat kini paham penting untuk berinvestasi. Meski harga emas sedang tinggi, mereka tetap membeli untuk tujuan jangka panjang. Selain itu selama ini terpantau harga emas tidak pernah turun jadi aman untuk investasi. (mer)

Editor : Alpin.
#kota bogor #emas antam #harga emas