RADAR BOGOR – Pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi akan melambat.
Hal itu sejalan dengan konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah yang melemah.
Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro memproyeksikan, produk domestik bruto (PDB) Indonesia tumbuh sebesar 4,91 persen year-on-year (YoY) di kuartal I 2025.
Angka itu sedikit melambat dari 5,02 persen YoY pada kuartal IV 2024.
Pertumbuhan konsumsi rumah tangga diperkirakan melemah di bawah 4,9 persen YoY dari kuartal sebelumnya sebesar 5 persen.
"Hal itu mencerminkan kecenderungan pengeluaran yang lebih hati-hati, di mana rumah tangga menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan berjaga-jaga," ucap pria yang akrab disapa Asmo itu, Minggu (4/5).
Belanja pemerintah, lanjut dia, juga nampaknya cenderung melambat menjadi 3,3 persen YoY dari 4,3 persen di kuartal sebelumnya.
Hal tersebut seiring penyesuaian kebijakan dan lambatnya pencairan anggaran di awal tahun.
Kondisi ini juga berdampak pada investasi yang diproyeksikan hanya tumbuh 1,7 persen YoY dari 4,9 persen pada kuartal IV 2024.
“Penundaan pencairan anggaran, terutama untuk proyek infrastruktur dan investasi yang didukung pemerintah, menyebabkan pertumbuhan pembentukan modal melambat,” terangnya.
Asmo memastikan, investasi langsung tetap stabil di tengah tantangan.
Realisasi investasi di Indonesia pada kuartal I 2025 mencapai Rp 465,2 triliun, tumbuh 15,9 persen secara tahunan.
Jumlah tersebut setara 24,4 persen dari target investasi nasional 2025 sebesar Rp 1.905,6 triliun.
Lebih rinci investasi langsung dalam negeri tumbuh 19,1 persen YoY sedangkan investasi langsung asing naik 12,7 persen YoY.
“Porsi investasi dalam negeri naik menjadi 50,5 persen tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Sementara itu, FDI (foreign direct investment) menyumbang 49,5 persen dari total investasi langsung. Penurunan porsi FDI mencerminkan sikap hati-hati investor asing terhadap prospek ekonomi Indonesia,” ujar Asmo. (han/dio)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim