RADAR BOGOR - Untuk memperluas kesempatan kerja yang setara bagi penyandang disabilitas, Sandiaga Uno mendukung pelatihan digital marketing melalui program bertajuk “SI IKLAS: Saatnya Difabel Setara”.
Program pelatihan digital marketing ini bertujuan untuk membekali para difabel dengan keahlian yang relevan di era digital.
Kegiatan pelatihan digital marketing berlangsung selama tiga hari, dimulai pada hari Jumat hingga Minggu, berlokasi di Aula At Taqwa Sriwijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Diinisiasi Yayasan Indonesia Setara (YIS), bekerja sama dengan Kitaoneus.asia dan Refo.
Sebanyak 39 peserta dari berbagai ragam disabilitas, seperti tunanetra, tunagrahita, dan tunarungu, turut ambil bagian dalam pelatihan ini.
Pelatihan ini memberikan ruang inklusif agar peserta dapat belajar sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Sandiaga Uno menyatakan bahwa kemampuan digital marketing sangat penting dalam menciptakan peluang usaha.
Ia yakin dengan keterampilan ini, para difabel bisa membangun kemandirian ekonomi serta membuka jalan sebagai wirausaha digital.
“Kami ingin semua warga negara memiliki akses yang sama untuk sukses. Lewat pelatihan ini, kami berharap muncul pelaku usaha kreatif dari kalangan difabel yang mampu bersaing,” ujar Sandiaga dalam sambutannya.
Program ini juga diluncurkan bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional, menegaskan pentingnya pendidikan yang setara bagi seluruh elemen masyarakat, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus.
Renaldo Adi Wibowo, pendiri Refo, menjelaskan bahwa pelatihan ini tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tapi juga membimbing peserta dalam membangun portofolio digital serta merancang strategi pemasaran produk mereka.
Sementara itu, Maria Ulfah Hilmy, pendiri Kitaoneus.asia, menambahkan bahwa sepuluh peserta terbaik akan diberi kesempatan mengikuti program inkubasi lanjutan, yang akan memfokuskan pada pembentukan usaha mandiri berbasis digital.
Materi pelatihan mencakup pembuatan konten digital, pengelolaan media sosial, dan pemasaran daring yang disesuaikan dengan karakteristik peserta.
Metode pengajarannya dirancang inklusif agar semua peserta dapat mengikuti dengan optimal.
Setelah pelatihan selesai, peserta juga akan memperoleh pendampingan intensif selama satu bulan.
Pendampingan ini bertujuan untuk membantu mereka menerapkan ilmu yang diperoleh secara nyata dalam pengembangan usaha mereka.
Rina, salah satu peserta pelatihan yang merupakan penyandang tunarungu, merasa pelatihan ini sangat membuka wawasan.
Ia kini memiliki kepercayaan diri untuk memasarkan produknya secara mandiri melalui platform digital.
Melalui program SI IKLAS, inisiatif ini diharapkan dapat mendorong daerah lain untuk menyelenggarakan kegiatan serupa, demi memperluas pemberdayaan difabel secara nasional.
Selain memperkuat keterampilan teknis, program ini juga mempertegas pentingnya keberpihakan pada kelompok rentan dalam kebijakan ekonomi dan pendidikan.
Sandiaga berharap gerakan ini menjadi pemicu semangat bagi berbagai komunitas dan instansi untuk lebih serius dalam membuka ruang inklusi. Ia ingin agar para difabel memiliki akses yang sama untuk sukses dan berkembang.
Pelatihan ini menjadi tonggak penting dalam mendorong perubahan sosial menuju masyarakat yang lebih adil dan merata.
Lewat pemberdayaan digital marketing, para difabel kini punya peluang lebih besar untuk menjadi pelaku usaha yang mandiri dan berdaya saing. (***)
Penulis: Sholihatun Nur Khasanah/Magang-Unpak
Editor : Yosep Awaludin