Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Kisah Perjalanan Hody, Produk Tas Lokal Bogor Sukses Tembus Pasar Internasional: Bukan Sekadar Brand, tapi juga Komunitas dan Ruang Tumbuh Perempuan

Fikri Rahmat Utama • Kamis, 8 Mei 2025 | 18:51 WIB
Sejumlah tas-tas milik brand Hody yang tersusun rapi di rak display.
Sejumlah tas-tas milik brand Hody yang tersusun rapi di rak display.

RADAR BOGOR – Bukan sekadar brand tas, Hody lahir dari seorang ibu rumah tangga di Bogor dan tumbuh menjadi ruang pemberdayaan perempuan. Hody kini menjelma jadi merek lokal yang menembus pasar ekspor.

Di sebuah rumah kompleks di kawasan Pasirmulya, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, sejumlah perempuan tampak sibuk merapikan tas-tas yang tersusun rapi di rak display. Di sinilah pusat operasional Hody, brand tas lokal asal Bogor yang kini produknya tidak hanya laris di Indonesia, tetapi juga menembus pasar ekspor ke Malaysia, Brunei, dan Australia. Namun bagi Mira Nur Gandaniati, sang pendiri, Hody lebih dari sekadar brand.

“Hody ini bukan cuma tempat jualan, ini tempat tumbuh, tempat para ibu rumah tangga belajar dapat penghasilan, belajar digital marketing, bahkan belajar percaya diri,” ujar perempuan yang akrab disapa Teh Mira saat ditemui di kantornya, Kamis (8/5/2025).

Kisah Mira merintis usaha dimulai jauh sebelum Hody lahir. Lulusan manajemen IPB ini memulai bisnis dari rumah, menjual jam tangan lewat sistem reseller di platform BBM sejak 2011. Namun, hidup berbalik drastis saat bisnis suaminya bangkrut dan menyisakan utang hingga Rp8 miliar pada 2014. Dari titik inilah Mira dan suami mulai membangun ulang segalanya.

Mereka mendirikan brand tas kulit yang menyasar pasar menengah atas. Namun pandemi Covid-19 kembali memukul bisnis mereka. Mira memutuskan untuk menyederhanakan fokus: memproduksi tas fungsional, dengan harga terjangkau, dan menyasar pasar yang lebih luas.

Tahun 2019, lahirlah Hody. Nama itu diambil dari anak keempat Mira, Hodijah. Tas Hody berbahan sintetis dan dijual dengan harga mulai dari Rp100 ribuan, terjangkau bagi kelas menengah ke bawah. Mira membangun sistem reseller tanpa modal, mengajak ibu-ibu rumah tangga menjual produk Hody lewat katalog dan pre-order.

Lewat kampanye “Recovery Together”, Hody bukan sekadar menawarkan produk, tapi solusi ekonomi keluarga.

“Banyak ibu rumah tangga yang akhirnya bisa bantu keuangan rumah tangga tanpa harus meninggalkan rumah,” jelasnya.

Kini, Hody punya lebih dari 10 ribu reseller tersebar di seluruh Indonesia, sekitar 10 persennya aktif. Meski penjualan sistem reseller mulai menurun pasca-pandemi, Mira tak kehilangan akal. Pada 2023, Hody membuka toko resmi di Shopee dan membentuk tim digital marketing dari nol.

Saat ini Hody perlahan menyesuaikan diri dengan dinamika digital, dari penjualan organik di Shopee, Mira mulai membentuk tim khusus.

Kini, ia mempekerjakan 60 orang, termasuk host live dan advertiser khusus Shopee. Penjualan dari marketplace bahkan menyumbang sekitar 70 persen dari total omzet miliaran rupiah per bulan.

“Hody bisa sampai titik ini karena kami adaptif, dulu cukup upload barang, sekarang harus ngerti fitur live, afiliasi, dekorasi toko. Kalau enggak agile, kita akan tertinggal,” kata Mira.

Namun kekuatan terbesar Hody bukan cuma pada penjualan, Mira membentuk komunitas pelanggan bernama Hodyctiv—forum belajar, berbagi, dan tumbuh bersama. Anggota Hodyctiv dibagi ke dalam level silver, gold, dan platinum. Mereka bisa ikut program afiliasi, mendapatkan komisi, dan mengikuti kelas pengembangan diri sebulan sekali.

Tas Hody dirancang untuk perempuan aktif, dengan memperhatikan fungsi, keamanan, dan kenyamanan. Tasnya bisa dipakai untuk aktivitas harian maupun acara formal.

“Kalau tasnya model handbag, tetap kami kasih tali panjang. Karena kami tahu banyak ibu naik motor atau harus multitasking,” ujar Mira.

Produk Hody memang ditujukan untuk perempuan berusia 25–45 tahun, dominan Gen Z dan milenial. Meski sempat merilis produk laki-laki seperti ikat pinggang dan sandal, fokus utama tetap pada kebutuhan perempuan.

“Hody ini tentang membantu perempuan naik kelas. Bukan cuma soal ekonomi, tapi soal kepercayaan diri. Saya pun dulu mulainya dari rumah, enggak langsung besar. Prosesnya panjang,” tuturnya.

Di tengah maraknya brand yang mengklaim lokal padahal produksinya impor, Mira menegaskan komitmennya. Hody tetap mempertahankan 100 persen produksi lokal.

"Pengrajin kami orang Indonesia, pabriknya di Ciampea,” tegasnya.

Ke depan, Hody akan melakukan peremajaan desain demi menyasar segmen Gen Z yang mulai dominan di pasar digital. Selain itu, Mira ingin memperkuat tim internal agar bisa terus mengikuti perubahan industri yang dinamis.

“Sekarang pilihannya cuma dua: adapt or die. Jadi kami terus belajar dan berbenah,” tutup Mira. (uma)

Editor : Eka Rahmawati
#bogor #hody #tas