RADAR BOGOR - Bank Dunia kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2025 menjadi hanya 2,3 persen.
Laporan terbaru Bank Dunia ini tercantum dalam publikasi tahunan Global Economic Prospects yang dirilis pada awal Juni 2025.
Pemangkasan oleh Bank Dunia ini menjadi sinyal peringatan serius terhadap semakin gelapnya prospek ekonomi dunia dalam beberapa tahun ke depan.
Pemangkasan proyeksi pertumbuhan ini dipicu oleh peningkatan ketegangan perdagangan internasional, terutama akibat kebijakan proteksionisme dan tarif tinggi yang diterapkan Amerika Serikat terhadap berbagai negara mitra dagangnya.
Ketidakpastian kebijakan ekonomi global juga memperburuk iklim investasi, mendorong pelambatan aktivitas produksi dan distribusi barang di banyak negara.
Dampak dari revisi ini dirasakan luas di seluruh dunia. Hampir 70 persen negara mengalami koreksi ke bawah terhadap proyeksi pertumbuhan ekonominya.
Negara-negara besar seperti Amerika Serikat, negara-negara di Zona Euro, Jepang, hingga negara berkembang seperti Meksiko, turut terdampak penurunan ini.
Negara-negara maju mencatatkan prediksi pertumbuhan yang lebih rendah dari rata-rata global.
Amerika Serikat diperkirakan hanya akan tumbuh sebesar 1,4 persen, Zona Euro dan Jepang bahkan lebih rendah yaitu masing-masing 0,7 persen.
Sementara itu, negara berkembang pun tak luput dari tekanan global dengan rata-rata pertumbuhan diperkirakan turun dari 4,1 persen menjadi 3,8 persen.
Laporan yang dirilis pada tanggal 10 hingga 11 Juni 2025 ini menjadi refleksi dari situasi ekonomi dunia yang penuh ketidakpastian.
Kenaikan tajam dalam tarif perdagangan oleh negara-negara besar seperti Amerika Serikat memicu reaksi balasan dari negara-negara lain.
Akibatnya, tarif efektif meningkat drastis hingga menyentuh angka 15 persen yang membebani sektor perdagangan dan konsumsi.
Bank Dunia menyatakan bahwa kebijakan tarif tersebut telah menyebabkan lonjakan biaya impor serta memengaruhi inflasi global yang diperkirakan tetap tinggi, sekitar 2,9 persen.
Selain itu, iklim investasi yang tak menentu juga membuat arus modal ke negara berkembang semakin menurun drastis.
Negara-negara berpenghasilan rendah menjadi yang paling rentan menghadapi dampak dari perlambatan ini.
Sekitar separuh dari 150 negara berkembang yang dipantau oleh Bank Dunia berisiko mengalami kesulitan pembayaran utang publik. Ketika pertumbuhan ekonomi melambat, kemampuan fiskal mereka pun ikut tertekan.
Menurut Kepala Ekonom Bank Dunia, Indermit Gill, ketegangan perdagangan global saat ini telah menciptakan ketidakpastian yang besar, merusak stabilitas ekonomi, dan membatalkan banyak kemajuan dalam pengurangan kemiskinan yang dicapai selama dekade sebelumnya.
Ia juga menekankan bahwa kebijakan semacam ini membawa kemunduran dalam pembangunan global.
Untuk mengatasi perlambatan ini, Bank Dunia merekomendasikan agar negara-negara mengurangi tarif perdagangan hingga separuh dari level Mei 2025.
Jika langkah ini dilakukan, pertumbuhan global diperkirakan bisa meningkat sebesar 0,2 poin persentase dalam periode 2025–2026.
Selain itu, koordinasi kebijakan fiskal dan kerjasama perdagangan antarnegara sangat dibutuhkan demi memulihkan stabilitas ekonomi dunia. (***)
Penulis : Sholihatun Nur Khasanah/Magang-Unpak
Editor : Yosep Awaludin