Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Indonesia Dikenakan Tarif Impor 32 Persen dari Amerika, Eksportir Bogor Menjerit : Minimnya Fasilitasi Pemerintah

Imam Rahmanto • Senin, 14 Juli 2025 | 09:20 WIB
Eksportir asal Bogor Ade Wardhana Adinata. Ia kecewa dengan kebijakan tarif impor 32 persen dari Amerika Serikat.
Eksportir asal Bogor Ade Wardhana Adinata. Ia kecewa dengan kebijakan tarif impor 32 persen dari Amerika Serikat.

RADAR BOGOR - Indonesia dikenai tarif impor 32 persen dari negara Amerika Serikat atas kebijakan dari Presiden Donald Trump. Tingginya tarif ini membuat para pengusaha ekspor di Bogor menjerit.

Salah satunya, eksportir asal Bogor Ade Wardhana Adinata. CEO Minaqu Indonesia ini mengakui, kebijakan tarif impor dari Amerika Serikat telah memberikan tekanan tersendiri bagi para pelaku ekspor di Indonesia.

Ia merasakan langsung dampak dari kebijakan tarif impor ini. Lantaran dampaknya tidak ringan dan sangat berpengaruh terhadap kelangsungan usaha serta kontribusi terhadap neraca perdagangan nasional.

"Yang menyedihkan, semua ini terjadi di tengah minimnya fasilitasi dari pemerintah. Padahal Indonesia memiliki sejarah panjang dan membanggakan dalam dunia diplomasi," tandasnya dalam keterangan resmi, Minggu 13 Juli 2025.

"Kita pernah memiliki diplomat-diplomat ulung yang menjadi tokoh penting dalam perundingan-perundingan bersejarah seperti Perjanjian Renville, Linggarjati, hingga Konferensi Meja Bundar. Mereka bukan hanya negosiator, tetapi juga pejuang bangsa di meja diplomasi internasional," katanya.

"Namun kini, ketika tantangan global kian kompleks, pertanyaannya ke mana arah diplomasi Indonesia di ranah ekonomi global?," cecarnya.

Ia menceritakan, sempat menghadiri pameran internasional di Jerman (IPM) demi memperjuangkan produk dalam negeri berupa sekam bakar hingga produk tersebut bisa diterima pasar Eropa. Semua itu dilakukannya tanpa sokongan negara.

"Pertanyaan saya, apa yang menjadi target kinerja dari para diplomat yang saat ini difasilitasi penuh oleh negara?," imbuhnya lagi.

Ia meminta agar Menteri Luar Negeri Sugioni melakukan evaluasi terhadap para diplomat Indonesia.

Menurut Ade, sudah saatnya mereka seharusnya memiliki Key Performance Indicator (KPI) yang nyata dan terukur dalam konteks diplomasi ekonomi.

"Apakah mereka berhasil membuka akses pasar baru? Meningkatkan ekspor komoditas strategis? Menurunkan hambatan dagang? Menarik investasi langsung? Semua ini seharusnya menjadi bagian dari tolok ukur keberhasilan mereka," tegas lelaki yang juga Ketua DPW Gema Bangsa Jawa Barat ini.

Menurutnya, Indonesia butuh pendekatan diplomasi yang lebih progresif terkait tarif impor, yang tidak hanya fokus pada upacara dan protokol, melainkan benar-benar menjadi ujung tombak peningkatan kesejahteraan bangsa melalui jalur ekonomi global.

Sudah waktunya para diplomat Indonesia berdiri sejajar dengan para pelaku ekspor dan industri nasional, bekerja bersama.

"Dengan tujuan yang sama, yaitu membawa Indonesia menjadi kekuatan ekonomi dunia yang diperhitungkan seperti amanat Pak Presiden Prabowo Subianto," tandas Ade. (mam)

Editor : Yosep Awaludin
#ade wardhana #bogor #tarif impor