Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Lewat Telepon 17 Menit, Presiden Prabowo Subianto dan Donald Trump Sepakati Penurunan Tarif Ini Loh

Gabriel Anderson Nainggolan • Kamis, 17 Juli 2025 | 20:12 WIB
Presiden Prabowo Subianto.
Presiden Prabowo Subianto.

RADAR BOGOR – Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump sepakati sebuah kebijakan perdagangan bilateral, salah satunya mengenai penurunan tarif impor.

Tarif impor AS terhadap produk Indonesia yang sebelumnya mencapai 32% akhirnya diturunkan menjadi 19%, atas kesepakatan Prabowo Subianto dan Donald Trump tersebut.

Langkah yang diambil Prabowo Subianto dan Donald Trump, menandai momen penting dalam diplomasi ekonomi Indonesia yang baru, sekaligus menunjukkan bagaimana pendekatan personal bisa membuka jalan dalam negosiasi dagang tingkat tinggi.

Penurunan tarif ini bukan terjadi begitu saja.

Sebelumnya, hubungan dagang Indonesia dan Amerika sempat menegang ketika pemerintahan AS mengeluarkan kebijakan tarif tinggi atas sejumlah produk Indonesia, dengan dalih ketidakseimbangan neraca perdagangan.

Indonesia, yang pada 2024 mencatat surplus hampir USD 18 miliar dengan AS, dianggap terlalu protektif terhadap sektor dalam negerinya.

Dalam sebuah panggilan telepon singkat tapi strategis, kedua pemimpin berdiskusi intens mengenai masa depan perdagangan kedua negara.

Hasilnya, AS sepakat memangkas tarif menjadi 19%, dan membuka ruang dialog lanjutan untuk penurunan lebih lanjut di masa depan.

Langkah ini tidak berdiri sendiri. Sebagai bagian dari kesepakatan, Indonesia berkomitmen membeli sejumlah besar produk AS: USD 15 miliar energi, USD 4,5 miliar produk pertanian, dan 50 unit pesawat Boeing.

Strategi ini mencerminkan pendekatan win-win, di mana kedua negara mendapat keuntungan dimana Amerika mendapatkan pasar sedangkan Indonesia mendapat akses dengan tarif lebih rendah.

Di dalam negeri, langkah ini dipuji sebagai manuver diplomasi yang berani dan efektif. Pemerintah menyatakan, kesepakatan ini bukan hanya soal angka tarif, tapi sinyal bahwa Indonesia tidak bisa diperlakukan sebagai mitra dagang kelas dua.

Di tempat berbeda, Ketua Banggar DPR RI Said Abdullah ikut memberikan komentarnya.

Kata dia, langkah Presiden tersebut, menjadi bukti bahwa negara bisa bersuara dana tatanan global.

Namun demikian, tidak semua pihak memandang positif. Dengan diterapkannya tarif 19% masih tinggi, dan beban komitmen impor Indonesia bisa berdampak pada keseimbangan industri dalam negeri.

Ada kekhawatiran bahwa strategi "barter diplomasi" semacam ini bisa menciptakan ketergantungan baru.

Kendati demikian, pemerintah menegaskan bahwa ini baru tahap awal. Presiden Prabowo sendiri menyebut kesepakatan ini sebagai “langkah pembuka” untuk negosiasi jangka panjang menuju tarif nol persen.

Dalam pernyataannya, ia menekankan pentingnya dialog yang terbuka, setara, dan berbasis saling menghormati dalam hubungan antarnegara.

Penurunan tarif dari 32% menjadi 19% bukan hanya kabar baik bagi eksportir Indonesia, tapi juga cermin dari kekuatan diplomasi yang matang dan berani.

Di tengah dunia yang makin proteksionis, Indonesia menunjukkan bahwa diplomasi personal dan strategi dialog langsung tetap relevan dan efektif.

 

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
#tarif #prabowo subianto #donald trump