RADAR BOGOR – Fenomena sepinya pusat perbelanjaan atau mall menjadi sorotan akhir-akhir ini khususnya di Kota Bogor.
Terlebih di Kota Bogor sudah ada sejumlah pusat perbelanjaan yang tutup ataupun berganti kepemilikan akibat sepinya pembeli.
Pengamat ekonomi, Towaf Totok Irawan menjelaskan, selama pandemi Covid-19, konsumen beradaptasi dengan pola belanja baru secara virtual dan perubahan ini berlangsung lebih dari dua tahun dan membentuk kebiasaan baru di masyarakat.
“Konsumen terbiasa belanja tidak secara fisik, tapi virtual dan ini berlangsung lama sehingga terbentuk pola baru,” ujar Towaf, Senin, 21 Juli 2025.
Kebiasaan belanja online yang terbentuk saat pandemi membuat kunjungan ke mall terus menurun akibatnya, banyak tenant memilih tutup karena penjualan daring dinilai lebih efisien, murah, dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pakuan (UNPAK) ini menilai hal itu yang menciptakan tekanan besar bagi pengelola mall dalam melakukan pemulihan bisnis.
“Ke depan, akan makin banyak mall yang tutup jika tidak segera beradaptasi,” ungkapnya.
Maka dari itu pengelola mall harus segera berinovasi, tidak cukup hanya menjual produk-produk fisik, mall juga perlu menawarkan layanan dan pengalaman baru yang menarik minat masyarakat.
“Mall harus menjadi tempat rekreasi, tempat hiburan yang memberi pengalaman baru, bukan sekadar tempat belanja,” jelasnya.
Apalagi sekarang masyarakat sangat sensitif terhadap harga, sementara daya beli kelas menengah sedang dalam tekanan.
Ia menambahkan, selain perubahan teknologi dan pola konsumsi, kondisi ekonomi yang belum stabil juga turut memperparah keadaan.
“Ya betul, kondisi ekonomi yang belum stabil juga sangat memengaruhi daya beli masyarakat,” tutup Towaf. (uma)
Editor : Eka Rahmawati