Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Perputaran Uang Berpotensi Kembali ke Level Prapandemi, Pengamat Ungkap Defisit APBN Harus Dijaga 3 Persen Dikala Optimalisasi SAL

Lucky Lukman Nul Hakim • Sabtu, 13 September 2025 | 04:40 WIB
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.

RADAR BOGOR - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mendorong pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 6 persen.

Dengan catatan, apabila kebijakan moneter dan fiskal selaras.

Namun, defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tetap dikelola secara prudent dengan dijaga tetap 3 persen terhadap PDB (produk domestik bruto).

Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menyatakan, optimalisasi Saldo Anggaran Lebih (SAL) sekitar Rp 200 triliun di Bank Indonesia (BI) mendukung likuiditas perbankan.

Dana itu menambah sekitar 2 persen dari posisi dana pihak ketiga (DPK) saat ini sekitar Rp 9.294 triliun.

“Sehingga berpotensi mendorong pertumbuhan DPK menuju sekitar 10 persen YoY (year on year) dan mengangkat pertumbuhan kredit di atas 7,03 persen YoY,” katanya, Jumat 12 September 2025.

Dengan demikian, lanjut pria yang akrab di sapa Asmo, likuiditas diperkirakan membaik.

Peningkatan dana di perbankan akan menurunkan suku bunga pasar uang antarbank (IndONIA) dan spread pasar uang antar bank (PUAB). Sekaligus meningkatkan volume transaksi pasar uang.

Asmo memandang, peluang pertumbuhan ekonomi lebih tinggi terbuka.

Dengan likuiditas yang meningkat, transmisi kebijakan moneter menjadi lebih efektif.

“Kecepatan perputaran uang (velocity of money) juga berpotensi kembali ke level prapandemi. Di atas 2,5 yang terakhir kali tercatat di 2019," ungkap alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu.

Tantangan Berbeda

Dari sisi penerimaan, pemerintah meyakini akselerasi uang dasar dan peningkatan perputaran uang di sektor privat akan mengangkat penerimaan pajak.

“Namun tantangannya, dibandingkan pra maupun pascapandemi yakni di 2019 dan 2022, lanskap ekonomi 2025 berbeda. Prospek penurunan ekspor dan terbatasnya capital inflow akibat dampak kebijakan tarif menjadi tantangan utama saat ini dalam mendorong pertumbuhan uang dan likuiditas,” bebernya.

Yang jelas, Asmo menekankan agar defisit APBN tetap dikelola secara prudent. "Dijaga di bawah 3 persen terhadap PDB (produk domestik bruto)," tandasnya.

Optimalkan Pembiayaan

Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) menyambut positif rencana pemerintah menarik dana excess reserve (cadangan berlebih) sebesar Rp 200 triliun untuk ditempatkan pada perbankan nasional.

Langkah itu akan menjadi stimulus pendorong pertumbuhan ekonomi melalui penguatan likuiditas dan penyaluran kredit ke sektor riil.

Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo menjelaskan, langkah strategis itu dapat memberikan tambahan ruang likuiditas bagi perbankan.

Yang diharapkan mampu mengoptimalkan penyaluran pembiayaan kepada sektor-sektor produktif yang menjadi prioritas.

“Penempatan dana di perbankan akan menambah ruang likuiditas dan menjadi stimulus positif dalam mendukung pembiayaan di sektor riil,” ujar Okki.

Menurut Okki, perlu kejelasan sejumlah aspek kunci. Mencakup skema penempatan dana, tata kelola, jangka waktu, mitigasi risiko, serta prioritas penyaluran kepada sektor-sektor tertentu.

“Dengan likuiditas yang lebih kuat, bank diharapkan dapat lebih agresif dalam mendanai proyek-proyek strategis yang mendorong pertumbuhan ekonomi,” terangnya. (han/dio)

Lima Bank Milik Negara Yang Dapat Kucuran SAL

Bank Mandiri Rp 55 triliun

BRI Rp 55 triliun

BNI Rp 55 triliun

BTN Rp 25 triliun

BSI Rp 10 triliun

Total Rp 200 triliun

Sumber: Kemenkeu

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
#apbn #Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa #bri #bank mandiri #btn #bni