Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Batik Irwanda, Karya Perajin Kota Bogor yang Sempat Dipamerkan di Negeri Sakura

Muhamad Rifki Fauzan • Jumat, 3 Oktober 2025 | 06:05 WIB
Chindy Puspita Millasari Founder Batik Bogor Irwanda tengah memamerkan karyanya di Festival Batik Mal Botani Square.
Chindy Puspita Millasari Founder Batik Bogor Irwanda tengah memamerkan karyanya di Festival Batik Mal Botani Square.

RADAR BOGOR – Lembaran kain batik asal Kota Bogor sempat berkibar di Negeri Sakura. Pada September lalu, karya Batik Irwanda tampil dalam pameran di Jepang.

Kehadiran batik dari kota hujan itu membuat Chindy Puspita Millasari merasa bangga sekaligus terharu dan baginya, kesempatan tersebut menjadi bukti bahwa karya lokal bisa dikenal lebih luas.

“Meski belum ekspor, kain kami sudah pernah dipakai di Jepang, itu jadi pengalaman yang sangat berkesan,” kata Chindy, founder Batik Bogor Irwanda.

Chindy merupakan generasi kedua dari usaha batik yang dirintis ibunya sejak 2019 di Kampung Batik Cibuluh. Saban hari, jemari lentiknya terus bergerak, seolah menulis kisah di lembaran kosong.

Keputusannya terjun ke dunia batik berawal dari dorongan melihat potensi besar yang dimiliki sang ibu. Sebelumnya, ia bekerja kantoran hingga akhirnya memilih resign demi mendukung usaha keluarga.

“Saya ingin mengembangkan marketing dan media sosial, sekaligus menyalurkan hobi menggambar, rasanya menyenangkan saat karya yang kita buat dipakai orang,” ungkapnya.

Proses produksi di Batik Irwanda masih dikerjakan tim kecil, dalam seminggu, mereka mampu menyelesaikan sekitar 10 kain. Kain itu kemudian diolah menjadi berbagai produk mulai dari baju formal, dompet, tote bag, hingga obi belt.

Ada dua teknik yang digunakan, yaitu batik tulis dan batik cap. Batik tulis dikerjakan lebih lama, satu hingga dua bulan, sementara batik cap lebih cepat dengan bantuan alat tembaga.

“Harga batik tulis berkisar Rp300 ribu sampai Rp1 juta, kalau batik cap sekitar Rp185 ribu sampai Rp225 ribu,” jelas Chindy.

Pasar Batik Irwanda terbagi, anak muda di bawah 25 tahun lebih banyak membeli aksesoris atau souvenir, sedangkan konsumen usia 35 tahun ke atas cenderung mencari baju formal untuk acara penting.

“Omzet kami sekitar Rp2 sampai Rp3 juta per bulan. Masih merintis, tapi alhamdulillah terus berkembang,” ucapnya.

Motif khas Batik Irwanda terinspirasi dari kekayaan Bogor, seperti Uncal, Talas Kembangan, dan Karagaman Bogor. Setiap motif hadir dengan detail yang merekam jejak budaya dan alam tanah Pajajaran.

“Motif khas ini jadi identitas kami, tapi tetap ada motif lain yang lebih umum sesuai selera konsumen,” tuturnya.

Meski awalnya ingin fokus di pemasaran, kini Chindy ikut terjun langsung dalam proses membatik dan belajar bersama tim, mulai dari mencanting hingga memberi warna pada kain.

“Kalau tidak ikut turun tangan, rasanya ada yang kurang. Saya ingin benar-benar memahami batik, bukan hanya menjualnya,” ujarnya.

Bagi Chindy, melanjutkan usaha batik bukan hanya perkara bisnis, lebih dari itu, ia merasa sedang menjaga warisan budaya yang tidak lekang oleh zaman.

“Batik itu hidup, setiap helai kain membawa cerita, selama ada yang memakai, maka cerita itu akan terus berlanjut,” pungkasnya. (rp1)

Editor : Eka Rahmawati
#kota bogor #Batik Irwanda