Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Kembangkan Tekstil yang Ramah Lingkungan, UMKM Qaniacraft Ecoprint Ini Terus Berkembang Bersama BRI

Yosep Awaludin • Jumat, 7 November 2025 | 12:34 WIB
Qaniacraft Ecoprint, UMKM milik Aminah Tri Astuti berhasil berkembang berkat BRI. 
Qaniacraft Ecoprint, UMKM milik Aminah Tri Astuti berhasil berkembang berkat BRI. 

RADAR BOGOR—Qaniacraft Ecoprint, bisnis milik Aminah Tri Astuti di Kranggan Permai, Bekasi, adalah salah satu dari banyak usaha UMKM yang mengembangkan tekstil yang ramah lingkungan.

Pemilik UMKM Qaniacraft Ecoprint, Aminah Tri Astuti, membuat kain dengan motif alami yang dibuat menggunakan pewarna nabati dan dedaunan, mengadvokasi konsep mode yang ramah lingkungan.

Sangat menarik bahwa UMKM ini berawal dari hal yang sederhana. Amy mengenal ecoprint secara tidak sengaja saat membantu anaknya mengerjakan tugas sekolah mereka.

"Anak saya waktu itu dapat tugas membuat shibori. Saat mencari referensi di internet, saya justru menemukan teknik ecoprint. Dari situ saya coba sendiri di rumah, meski percobaan pertama gagal karena saya salah pakai alat," kata Aminah.

Itu karena kegagalan itu membuatnya semakin tertarik. Ia menghabiskan waktu di rumah selama pandemi untuk mempelajari teknik ecoprint lebih lanjut melalui workshop online dan komunitas pengrajin sesama.

Sekarang, Qaniacraft membuat berbagai jenis pakaian, termasuk pashmina, outerwear, dan vest, hingga pakaian kontemporer.

Produk yang terbuat dari kain alami ini dibuat secara manual dan membutuhkan waktu dan ketelatenan yang tinggi.

Qaniacraft Ecoprint menggunakan teknik pewarnaan alami yang dilakukan secara manual selama proses pembuatan.

Aminah mengatakan bahwa ecoprint menggunakan beberapa teknik, seperti memukul (dipukul) dan kukus (dikukus).

Teknik Qaniacraft membutuhkan waktu yang cukup lama—mungkin hingga dua hingga tiga minggu.

Prosesnya dimulai dengan kain putih yang dibersihkan untuk menghilangkan sisa minyak pabrik melalui tahap scouring.

Setelah itu, kain masuk ke tahap mordan, di mana kain disiapkan untuk menyerap warna alami dengan baik.

"Saya banyak belajar dari komunitas selama pandemi. Setelah situasi membaik, kami mulai belajar tatap muka dan ikut berbagai pelatihan, termasuk bisnis dan desain motif. Karena pandemi, saya banyak waktu di rumah untuk eksplorasi," tuturnya.

Aminah memiliki pengalaman butik sebelumnya dan mulai mengembangkan Qaniacraft menjadi bisnis yang lebih fokus. Dia juga aktif mengikuti pameran dan peragaan busana bersama rekan-rekannya.

Aminah tidak hanya mengembangkan usahanya tetapi juga membentuk komunitas Bekasi Ecoprint Club, yang kini terdiri dari 13 merek ecoprint yang saling belajar dan berkembang.

“Kami sering mengadakan kegiatan seperti ecopounding, fashion show di mal, dan pameran bersama. Melalui komunitas, kami bisa saling tukar pengalaman, belajar teknik baru, dan memperluas jaringan,” katanya.

Aminah percaya bahwa Qaniacraft bukan hanya bisnis; itu juga tentang berbagi pengetahuan dan mengembangkan potensi kreatif bersama pelaku UMKM lainnya.

Pada pertengahan 2025, Aminah bergabung dengan Rumah BUMN BRI Jakarta dan mengikuti program pelatihan dan inkubasi bisnis selama tiga bulan dengan fokus pada pemasaran dan digitalisasi bisnis.

Aminah memiliki kesempatan untuk mempelajari bisnis lebih jauh, terutama pemasaran dan pengembangan produk, melalui program BRIncubator.

“Selama tiga bulan, saya mengikuti pelatihan intensif yang berfokus pada strategi marketing. Banyak hal baru yang saya pelajari, mulai dari menentukan target pasar hingga membuat promosi yang efektif,” katanya.

Aminah mengatakan bahwa dia merasakan dampak nyata terhadap pertumbuhan bisnisnya selama mengikuti berbagai program pembinaan di Rumah BUMN BRI.

Pembinaan BRI ini sangat bermanfaat. Banyak ilmu baru, wawasan, dan insight yang tidak saya ketahui sebelumnya.

"Harapan saya adalah pendampingan ini terus berlanjut dan semakin intensif sehingga benar-benar membantu para pelaku UMKM," ungkapnya.

Pada kesempatan lain, Dhanny, Sekretaris Umum BRI, mengatakan BRIncubator adalah program pelatihan dan pendampingan untuk UMKM yang membangun rumah BUMN yang telah melalui proses kurasi.

Untuk mempersiapkan pelaku usaha untuk memasuki pasar ekspor, program ini berfokus pada meningkatkan kapasitas dan kapabilitas mereka.

Dengan memanfaatkan pendekatan pelatihan yang terarah dan sistematis serta pendampingan yang berkelanjutan, BRIncubator menjadi wujud nyata komitmen BRI untuk membantu UMKM berkembang dan naik kelas.

Hingga saat ini, terdapat 54 Rumah BUMN BRI yang tersebar di seluruh Indonesia dan telah mengadakan 17 ribu pelatihan.

Menurutnya, UMKM didorong untuk meningkatkan daya saing dan menghasilkan nilai tambah di pasar melalui peningkatan literasi, digitalisasi, dan kemudahan akses. (***)

Imbauan waspada potensi bencana hidrometeorologi di wilayah Sulawesi Utara
Imbauan waspada potensi bencana hidrometeorologi di wilayah Sulawesi Utara
Editor : Yosep Awaludin
#umkm #bri #Qaniacraft Ecoprint