Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Industri Sawit Nasional Kian Tangguh, GAPKI Fokus Perkuat Tata Kelola, Perdagangan Global dan Biofuel

Lucky Lukman Nul Hakim • Kamis, 13 November 2025 | 13:47 WIB
Ketua GAPKI Eddy Martono saat membuka IPOC 2025.
Ketua GAPKI Eddy Martono saat membuka IPOC 2025.

RADAR BOGOR - Industri sawit Indonesia menunjukkan performa mengesankan di tengah dinamika global yang semakin kompleks.

Di saat perdagangan dunia berubah cepat dan tuntutan tata kelola semakin ketat, sektor sawit nasional justru memperlihatkan tren positif dan kesiapan menghadapi tantangan masa depan.

Dalam pembukaan 21st Indonesia Palm Oil Conference (IPOC) di Bali, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, menyampaikan bahwa GAPKI telah menyiapkan langkah konkret untuk memperkuat daya saing industri sawit nasional.

Ia menilai forum tahunan IPOC menjadi ruang strategis untuk merumuskan arah kebijakan dan membaca prospek sawit global di masa mendatang.

Produksi dan Ekspor Sawit Naik Signifikan

Sepanjang Januari hingga September 2025, produksi sawit nasional mencapai 43 juta ton, meningkat 11 persen dibanding tahun sebelumnya.

Kinerja ekspor juga menunjukkan pertumbuhan positif, dengan total volume lebih dari 25 juta ton, naik 13,4 persen dan menyumbang devisa sekitar 27,3 miliar dolar AS, atau 40 persen lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, konsumsi domestik juga tetap solid di angka 18,5 juta ton, naik dari 17,6 juta ton pada tahun sebelumnya.

Eddy menilai capaian ini menjadi sinyal penting bahwa industri sawit memerlukan strategi baru agar dapat tumbuh berkelanjutan dan tetap kompetitif.

Strategi GAPKI: Perdagangan Global, Tata Kelola, dan Biofuel

GAPKI menyoroti tiga fokus utama untuk memperkuat industri sawit nasional, yakni perdagangan global, tata kelola berkelanjutan, dan pengembangan biofuel.

Pada aspek perdagangan, Eddy menilai peluang pertumbuhan sawit Indonesia masih sangat terbuka, terutama melalui kerja sama Indonesia–EU CEPA yang dapat memperluas akses pasar ke Eropa.

Namun demikian, regulasi EU Deforestation Regulation (EUDR) disebut menjadi tantangan besar karena berpotensi memengaruhi penerimaan produk sawit Indonesia.

Eddy menegaskan bahwa isu-isu keliru terkait sawit Indonesia perlu diluruskan dengan data yang akurat, serta perlu penerapan standar keberlanjutan yang lebih baik agar industri tetap diterima secara global.

ISPO Jadi Standar Emas

Tata kelola menjadi fokus kedua yang diperkuat GAPKI. Eddy menilai sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) harus menjadi “standar emas global” yang mencerminkan komitmen industri terhadap prinsip keberlanjutan, bukan sekadar simbol administratif.

Menurutnya, keberlanjutan merupakan komitmen nyata GAPKI untuk menjaga kepercayaan dunia terhadap produk sawit Indonesia.

Biofuel Dorong Stabilitas Domestik

Kebijakan energi terbarukan juga menjadi perhatian utama.

Eddy mengapresiasi langkah pemerintah dalam memperkuat mandat B35 dan B40, yang dinilai berhasil menciptakan permintaan domestik yang stabil sekaligus membantu menekan emisi nasional.

Ia menilai sinergi antara pemerintah dan pelaku industri menjadi kunci agar kebijakan energi berbasis sawit terus berkembang.

Kepastian regulasi dianggap penting untuk mendorong iklim usaha yang sehat dan tangguh menghadapi perubahan global.

Petani dan Generasi Muda Jadi Pilar Masa Depan

Selain memperkuat struktur industri, GAPKI juga memastikan bahwa petani kecil ikut merasakan manfaat dari kemajuan sawit nasional.

Tahun ini, Koperasi pekebun dari Kutai Timur, Kalimantan Timur, berhasil menjadi pemenang lomba produktivitas dengan capaian 37,4 ton TBS, meningkat 9 persen dari tahun sebelumnya.

GAPKI juga memberi ruang bagi generasi muda untuk berinovasi.

Melalui Hackathon Minyak Sawit Nasional 2025, ratusan mahasiswa berkompetisi menciptakan solusi digital bagi industri.

Juara tahun ini adalah Tim BiFlow dari ITS Surabaya dengan proyek RAPIDS, yang memanfaatkan teknologi pembelajaran mesin dan radar non-invasif untuk mendeteksi dini penyakit Ganoderma Boninense pada kelapa sawit.

Inovasi Penyerbukan Sawit dan Kolaborasi Global

GAPKI juga memperkenalkan Konsorsium Elaeidobius, kolaborasi antara organisasi, lembaga riset, dan pemerintah untuk memperkuat sistem penyerbukan alami kelapa sawit.

Program ini menggandeng Tanzania Agricultural Research Institute dengan fokus pada introduksi tiga spesies serangga penyerbuk Elaeidobius yang diyakini mampu meningkatkan produktivitas kebun di masa depan.

Sinergi Jadi Kunci

Eddy menekankan bahwa pertumbuhan industri sawit hanya dapat dicapai jika seluruh elemen mulai dari pemerintah, pelaku industri, petani, hingga generasi muda bekerja secara harmonis dalam satu ekosistem kebijakan yang solid.

Langkah-langkah tersebut, kata Eddy, menjadi modal kuat untuk membawa industri sawit Indonesia menuju masa depan yang tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan. (*)

Editor : Lucky Lukman Nul Hakim
#sawit #ispo #Eddy Martono #gapki #industri sawit Indonesia #biofuel