RADAR BOGOR - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menjadi sorotan pada perdagangan Rabu, 28 Januari 2026.
Alih-alih mendekati level psikologis 9.000, indeks justru tertekan tajam hingga membuat Bursa Efek Indonesia (BEI) sempat menghentikan sementara aktivitas perdagangan di tengah sesi.
Data RTI Business menunjukkan IHSG ditutup melemah 7,35 persen ke posisi 8.320,55.
Tekanan jual yang masif bahkan memaksa BEI menerapkan trading halt selama 30 menit setelah indeks sempat terkoreksi hingga 8 persen pada sesi kedua.
Menanggapi melesetnya proyeksi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang sebelumnya optimistis IHSG berpotensi menembus level 10.000, Direktur Utama BEI Iman Rachman memilih tidak memberikan komentar panjang saat di gedung BEI, Rabu (28/1/2026).
Ia menyampaikan, pihaknya hanya bisa mendoakan agar target tersebut tercapai serta menyarankan awak media untuk meminta penjelasan langsung kepada sang menteri.
"Silakan teman-teman menghubungi pak Purbaya (Menteri Keuangan)," ucap Iman.
Iman kemudian memaparkan bahwa pelemahan tajam pasar saham kali ini dipicu oleh aksi panic selling investor setelah pengumuman dari MSCI.
Ia menjelaskan, lembaga tersebut melakukan perubahan metodologi perhitungan free float serta memutuskan untuk membekukan proses rebalancing saham Indonesia pada Februari hingga Mei mendatang.
Menurutnya, keputusan tersebut membuat tidak ada penambahan maupun pengurangan emiten Indonesia dalam indeks MSCI selama periode pembekuan berlangsung.
Selain itu, Iman mengungkapkan bahwa MSCI juga mempertimbangkan penurunan status pasar modal Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Frontier Market apabila Bursa Efek Indonesia tidak mampu melakukan perbaikan hingga batas waktu yang ditentukan pada Mei 2026.
Ia menambahkan bahwa apabila penurunan status itu terjadi, posisi Indonesia akan sejajar dengan negara seperti Vietnam dan Filipina, berbeda dengan saat ini yang masih setara dengan Malaysia dalam kelompok Emerging Market.
Sebagai catatan, sebelumnya Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sempat memproyeksikan IHSG berpeluang menyentuh level 10.000 pada 2026.
Optimisme tersebut didasari oleh keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional tahun ini akan lebih kuat dibandingkan periode sebelumnya.
Ia kala itu menilai pelaku pasar perlu bersiap karena pencapaian IHSG di angka 10.000 bukanlah sesuatu yang mustahil, mengingat prospek ekonomi yang dinilai semakin solid. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim