Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Harga Emas Bergejolak Tajam, Ini Saran Pengamat Ekonomi untuk Masyarakat

Fikri Rahmat Utama • Minggu, 1 Februari 2026 | 17:59 WIB
Ilustrasi: Transaksi emas Antam di butik Antam Kota Bogor.
Ilustrasi: Transaksi emas Antam di butik Antam Kota Bogor.

RADAR BOGOR – Pergerakan harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dalam sepekan terakhir menunjukkan volatilitas tinggi. Setelah sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, harga logam mulia justru terkoreksi tajam dalam waktu singkat, sehingga memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat.

Pada Minggu, 1 Februari 2026 harga emas Antam tercatat sebesar Rp2.860.000 per gram sedangkan harga buyback berada di level Rp2.650.000 per gram.

Angka tersebut menurun signifikan dibandingkan posisi tertingginya yang sempat menyentuh Rp3.168.000 per gram pada Kamis, 29 Januari 2026  sebelum turun ke Rp3.120.000 per gram sehari kemudian dan kembali merosot tajam pada Sabtu 31 FebruJanuari 2026  hingga Rp260.000 per gram.

Kondisi ini turut dirasakan pelaku usaha emas di daerah, salah seorang penjual emas di Kota Bogor, Winarsih, mengungkapkan bahwa penurunan harga yang terjadi kali ini tergolong tidak biasa.

“Biasanya naik turunnya tidak sampai sebesar ini, kemarin turun Rp50 ribu, hari ini parah sampai Rp260 ribu,” ujarnya kepada Radar Bogor Sabtu, 31 Januari 2026.

Ia menambahkan, koreksi tajam tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas transaksi. Sejumlah konsumen yang sebelumnya berniat menjual emas memilih menunda keputusan dan menunggu harga kembali naik.

“Yang mau jual jadi pending, kalau saya pribadi, ini merugikan karena yang mau jual jadi tidak jadi jual,” katanya.

Menanggapi fenomena tersebut, Pengamat Ekonomi Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor, Prof Dr Renea Shinta Aminda, menjelaskan lonjakan harga emas yang diikuti penurunan tajam dalam waktu singkat merupakan dinamika yang lazim terjadi di pasar keuangan.

Menurutnya, emas sebagai aset lindung nilai atau safe haven cenderung mengalami peningkatan permintaan saat ketidakpastian global meningkat, baik akibat risiko geopolitik, tekanan inflasi, maupun ketidakpastian kebijakan moneter global. Namun, kenaikan yang terlalu cepat kerap diikuti oleh koreksi tajam.

“Penurunan harga emas secara tiba-tiba sebagian besar dipengaruhi oleh aksi ambil untung atau profit taking oleh investor setelah harga mencapai level tertinggi baru,” jelasnya.

Selain itu, penguatan dolar Amerika Serikat serta perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter global juga turut menekan harga emas. Ketika dolar menguat atau imbal hasil aset keuangan lain seperti obligasi meningkat, investor cenderung mengalihkan portofolio dari emas ke instrumen yang menawarkan return lebih tinggi.

Prof Renea menegaskan fluktuasi harga emas saat ini tidak dapat dipandang sebagai anomali, melainkan sebagai proses penyesuaian pasar terhadap perubahan informasi dan sentimen ekonomi global. Volatilitas emas biasanya meningkat pada periode transisi kebijakan moneter dan perubahan risiko global.

Meski demikian, ia mengimbau masyarakat agar tetap bijak dalam menyikapi pergerakan harga emas. Menurutnya, emas paling cocok dijadikan instrumen investasi jangka menengah hingga panjang, bukan untuk spekulasi jangka pendek.

“Masyarakat perlu menentukan tujuan investasi dan jangka waktunya, gunakan dana dingin atau dana yang tidak akan digunakan dalam satu hingga dua tahun ke depan, karena harga emas saat ini sangat volatil,” ujarnya.

Ia juga menyarankan masyarakat untuk membeli emas secara bijak saat harga mengalami penurunan, dengan fokus pada jumlah gramasi, bukan sekadar mengejar pergerakan harga. Bagi investor pemula, alternatif yang relatif aman adalah melalui tabungan emas digital di Pegadaian, perbankan, atau platform resmi lainnya.

Dengan kondisi pasar yang masih bergejolak, masyarakat diimbau untuk tidak panik dan tetap mempertimbangkan aspek fundamental sebelum mengambil keputusan jual maupun beli emas.(uma)

Editor : Eka Rahmawati
#antam #harga emas #pengamat ekonomi