RADAR BOGOR - PT Putra Perkasa Genetika (PPG) menyatakan, optimisme mampu memenuhi kebutuhan bibit ayam nasional dalam negeri dalam waktu 2 tahun ke depan.
Asalkan, perusahaan yang ada di Kecamatan Gunungsindur, Kabupaten Bogor ini memperoleh dukungan kebijakan dari pemerintah terkait pembukaan ruang produksi secara bertahap hingga pembatasan impor.
Direktur Utama PT Putra Perkasa Genetika, Renaldy Anggada mengungkapkan, kebutuhan Grand Parent (GP) ayam broiler di Indonesia saat ini mencapai sekitar 800 ribu ekor per tahun.
Ia menjelaskan, satu ekor GP mampu menghasilkan sekitar 56 ekor parent stock, yang kemudian kembali berkembang hingga 150 kali lipat.
Dari perhitungan tersebut, satu GP disebut dapat berkontribusi pada produksi hingga sekitar 8.736 ekor turunan, yang jika dikalikan dengan total kebutuhan nasional berpotensi mencapai sekitar 6 miliar ekor ayam.
Menurut Renaldy, secara kapasitas perusahaan siap memenuhi angka tersebut dalam kurun waktu 2 tahun apabila diberikan kesempatan untuk melakukan pengembangan populasi secara masif.
Namun demikian, ia menekankan, langkah tersebut memerlukan persetujuan dan dukungan pemerintah.
Renaldy menyebutkan, perusahaan berharap pemerintah memberikan lampu hijau untuk mengisi sebagian kuota secara bertahap, bukan secara penuh sejak awal.
Ia menegaskan, PT Putra Perkasa Genetika siap bersaing secara terbuka dengan produk impor, baik dari sisi kualitas maupun produktivitas.
Bahkan, Renaldy mengklaim, saat ini sudah banyak peternak dalam negeri yang mulai memilih bibit produksi PT Putra Perkasa Genetika dibandingkan bibit impor.
Meski begitu, ia menyayangkan, keterbatasan ruang yang selama ini diberikan pemerintah kepada produsen lokal, sehingga potensi substitusi impor belum dapat dimaksimalkan.
"Pemerintah beri kami ruang," ungkap Renaldy Anggada kepada Radar Bogor, Jumat (6/2/2026).
Renaldy menegaskan, pendekatan bertahap menjadi pilihan agar industri nasional tetap stabil, sembari membangun kepercayaan pasar terhadap kualitas bibit ayam hasil pengembangan dalam negeri. (*)
Editor : Lucky Lukman Nul Hakim