Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Hadapi Ketidakpastian Ekonomi Global, Berikut Strategi Perbankan Ketum Perbanas Hery Gunardi

Eka Rahmawati • Sabtu, 7 Maret 2026 | 09:43 WIB

 

Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Hery Gunardi hadir dalam forum CFO PERBANAS di Jakarta Jumat, 6 Maret 2026.
Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) Hery Gunardi hadir dalam forum CFO PERBANAS di Jakarta Jumat, 6 Maret 2026.

RADAR BOGOR - Di tengah kondisi perekonomian global yang terus berubah dan semakin kompleks, sektor perbankan Indonesia dinilai masih memiliki daya tahan yang kuat. Meski demikian, pelaku industri tetap perlu menyiapkan berbagai langkah antisipatif guna menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) yang juga menjabat sebagai Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI) Hery Gunardi, dalam forum CFO PERBANAS bertajuk “Driving Acceleration with Accountability” yang digelar di Jakarta pada Jumat, 6 Maret 2026.

Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Deputi Komisioner Pengaturan, Perizinan, dan Pengendalian Kualitas di Otoritas Jasa Keuangan, Deden Firman Hendarsyah, Ketua Dewan Kehormatan Perbanas Agus Martowardojo, serta Ketua Badan Pengawas PERBANAS Kartika Wirjoatmodjo.

Baca Juga: BRI Dukung Jurnalisme Berkualitas, Gandeng Pemimpin Redaksi Media Buka Puasa Bersama dan Rajut Kebersamaan di Bulan Ramadhan

Dalam pemaparannya, Hery menyampaikan bahwa hingga awal 2026, kondisi fundamental industri perbankan nasional masih tergolong kuat. Hal tersebut terlihat dari pertumbuhan kredit pada Januari 2026 yang mencapai 9,96 persen secara tahunan (year-on-year). Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada 2025 yang berada di kisaran 9,63 persen.

Pada periode yang sama, Dana Pihak Ketiga (DPK) tercatat meningkat sebesar 10,8 persen secara tahunan. Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) tetap terjaga di level sekitar 2,14 persen. Dari sisi permodalan, ketahanan industri juga masih solid dengan rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) yang berada di kisaran 25,9 persen.

Hery menjelaskan bahwa sejumlah indikator profitabilitas memang mulai mengalami tekanan moderat akibat meningkatnya biaya operasional. Namun, menurutnya, perbankan tetap harus bersikap waspada terhadap potensi risiko yang dapat muncul di masa mendatang.

“Walaupun outlook industri perbankan secara umum masih cukup baik, tapi kita harus tetap antisipatif terhadap berbagai potensi risiko ke depan,” ujar Hery Gunardi.

Ia menilai ketegangan geopolitik yang berlangsung di berbagai kawasan dunia berpotensi memicu kenaikan harga energi dan pangan. Kondisi tersebut dapat berdampak pada penurunan daya beli masyarakat serta melambatnya aktivitas ekonomi.

Selain itu, ketidakpastian ekonomi juga berpotensi menekan kinerja sektor usaha yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko kredit bermasalah. Oleh karena itu, perbankan dituntut untuk lebih selektif dalam menyalurkan kredit serta memperkuat pengelolaan risiko dan kualitas aset.

Untuk menjaga stabilitas sektor keuangan, Hery menilai industri perbankan perlu memperkuat strategi mitigasi risiko melalui sejumlah langkah strategis.

Langkah pertama adalah memperkuat sistem manajemen risiko, termasuk melakukan stress test sektoral terhadap portofolio kredit di sektor transportasi, logistik, dan manufaktur yang sangat bergantung pada bahan bakar minyak.

Selain itu, bank juga perlu mengoptimalkan sistem peringatan dini untuk mengantisipasi potensi peningkatan NPL serta memperketat disiplin dalam pemberian kredit dengan pendekatan risk-based pricing.

Kedua, perbankan perlu memastikan kecukupan likuiditas guna menghadapi kemungkinan fluktuasi arus dana. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memperkuat indikator likuiditas seperti Liquidity Coverage Ratio (LCR) dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) agar industri memiliki cadangan arus kas yang memadai.

Baca Juga: BRI Perkuat Program Gentengisasi Lewat Skema KUR Perumahan untuk Wujudkan Hunian Layak dan Berkualitas

Ketiga, pengelolaan risiko nilai tukar serta likuiditas valuta asing juga menjadi perhatian penting. Perbankan diharapkan menjaga posisi devisa neto tetap konservatif, memperkuat strategi lindung nilai (hedging) terhadap eksposur mata uang asing, serta mengelola ketidaksesuaian jatuh tempo (maturity mismatch) dalam transaksi valas.

Menurut Hery, langkah-langkah tersebut diperlukan untuk memastikan ketersediaan likuiditas valuta asing bagi sektor-sektor strategis seperti eksportir dan importir sehingga aktivitas perdagangan nasional tetap berjalan lancar.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Deputi Komisioner Pengaturan, Perizinan, dan Pengendalian Kualitas di Otoritas Jasa Keuangan, Deden Firman Hendarsyah. Ia menilai kondisi perbankan nasional hingga saat ini masih cukup tangguh, terutama dari sisi kekuatan permodalan.

Menurutnya, industri perbankan memiliki bantalan modal yang memadai untuk menghadapi dinamika ekonomi global.

“Dari sisi likuiditas pun kondisinya masih memadai, dan seluruh indikator utama tetap berada di atas threshold minimal yang ditetapkan regulator,” kata Deden.

Editor : Eka Rahmawati
#strategi perbankan #perbanas #ekonomi global #Hery Gunardi