Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Rupiah Sempat Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Pemerintah Tegaskan Ekonomi Indonesia Masih Ekspansi

Siti Dewi Yanti • Rabu, 11 Maret 2026 | 03:45 WIB

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa.

RADAR BOGOR - Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan awal pekan memicu kekhawatiran di pasar keuangan.

Kondisi tersebut bahkan sempat menekan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga turun hampir 5 persen pada awal sesi perdagangan.

Meski demikian, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, kondisi ekonomi nasional masih berada dalam fase ekspansi dan belum menunjukkan tanda-tanda menuju krisis.

Menurutnya, gejolak yang terjadi di pasar keuangan lebih dipicu oleh pandangan sejumlah ekonom yang menilai Indonesia berpotensi menghadapi resesi serupa krisis 1998.

Ia menyebut, penilaian tersebut tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi yang sebenarnya.

Purbaya menyampaikan bahwa perekonomian Indonesia masih berada dalam fase pertumbuhan dan akselerasi, sehingga pemerintah tetap fokus menjaga momentum tersebut dalam beberapa pekan ke depan.

Di sisi lain, pemerintah juga memastikan belum ada rencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM), meskipun harga minyak dunia sedang mengalami kenaikan.

Hingga saat ini belum ada kebijakan untuk mengubah skema subsidi maupun menyesuaikan harga BBM di dalam negeri.

Ia juga menegaskan, stok minyak nasional masih dalam kondisi aman.

Cadangan minyak saat ini berada di kisaran 20 hari, lebih tinggi dibanding kebutuhan normal yang biasanya sekitar 15 hari.

Menurutnya, jumlah tersebut merupakan stok operasional yang wajar dan bukan kondisi darurat.

Negosiasi Kapal Pertamina di Teluk Arab Hampir Rampung

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menyampaikan, proses negosiasi untuk membebaskan dua kapal tanker milik Pertamina yang tertahan di kawasan Teluk Arab diperkirakan segera selesai.

Sebelumnya, Pertamina International Shipping (PIS) melaporkan terdapat empat kapal yang berada di wilayah Timur Tengah.

Kapal tersebut antara lain Gamsunoro yang sedang melakukan proses pemuatan di Khor al Zubair, Irak; Pertamina Pride yang telah selesai melakukan pemuatan dan berlabuh di Ras Tanura, Arab Saudi; PIS Rinjani yang berada di Khor Fakkan, Uni Emirat Arab; serta PIS Paragon yang melakukan proses bongkar muat di Oman.

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia juga memastikan terus melakukan komunikasi dengan otoritas Iran guna menjamin keselamatan kapal tanker Pertamina yang sempat tertahan di Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang memisahkan Iran dan Oman.

Ketegangan geopolitik di kawasan tersebut meningkat setelah adanya serangan militer, sehingga Iran memperingatkan, kapal yang melintas dapat menjadi sasaran serangan.

Dalam laporan terbaru, PIS menyebutkan dua kapal telah meninggalkan area konflik, yakni PIS Rinjani dan PIS Paragon.

Dengan demikian, saat ini masih tersisa dua kapal di kawasan Teluk Arab, yaitu Pertamina Pride dan Gamsunoro, yang masih menunggu kondisi keamanan membaik sebelum melintas melalui Selat Hormuz.

Kapal Gamsunoro diketahui membawa kargo milik pihak ketiga, sedangkan Pertamina Pride mengangkut pasokan minyak mentah jenis light crude oil yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri. (mim/agf/ttg)

Editor : Siti Dewi Yanti
#menteri keuangan #bbm #Purbaya Yudhi Sadewa #rupiah #bahlil lahadalia #ekonomi