RADAR BOGOR - Lonjakan harga minyak dunia di tengah ketegangan geopolitik global justru dilihat pemerintah sebagai peluang strategis.
Kenaikan harga energi fosil dinilai dapat menjadi pemicu untuk mempercepat transisi menuju pengembangan energi bersih di Indonesia.
Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dwi Anggia menyampaikan, fluktuasi harga minyak global menjadi pengingat penting, ketahanan energi nasional tidak bisa hanya bergantung pada satu jenis sumber energi.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut menjadi momentum bagi pemerintah untuk mempercepat pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) di Indonesia.
Dalam beberapa waktu terakhir, harga minyak mentah global mengalami kenaikan tajam.
Minyak jenis Brent Crude Oil bahkan sempat menyentuh angka USD 118 per barel, yang merupakan level tertinggi sejak Harga Minyak Brent Tertinggi sejak Juni 2022 pada 17 Juni 2022.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata harga pada Januari 2026 yang berada di kisaran USD 64 per barel.
Menurut Anggia, situasi geopolitik internasional memberikan sinyal kuat bahwa sistem energi nasional harus diperkuat melalui diversifikasi sumber energi.
Karena itu, pemerintah mempercepat pengembangan berbagai sumber energi bersih.
Beberapa program prioritas yang tengah didorong pemerintah meliputi pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP), pembangkit listrik tenaga air (PLTA), serta peningkatan pemanfaatan bioenergi.
Siapkan Alternatif Sumber Impor
Selain fokus pada pengembangan energi bersih, pemerintah juga terus mencermati dinamika geopolitik yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan energi dunia.
Salah satu langkah antisipasi yang disiapkan adalah kemungkinan pengalihan sumber impor minyak dari kawasan Timur Tengah ke negara lain yang tidak melewati jalur Selat Hormuz.
Meskipun kenaikan harga minyak dapat menekan biaya energi nasional, kondisi tersebut juga memberi dampak positif bagi penerimaan negara.
Anggia menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak dunia berpotensi meningkatkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor migas, mengingat Indonesia masih memiliki produksi minyak domestik lebih dari 600 ribu barel per hari.
Transisi Energi Butuh Waktu
Di sisi lain, kalangan pengamat menilai bahwa proses transisi menuju energi bersih tidak dapat dilakukan secara cepat.
Pengamat energi Fahmy Radhi menilai, ketergantungan terhadap energi fosil memang perlu dikurangi secara bertahap.
Namun, perubahan menuju sistem energi yang lebih ramah lingkungan memerlukan perubahan paradigma dalam pengelolaan sektor energi nasional.
Ia berpendapat, para pemimpin perlu mengubah cara pandang agar tidak terlalu bergantung pada energi fosil dan mulai lebih serius mengembangkan energi baru terbarukan.
Menurut Fahmy, Indonesia kemungkinan membutuhkan waktu sekitar satu dekade untuk benar-benar melakukan peralihan menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan. (agf/dio)
Editor : Siti Dewi Yanti