RADAR BOGOR - Program gentengisasi yang diinisiasi oleh Presiden RI Prabowo Subianto memberikan dampak positif bagi pelaku usaha kecil di bidang bahan bangunan.
Di sejumlah daerah yang menjadi sentra produksi genteng, permintaan dari pasar dilaporkan meningkat cukup tajam seiring dengan semakin gencarnya pembangunan serta renovasi rumah masyarakat.
Salah satu pengusaha yang merasakan manfaat dari kondisi tersebut adalah Hj. Nurhasanah, pengrajin genteng yang berasal dari sentra produksi genteng di Majalengka, Jawa Barat yang menjalankan usaha tersebut bersama dua saudarinya dengan melanjutkan bisnis keluarga yang sebelumnya dirintis oleh sang ibu sejak puluhan tahun lalu.
Nurhasanah mengungkapkan bahwa dalam beberapa waktu terakhir permintaan genteng mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Pesanan tidak hanya berasal dari wilayah sekitar, tetapi juga datang dari sejumlah kota besar seperti Jakarta, Bandung, hingga Tegal. Kondisi ini membuat usaha mereka harus meningkatkan kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus bertambah.
Baca Juga: BRI Siapkan Rp25 Triliun Uang Tunai Jelang Lebaran 2026, Transaksi Digital Makin Dominan
Saat ini, pabrik genteng milik keluarga Nurhasanah mempekerjakan sekitar 150 orang. Meski demikian, jumlah tersebut dinilai masih belum memadai untuk mengimbangi tingginya permintaan. Selain itu, sebagian besar tenaga kerja yang tersedia merupakan pekerja berusia lanjut, sementara generasi muda cenderung memilih bekerja di sektor industri lain.
Nurhasanah mengatakan bahwa permintaan yang meningkat tidak selalu diiringi kemudahan dalam mencari tenaga kerja. Banyak anak muda lebih tertarik bekerja di perusahaan dibandingkan bergabung dalam usaha produksi genteng tradisional.
“Permintaan sekarang semakin banyak, tetapi mencari tenaga kerja tidak mudah, banyak anak muda yang lebih memilih bekerja di perusahaan,” kata Nurhasanah pengusaha asal Majalengka.
Dalam kegiatan produksinya, usaha keluarga ini mengoperasikan sekitar 12 mesin press yang mampu menghasilkan kurang lebih 16.000 keping genteng setiap minggu. Produk tersebut kemudian didistribusikan ke berbagai kota besar di Pulau Jawa. Dari aktivitas usaha ini, Nurhasanah mampu membukukan omzet hingga ratusan juta rupiah setiap bulan.
Di tengah meningkatnya permintaan pasar, Nurhasanah mengaku tidak mengalami hambatan yang berarti terkait permodalan. Hal tersebut karena usaha mereka memperoleh dukungan pembiayaan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia.
Ia menyebut kerja sama dengan BRI telah terjalin sekitar empat tahun terakhir dan memberikan kontribusi penting dalam menjaga kelangsungan usaha keluarga mereka.
“Alhamdulillah, kebutuhan modal usaha kami terbantu melalui program KUR dari BRI,” ujarnya.
BRI sendiri terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk para pengrajin genteng yang menjadi bagian dari ekosistem sektor perumahan.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menyatakan bahwa BRI siap mengambil peran strategis dalam mendukung program gentengisasi melalui penyaluran KUR sekaligus memperkuat koneksi antara pelaku usaha dengan pasar.
Menurutnya, BRI dapat menjadi penghubung antara para pengrajin genteng dengan pihak pembeli maupun pengembang perumahan sehingga rantai pasok dapat berjalan lebih efisien dan berkelanjutan.
Ia menjelaskan bahwa ketika sudah terdapat kontrak kerja sama antara produsen genteng dan pihak pembeli atau pengguna, BRI dapat memberikan dukungan pembiayaan agar proses produksi dapat berjalan secara optimal.
“Peran BRI berada di tengah, ketika sudah ada kontrak antara pengrajin dengan pembeli atau pengguna, BRI dapat hadir memberikan dukungan pembiayaan agar proses produksi dapat berjalan optimal,” jelas Hery Gunardi.
Hery juga menambahkan bahwa produk bahan bangunan seperti genteng merupakan bagian dari ekosistem pembiayaan KUR sektor perumahan yang terus dikembangkan oleh BRI.
Sebagai lembaga perbankan yang memiliki fokus kuat pada pemberdayaan UMKM dan ekonomi kerakyatan, BRI berkomitmen menyediakan akses pembiayaan yang mudah serta terjangkau bagi para pelaku usaha kecil.
Editor : Eka Rahmawati