RADAR BOGOR – Aktivitas masyarakat selama bulan Ramadhan belum mampu mendongkrak tingkat okupansi hotel dan restoran di Kota Bogor. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh daya beli masyarakat yang dinilai masih melemah dibandingkan tahun sebelumnya.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Bogor, Yuno Abeta Lahay mengatakan, hingga pertengahan Ramadan peningkatan kunjungan ke hotel belum terlihat signifikan meski sejumlah kegiatan berbuka puasa bersama tetap berlangsung.
“Tidak ada lonjakan signifikan,” kata Yuno kepada Radar Bogor, Kamis, 12 Maret 2026.
Menurut dia, kondisi tersebut tidak jauh berbeda dibandingkan Ramadhan tahun lalu. Aktivitas masyarakat selama Ramadhan tetap berjalan, tetapi belum cukup kuat untuk mendorong peningkatan okupansi di sektor perhotelan dan restoran.
Ia menilai, melemahnya daya beli masyarakat menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi lesunya okupansi selama Ramadhan tahun ini.
“Daya beli memang lebih rendah dari tahun lalu,” ujarnya.
Yuno menambahkan, jika dibandingkan dengan Ramadhan tahun lalu, tingkat okupansi hotel dan restoran pada Ramadan 2026 relatif berada pada kisaran yang sama.
“Mirip-mirip angkanya dengan tahun lalu,” tambahnya.
Sebagai gambaran, pada Ramadhan tahun sebelumnya tingkat okupansi hotel di Kota Bogor berada pada kisaran 20 hingga 30 persen, yang tergolong rendah dibandingkan bulan sebelumnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat penghunian kamar hotel di Kota Bogor pada Januari 2026 mencapai 48,42 persen. Angka tersebut turun 10,58 poin dibandingkan Desember 2025 secara bulanan, namun naik 2,33 poin dibandingkan Januari 2025 secara tahunan. (uma)
Editor : Eka Rahmawati