Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Bangkit dari Pandemi, Pekatan Batik di Depok Lestarikan Batik Tulis dan Tenun Badui Berkat Dukungan Rumah BUMN BRI

Yosep Awaludin • Minggu, 15 Maret 2026 | 09:52 WIB

Pekatan Batik milik Ifti pengusaha batik di Depok
Pekatan Batik milik Ifti pengusaha batik di Depok

RADAR BOGOR – Wastra Nusantara batik tidak hanya sekadar kain, tetapi juga menyimpan nilai sejarah, identitas budaya, dan cerita panjang dari generasi ke generasi.

Semangat untuk menjaga warisan tersebut menjadi alasan utama seorang pengusaha batik di Depok, Ifti, mengembangkan usaha Pekatan Batik yang fokus melestarikan batik tulis dan tenun tradisional.

Perempuan asal Pekalongan itu menaruh kecintaan besar pada kain tradisional Indonesia batik.

Ketertarikannya pada dunia wastra semakin kuat setelah bertemu dengan suaminya yang memiliki minat yang sama.

Keduanya bahkan gemar mengoleksi berbagai jenis kain dari berbagai daerah yang mereka kunjungi.

Berangkat dari kecintaan tersebut, Ifti mendirikan Pekatan Batik di Depok, Jawa Barat pada akhir November 2019.

Namun, perjalanan bisnis ini tidak langsung berjalan mulus. Tidak lama setelah usaha berdiri, pandemi Covid-19 melanda dan membuat aktivitas usaha sempat terhenti.

Meski demikian, Pekatan Batik tidak menyerah. Usaha ini kemudian bangkit kembali dengan memanfaatkan penjualan secara daring.

Sejak saat itu, Pekatan perlahan berkembang bukan hanya sebagai bisnis, tetapi juga sebagai upaya menjaga agar wastra Nusantara tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Pekatan Batik menghadirkan berbagai koleksi berbasis batik tulis, tenun Badui, serta lurik yang diproduksi menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).

Produk-produk tersebut diwujudkan dalam koleksi pesisiran hingga busana siap pakai atau ready-to-wear yang dapat digunakan dalam berbagai kesempatan.

Bagi Ifti, batik dan tenun memiliki nilai lebih dari sekadar kain. Ia melihat keduanya sebagai warisan budaya yang perlu terus dilestarikan agar tetap dikenakan oleh generasi sekarang maupun mendatang.

Untuk itu, Pekatan menghadirkan desain yang lebih modern, eksklusif, dan diproduksi dalam jumlah terbatas.

Upaya ini dilakukan untuk mengubah anggapan bahwa batik hanya cocok digunakan pada acara formal atau identik dengan generasi yang lebih tua.

Melalui sentuhan desain kekinian, Pekatan ingin menunjukkan bahwa wastra Nusantara tetap dapat tampil modis tanpa meninggalkan nilai budaya yang melekat di dalamnya.

Dalam proses produksinya, Pekatan Batik juga menerapkan prinsip ramah lingkungan. Sisa-sisa potongan kain tidak dibuang begitu saja, melainkan dimanfaatkan kembali menjadi produk baru yang memiliki nilai guna dan estetika.

Pendekatan ini membuat setiap koleksi Pekatan hadir secara terbatas sekaligus lebih berkelanjutan dari sisi produksi.

Seiring waktu, karya Pekatan Batik tidak hanya diminati pasar lokal, tetapi juga mulai menjangkau pasar nasional hingga internasional. Beberapa koleksinya bahkan pernah dibawa ke Korea serta sejumlah negara di kawasan Eropa.

Produk-produk Pekatan juga kerap dipilih sebagai suvenir oleh berbagai instansi maupun perusahaan dalam agenda internasional.

Perjalanan usaha Pekatan Batik semakin berkembang setelah Ifti bergabung dengan Rumah BUMN BRI Jakarta pada 2024.

Melalui program tersebut, ia mendapatkan berbagai pelatihan yang membantu pengembangan bisnisnya.

Ifti menjelaskan bahwa ia mengikuti beragam pelatihan mulai dari desain, fashion, manajemen bisnis hingga pengelolaan keuangan.

“Melalui berbagai pelatihan itu saya mendapatkan banyak pengetahuan baru. Walaupun saya tidak memiliki latar belakang sebagai desainer, saya belajar banyak mengenai desain produk dan cara mengelola bisnis dengan lebih baik. Selain itu, ada juga kesempatan mengikuti pameran dan kegiatan business matching,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa pengalaman mengikuti pameran dan pelatihan desain memberikan dampak besar bagi perkembangan usahanya.

“Dari pameran saya bisa melihat langsung tren pasar dan model yang paling diminati konsumen. Sementara pelatihan desain sangat membantu saya yang sebelumnya tidak memiliki dasar di bidang tersebut,” ujarnya.

Secara terpisah, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menyampaikan bahwa Rumah BUMN BRI hadir sebagai ruang kolaboratif bagi para pelaku usaha untuk meningkatkan kemampuan serta daya saing mereka.

Program ini dirancang untuk membantu pelaku UMKM memperluas jaringan bisnis sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas di tengah persaingan yang semakin ketat.

Ia menegaskan bahwa pembinaan UMKM merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan BRI dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif di Indonesia.

Hingga saat ini, BRI tercatat telah membina sebanyak 54 Rumah BUMN serta menyelenggarakan lebih dari 18.218 pelatihan bagi pelaku UMKM di berbagai wilayah Tanah Air. (***)

Editor : Yosep Awaludin
#batik #depok #pengusaha batik