Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Dari Desa Celuk Bali, Kerajinan Serat Alam TSDC Tembus Pasar Global Berkat LinkUMKM BRI

Yosep Awaludin • Senin, 16 Maret 2026 | 10:47 WIB

TSDC Bali (Tanda Sayang dan Cinta) usaha kerajinan asal Desa Celuk, Sukawati, Kabupaten Gianyar.
TSDC Bali (Tanda Sayang dan Cinta) usaha kerajinan asal Desa Celuk, Sukawati, Kabupaten Gianyar.

RADAR BOGOR – Tren produk fesyen ramah lingkungan terus meningkat dan membuka peluang besar bagi pelaku usaha kreatif di Indonesia. Di Bali, kerajinan berbahan serat alam kini semakin diminati, baik oleh pasar domestik maupun mancanegara.

Salah satu brand yang berhasil memanfaatkan peluang tersebut adalah TSDC Bali (Tanda Sayang dan Cinta). Usaha kerajinan asal Desa Celuk, Sukawati, Kabupaten Gianyar ini dikenal menghadirkan produk fesyen berbahan serat alam yang diproduksi secara handmade oleh pengrajin lokal.

Berbagai bahan alami seperti ate, rotan, dan pandan menjadi material utama yang diolah dengan teknik anyaman tradisional. Sentuhan desain modern kemudian ditambahkan sehingga menghasilkan produk fesyen yang tetap mempertahankan nilai budaya lokal.

Produk-produk TSDC Bali pun cukup beragam, mulai dari tas, dompet, hingga aksesori. Beberapa item yang paling diminati pelanggan di antaranya beach bag, topi, serta dompet anyaman yang kerap digunakan untuk liburan maupun aktivitas sehari-hari.

Founder dan Owner TSDC Bali, Ni Wayan Sri Mustika Dewi, menjelaskan bahwa usaha yang ia dirikan lahir dari keinginan menciptakan produk kerajinan yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki nilai emosional bagi penggunanya.

TSDC sendiri mulai dirintis pada tahun 2020. Nama “Tanda Sayang dan Cinta” dipilih bukan sekadar sebagai identitas brand, tetapi juga menggambarkan filosofi di balik setiap produk yang dibuat secara manual oleh para pengrajin.

“Proses membangun usaha ini dimulai dari eksplorasi kekayaan serat alam di Bali seperti ata, pandan, dan rotan. Dari usaha skala kecil, TSDC terus menjaga konsistensi kualitas dan desain yang relevan dengan pasar modern hingga akhirnya berkembang menjadi brand yang dikenal di berbagai pameran,” jelasnya.

Dalam mengembangkan bisnisnya, TSDC juga memanfaatkan ekosistem pemberdayaan UMKM dari BRI melalui platform LinkUMKM.

Hingga akhir 2025, platform tersebut telah dimanfaatkan oleh lebih dari 14,98 juta pelaku UMKM di Indonesia.

LinkUMKM menjadi sarana pendampingan usaha berbasis digital yang membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas bisnis sekaligus memperluas akses pasar.

Platform ini menyediakan enam fitur utama yang terintegrasi, yaitu UMKM Smart, Rumah BUMN, UMKM Media, Komunitas, Etalase Digital, dan Register NIB.

Selain itu, tersedia pula lebih dari 750 modul pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan soft skill maupun hard skill para pelaku UMKM.

Sri mengungkapkan bahwa dirinya pertama kali mengenal LinkUMKM melalui ekosistem pemberdayaan UMKM BRI, termasuk melalui peran Mantri BRI di unit terdekat serta berbagai pelatihan seperti program Go Modern.

“Awalnya saya mengenal LinkUMKM melalui ekosistem pemberdayaan UMKM yang dijalankan BRI, baik melalui Mantri BRI di unit terdekat maupun berbagai program pelatihan seperti Go Modern," ujar Sri.

"Bergabung dengan LinkUMKM membantu kami melakukan self assessment terhadap kelas usaha sekaligus membuka akses ke jejaring komunitas UMKM yang lebih luas secara digital,” ungkap Sri.

Berbagai pelatihan tersebut turut meningkatkan kepercayaan diri TSDC untuk mengikuti berbagai kegiatan promosi, mulai dari pameran UMKM hingga ajang fashion week di Bali.

Melalui berbagai event tersebut, TSDC mendapatkan kesempatan memperluas jaringan dengan calon pembeli potensial, termasuk dari sektor perhotelan, instansi, serta wisatawan yang datang ke Bali.

Saat ini produk TSDC dipasarkan melalui berbagai kanal penjualan, mulai dari gerai offline, jaringan reseller, marketplace, hingga media sosial seperti Instagram dan TikTok.

Selain itu, penjualan juga dilakukan melalui kerja sama B2B serta partisipasi dalam pameran sehingga mampu menjangkau pasar lokal hingga ekspor.

Dalam kegiatan operasional sehari-hari, TSDC juga memanfaatkan layanan perbankan BRI. Beberapa di antaranya seperti QRIS BRI untuk mempermudah transaksi non-tunai, aplikasi BRImo untuk memantau arus kas serta melakukan pembayaran kepada pemasok bahan baku, hingga tabungan BritAma sebagai rekening utama bisnis.

Secara terpisah, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menyampaikan bahwa kisah TSDC Bali menjadi contoh bagaimana pelaku UMKM mampu mengembangkan produk berbasis kearifan lokal hingga memiliki daya saing di pasar yang lebih luas.

Menurutnya, penguatan kapasitas usaha yang diimbangi dengan inovasi desain dan dukungan akses pasar dapat membantu produk kerajinan lokal beradaptasi dengan tren industri fesyen yang terus berkembang.

“Pendampingan yang tepat juga membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk memperluas jangkauan pemasaran dan menjangkau segmen konsumen yang lebih luas. Melalui berbagai program pemberdayaan, BRI terus mendorong UMKM agar dapat berkembang secara berkelanjutan,” pungkasnya. (***)

Editor : Yosep Awaludin
#kerajinan #bri #bali