RADAR BOGOR – Perubahan signifikan yang terjadi di Desa Banyuanyar, Kabupaten Boyolali tidak datang secara instan.
Melalui pendekatan pembangunan pentahelix yang melibatkan berbagai pihak, Desa Banyuanyar ini secara bertahap membangun fondasi ekonomi dan sosial yang kuat berbasis gotong royong.
Kepala Desa Banyuanyar, Komarudin, menjelaskan bahwa perjalanan menuju Banyuanyar Green Smart Village merupakan proses panjang yang penuh tantangan.
Baca Juga: Qlola by BRI Melesat! Transaksi Tembus Rp2.141 Triliun hingga Februari 2026, Pengguna Naik 33 Persen
Namun, berkat konsistensi dan semangat bersama, desa ini mulai menata diri melalui pengembangan kampung-kampung UMKM.
Ia menegaskan bahwa konsep “rumah besar Banyuanyar” menjadi semangat kolektif masyarakat dalam membangun desa secara berkelanjutan, hingga akhirnya mampu menghadirkan ekosistem usaha yang tumbuh dari warga sendiri.
Salah satu strategi utama yang diterapkan adalah konsep One Kampung One Product (OKOP).
Baca Juga: Apa Itu Bansos Pangan 2026? Berikut Penjelasan, Jadwal Penyaluran, hingga Kriteria Penerima Bantuan
Melalui pendekatan ini, setiap kampung memiliki produk unggulan yang menjadi identitasnya, seperti kampung kopi, kampung susu, kampung madu, kampung ekonomi kreatif, hingga kampung biofarmaka.
Seluruh rantai produksi, mulai dari penyediaan bahan baku hingga proses pengolahan dan pemasaran, dikelola langsung oleh masyarakat.
Hal ini menjadikan usaha yang berkembang benar-benar milik warga, bukan sekadar program pemerintah.
Baca Juga: Bakso Viral dengan View Gunung di Bogor, RasaLok Jadi Spot Nongkrong Baru yang Wajib Dicoba
Peran BUMDes Kampus Kopi Banyuanyar juga menjadi kunci dalam menggerakkan roda ekonomi desa.
Direktur BUMDes, Musli, menyebutkan bahwa sektor wisata edukasi berbasis komunitas menjadi salah satu potensi unggulan yang terus dikembangkan.
Menurutnya, Banyuanyar memiliki peluang besar untuk menjadi destinasi wisata edukasi yang melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama, sekaligus memberikan pengalaman belajar bagi pengunjung.
Di sisi lain, perkembangan juga terlihat di Kampung Susu. Ketua Klaster Kampung Susu, Pramono, mengungkapkan bahwa usaha peternakan sapi perah yang sebelumnya hanya dijalankan secara tradisional kini telah berkembang menjadi industri olahan bernilai tambah.
Melalui unit usaha “Omah Susu Koboy”, masyarakat mampu menghasilkan berbagai produk seperti susu pasteurisasi, yoghurt, hingga olahan pie susu.
Baca Juga: Usai Kepergian Vidi Aldiano, Ini Unggahan Perdana Sheila Dara
Dengan inovasi tersebut, nilai jual produk meningkat dan memberikan tambahan pendapatan bagi peternak.
Hal serupa juga terjadi di sektor kopi melalui Kedai Barendo. Berawal dari inisiatif petani, kedai ini kini menjadi simbol kemandirian, di mana para petani tidak hanya menanam, tetapi juga mengolah dan memasarkan kopi mereka sendiri.
Sementara itu, Klaster Biofarmaka yang digerakkan oleh kelompok ibu-ibu turut memperkuat ekonomi desa.
Mereka mengolah tanaman obat keluarga menjadi produk pangan dan minuman modern yang lebih praktis dan bernilai jual tinggi.
Inovasi ini bermula dari kegiatan di Omah Toga, yang kini terus berkembang melalui berbagai pameran serta kunjungan wisata edukasi ke desa.
Perjalanan Desa Banyuanyar semakin diperkuat dengan dukungan dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui program Desa BRILiaN.
Program ini tidak hanya memberikan pendampingan bagi UMKM, tetapi juga mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan branding dan kemasan produk, hingga digitalisasi dan promosi.
Corporate Secretary BRI, Dhanny, menjelaskan bahwa program Desa BRILiaN dirancang untuk membangun desa yang tangguh melalui empat pilar utama, yakni penguatan kelembagaan seperti BUMDes dan koperasi, digitalisasi, keberlanjutan, serta inovasi.
Ia juga menyampaikan bahwa ribuan desa di Indonesia telah mendapatkan manfaat dari program ini untuk meningkatkan kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal.
Menurutnya, kisah Banyuanyar menjadi contoh nyata bahwa desa mampu berkembang pesat jika didukung kolaborasi yang kuat, inovasi berkelanjutan, serta partisipasi aktif masyarakat.
Kini, Banyuanyar Green Smart Village tidak hanya menjadi konsep, tetapi telah menjelma sebagai inspirasi pembangunan desa yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan di Indonesia. (***)
Editor : Yosep Awaludin