RADAR BOGOR - Gejolak geopolitik di Timur Tengah mulai menunjukkan dampak nyata terhadap perdagangan global, termasuk Indonesia.
Kenaikan harga energi dunia dan perubahan rute pelayaran internasional kini menjadi tantangan baru yang menekan biaya ekspor nasional.
Menteri Perdagangan, Budi Santoso melihat, dampak konflik saat ini lebih terasa pada sektor logistik dibandingkan permintaan ekspor.
Lonjakan harga minyak global menyebabkan biaya transportasi meningkat signifikan.
Di saat yang sama, kata Budi Santoso, perubahan jalur pengiriman akibat situasi keamanan membuat perjalanan logistik menjadi lebih panjang dan kompleks.
Kondisi tersebut memaksa pelaku usaha menghadapi biaya distribusi yang lebih tinggi.
Meski demikian, jelas Budi Santoso, pemerintah menilai situasi ini masih menyisakan peluang.
Kenaikan harga sejumlah komoditas global justru dapat mendorong nilai ekspor Indonesia, terutama pada sektor unggulan seperti Crude Palm Oil dan batu bara.
Menurut Budi Santoso, peningkatan harga komoditas memang berpotensi mendongkrak nilai ekspor.
Namun, keuntungan tersebut tidak sepenuhnya dirasakan karena sebagian harus dialokasikan untuk menutup biaya logistik yang melonjak.
Di tengah ketidakpastian global, Budi Santoso tetap optimistis, terhadap kinerja ekspor Indonesia pada 2026.
"Kenaikan ekspor diperkirakan ada di angka 5,3 sampai 6,9 persen," tegas Budi Santoso.
Meski begitu, angka tersebut berpotensi tertekan apabila konflik berkepanjangan terus terjadi.
Sebagai langkah antisipasi, Kementerian Perdagangan mendorong diversifikasi pasar ekspor.
Kawasan yang relatif stabil seperti negara-negara anggota Regional Comprehensive Economic Partnership, Asia Tenggara, Amerika Latin, hingga Afrika menjadi target perluasan pasar baru.
Strategi ini, dinilai Budi Santoso penting untuk mengurangi ketergantungan pada pasar tertentu sekaligus membuka peluang ekspor yang lebih luas di tengah dinamika global.
Sementara itu, kontribusi pasar Timur Tengah terhadap ekspor Indonesia masih tergolong moderat.
Sepanjang 2025, nilai ekspor ke kawasan tersebut mencapai sekitar 9,87 miliar dolar AS atau sekitar 3,49 persen dari total ekspor nasional.
Negara tujuan utama di kawasan ini antara lain Uni Emirat Arab dengan kontribusi terbesar, disusul Arab Saudi. Sementara itu, ekspor ke Iran masih relatif kecil.
Meski biaya logistik meningkat, pemerintah memastikan permintaan dari pasar Timur Tengah tetap berjalan.
Namun, pelaku usaha diminta untuk lebih adaptif terhadap perubahan jalur distribusi serta kenaikan ongkos kirim yang dipicu ketidakpastian geopolitik.
Situasi ini menjadi pengingat bahwa dinamika global dapat berdampak langsung pada rantai pasok dan perdagangan nasional.
Adaptasi cepat dan strategi pasar yang tepat menjadi kunci agar ekspor Indonesia tetap bertahan di tengah tekanan global. (bry/dio)
Editor : Siti Dewi Yanti