RADAR BOGOR – Transformasi ekonomi desa berbasis potensi lokal terus menunjukkan hasil positif. Hal ini terlihat dari Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor.
Desa Tugu Selatan mampu mengelola kekayaan alam, budaya, dan inovasi menjadi ekosistem ekonomi desa yang produktif.
Berbatasan dengan Kabupaten Cianjur serta dikelilingi panorama alam yang hijau dan asri, Desa Tugu Selatan sukses mengoptimalkan berbagai sumber daya menjadi motor penggerak ekonomi sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat.
Baca Juga: Langsung Meledak! Debut Lagu SWIM dari BTS Berhasil Kuasai Puncak Billboard Hot 100
Bagi warga setempat, alam bukan sekadar latar kehidupan, melainkan menjadi fondasi utama dalam membangun penghidupan.
Aktivitas ekonomi berkembang dari sektor pertanian, peternakan, hingga pariwisata berbasis kearifan lokal yang dikelola secara berkelanjutan, didukung lanskap pegunungan yang menjadi daya tarik wisata.
Kepala Desa Tugu Selatan, M. Eko Windiana, menjelaskan bahwa percepatan transformasi desa mulai terasa sejak wilayahnya masuk nominasi Desa BRILiaN, program pemberdayaan desa yang diinisiasi BRI.
Menurutnya, kolaborasi dengan berbagai pihak membuka peluang lebih luas bagi pengembangan usaha masyarakat, peningkatan kualitas layanan desa, serta akses pembiayaan yang lebih mudah.
Ia juga menceritakan asal-usul Kampung Koboi yang berangkat dari identitas Kampung Teksas di wilayah tersebut.
Sejak lama, mayoritas warga di kawasan itu berprofesi sebagai penunggang kuda, yang kemudian menjadi ciri khas desa.
Baca Juga: Donor Darah RSUD R Moh Noh Nur Tembus 81 Kantong, Dorong Kepedulian dan Jaga Stok Darah
Pengembangan Kampung Koboi menjadi salah satu wujud nyata transformasi tersebut.
Destinasi wisata ini dikemas dari aktivitas masyarakat setempat menjadi atraksi edukatif yang menarik bagi pengunjung.
Selain menghadirkan pengalaman wisata yang berbeda, Kampung Koboi juga membuka peluang usaha baru, menciptakan lapangan kerja, serta menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat.
Melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), pengelolaan ekonomi desa dilakukan secara terintegrasi melalui berbagai unit usaha.
Mulai dari layanan internet desa, Café Landing Paralayang sebagai wadah UMKM lokal, hingga pengelolaan Kampung Koboi sebagai ikon wisata.
BUMDes juga menyediakan layanan keuangan melalui Agen BRILink, sehingga masyarakat dapat melakukan berbagai transaksi dengan lebih mudah.
Kehadiran Kampung Koboi memberikan dampak signifikan, terutama bagi para penunggang kuda.
Meningkatnya jumlah wisatawan membuka peluang pendapatan tambahan, sementara dukungan BRI melalui pembiayaan dan penguatan infrastruktur turut mempercepat pengembangan usaha masyarakat.
Sejumlah pelaku usaha bahkan telah memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk memperluas usahanya.
Di sektor peternakan, klaster sapi perah juga menunjukkan perkembangan pesat dengan produksi susu mencapai sekitar 2.000 liter per hari.
Baca Juga: Pemkot Terapkan WFH bagi ASN di Kota Bogor Setiap Jumat Pasca Aturan Pemerintah Pusat Resmi Terbit
Dukungan permodalan serta sinergi dengan BUMDes mendorong peningkatan populasi ternak dan produktivitas.
Sementara itu, sektor pertanian yang tergabung dalam kelompok tani (Gapoktan) terus diperkuat melalui bantuan alat pertanian dan pendampingan untuk meningkatkan hasil produksi serta memperluas lahan usaha.
Keberhasilan Desa Tugu Selatan tidak lepas dari penerapan empat pilar utama Desa BRILiaN, yaitu penguatan kelembagaan desa melalui BUMDes, digitalisasi layanan, inovasi berbasis kearifan lokal, serta prinsip keberlanjutan.
Secara terpisah, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menegaskan bahwa Program Desa BRILiaN menjadi bagian dari strategi BRI dalam memperkuat ekonomi desa dan menciptakan pusat pertumbuhan baru di tingkat lokal.
Baca Juga: Bansos Cair Berturut-turut! Ini Daftar 6 Bantuan yang Disalurkan Pemerintah Mulai Awal April 2026
Ia menyebut, program tersebut dirancang untuk membantu desa mengoptimalkan potensi yang dimiliki melalui penguatan kelembagaan, akses pembiayaan, serta integrasi ekosistem usaha.
Menurutnya, BRI tidak hanya menyediakan akses pembiayaan, tetapi juga mendorong digitalisasi, penguatan kelembagaan, serta pengembangan ekosistem bisnis agar desa dapat berkembang secara berkelanjutan.
Ia menambahkan, pendampingan akan terus dilakukan untuk memastikan terciptanya nilai tambah ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. (***)
Editor : Yosep Awaludin