RADAR BOGOR - Di tengah konflik Timur Tengah yang sedang mengalami geopolitik, pemerintah Indonesia memastikan kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 tetap dalam kondisi aman dan terkendali meski ada potensi kenaikan harga minyak dunia.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, percepatan belanja negara pada awal tahun menjadi salah satu strategi untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional.
“Biasanya realisasi belanja di Januari sekitar 17 persen dari APBN, namun pada Januari 2026 sudah mencapai 21,2 persen. Ini memang didesain untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi,” ujar Menkeu Purbaya, pada Senin, 6 April 2026.
Dengan percepatan tersebut, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2026 dapat mencapai target sekitar 5,5 persen atau bahkan lebih tinggi.
Di sisi lain, pemerintah juga menegaskan, ketahanan fiskal tetap terjaga meskipun harga minyak dunia berfluktuasi.
Berbagai skenario telah disiapkan untuk mengantisipasi kemungkinan kenaikan harga minyak hingga 100 dolar AS per barel.
“Kami sudah melakukan simulasi untuk berbagai level harga minyak, mulai dari 80 hingga 100 dolar AS per barel. Dengan asumsi rata-rata 100 dolar sepanjang 2026, defisit APBN masih bisa dijaga di kisaran 2,92 persen terhadap PDB,” jelasnya.
Pemerintah juga memiliki cadangan anggaran berupa Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang saat ini mencapai sekitar Rp420 triliun. Dana tersebut dapat digunakan sebagai bantalan jika terjadi tekanan fiskal akibat lonjakan harga energi.
Selain itu, potensi tambahan penerimaan negara dari sektor energi, seperti minyak dan batu bara, juga menjadi faktor pendukung stabilitas APBN 2026.
Terkait isu yang beredar mengenai kemampuan keuangan negara yang disebut hanya cukup untuk beberapa minggu, Purbaya menegaskan informasi tersebut tidak benar.
“Dari desain anggaran saja kita masih di bawah 3 persen. Ditambah lagi kita punya cadangan, jadi kondisi fiskal kita aman,” tegasnya.
Pemerintah juga memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun 2026 dengan asumsi harga minyak tetap dalam skenario yang telah dihitung.
“Untuk BBM bersubsidi, kami siap menjaga agar tidak naik sampai akhir tahun. Semua sudah dihitung dalam asumsi anggaran,” tutupnya.
Dengan berbagai langkah antisipasi dan bantalan fiskal yang tersedia, pemerintah meminta masyarakat untuk tidak khawatir terhadap kondisi keuangan negara ataupun potensi kenaikan harga BBM.***
Editor : Maulidia