RADAR BOGOR - Kenaikan harga bahan baku plastik kini mulai merembet ke kebutuhan pokok masyarakat.
Salah satu yang terdampak adalah harga minyak goreng yang belakangan terasa semakin mahal di pasaran.
Menteri Perdagangan, Budi Santoso mengungkapkan, pasokan minyak goreng nasional sejatinya masih dalam kondisi aman.
Namun, ia menjelaskan pada Senin (21/4) di Jakarta bahwa kenaikan harga tidak terlepas dari meningkatnya biaya produksi, terutama dari sektor kemasan berbahan plastik.
Dalam keterangannya, Budi menyampaikan, hampir seluruh produk minyak goreng menggunakan kemasan plastik.
Akibatnya, ketika harga bahan baku plastik di tingkat hulu naik, dampaknya langsung terasa pada biaya produksi hingga harga jual ke konsumen.
Baca Juga: Pedagang di Jalan Suryakencana Bogor Usul Parkir Zonasi demi Hindari Hilangnya Pelanggan
Ia juga menekankan, tekanan biaya tersebut berasal dari rantai pasok awal, sehingga sulit dihindari oleh produsen.
Kondisi ini membuat harga di pasar ikut terkerek meskipun stok barang tidak mengalami gangguan.
Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian mulai mendorong perubahan di sektor industri makanan dan minuman (mamin).
Direktur Jenderal Industri Agro, Putu Juli Ardika, menilai pelaku industri perlu segera beradaptasi dengan kondisi tersebut.
Ia menjelaskan bahwa penggunaan kemasan berbasis kertas bisa menjadi solusi alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada plastik.
Menurutnya, masih banyak segmen industri yang memungkinkan untuk beralih ke bahan kemasan tersebut.
Saat ini, plastik masih menjadi pilihan utama dalam industri makanan dan minuman dengan porsi sekitar 48 persen.
Sementara itu, penggunaan kemasan kertas baru mencapai sekitar 28 persen.
Meski demikian, pengembangan kemasan berbasis kertas dinilai tidak bisa instan. Putu menyebutkan bahwa kesiapan industri serta kebutuhan investasi menjadi faktor penting dalam proses transisi tersebut.
Baca Juga: Kota Bogor Siapkan Dua Fasilitas PSEL, Kelola Sampah hingga 2.500 Ton per Hari
Namun, ia melihat peluang besar bahwa inovasi ini bisa menjadi perubahan signifikan atau game changer dalam industri kemasan nasional.
Dengan tekanan biaya yang terus meningkat, langkah adaptasi dinilai menjadi kunci agar industri tetap kompetitif sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti