Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Pemberdayaan BRI Dukung UMKM Diopeni, Bangkitkan Ekonomi Perempuan dan Kembangkan Tenun Lurik ke Pasar Lebih Luas

Eka Rahmawati • Kamis, 23 April 2026 | 17:21 WIB
UMKM Diopeni atau Dondomane Handmade yang mengangkat kain tenun lurik mendapat dukungan BRI. (Dok. BRI)
UMKM Diopeni atau Dondomane Handmade yang mengangkat kain tenun lurik mendapat dukungan BRI. (Dok. BRI)

RADAR BOGOR - Peran pemberdayaan dari BRI menjadi faktor penting di balik berkembangnya brand UMKM Diopeni atau Dondomane Handmade dalam mengangkat kembali popularitas kain tenun lurik. 

Berkat kolaborasi bersama Rumah BUMN BRI Malang, usaha yang dirintis oleh Peni Budi Astuti ini mampu mentransformasi wastra Nusantara menjadi produk fesyen modern bernilai tinggi, sekaligus membuka peluang kemandirian ekonomi bagi perempuan di sekitarnya.

Berbasis di sebuah gang permukiman di Kota Malang, Jawa Timur, Peni menjalankan usahanya tidak hanya berorientasi pada profit. Sebagai penggagas Komunitas “Perempuan Mandiri Sumber Perubahan”, ia mengusung misi sosial dengan memberikan akses produktivitas bagi lansia dan ibu tunggal. Dukungan berkelanjutan dari BRI menjadi kunci bagi Diopeni dalam memperluas dampak ekonomi sekaligus sosial di masyarakat.

Baca Juga: BRInita BRI: Wujud Kartini Masa Kini di Urban Farming

Awal mula perjalanan Diopeni dimulai pada September 2016, berangkat dari hobi Peni menjahit tangan atau yang dikenal dengan istilah dondom-dondom dalam bahasa Jawa. Dari aktivitas sederhana tersebut, ia melihat potensi besar kain tenun lurik yang selama ini dianggap kurang diminati. Nama Diopeni sendiri merupakan gabungan dari nama suaminya, Junaidi (Di) dan dirinya (Peni), yang dalam bahasa Jawa juga bermakna dirawat atau dipelihara.

Kini, komunitas tersebut telah berkembang menjadi koperasi berbadan hukum dengan sembilan tenaga kerja, mayoritas perempuan lansia berusia 50–60 tahun serta orang tua tunggal. Peni pun memberikan fleksibilitas agar mereka tetap bisa bekerja produktif dari rumah.

"Perempuan sebaiknya memiliki kegiatan produktif untuk membantu ekonomi keluarga agar menjadi sosok yang kuat dan tangguh," tegas Peni.

Baca Juga: PNM Tancap Gas, Ditopang Ekosistem Ultra Mikro BRI Group, Total Aset Meningkat Tajam

Ciri khas utama produk Diopeni terletak pada pemanfaatan kain lurik yang dikemas dalam desain modern dan eksklusif. Ragam produknya meliputi daster tunik sebagai andalan, hingga kemeja, outer kimono, gamis, babydoll, blazer, dan baju koko. Setiap produk dibuat dengan penempatan motif yang unik sehingga hampir tidak ada dua produk yang benar-benar sama.

Selain itu, Peni juga mengusung konsep zero waste dan green industry. Limbah kain dimanfaatkan kembali menjadi berbagai produk kriya seperti sandal, tas, pouch, bantal, hingga gantungan kunci. Bahkan, Diopeni kini memperluas usahanya ke bidang pelatihan keterampilan, seperti pembuatan hantaran dan anyaman.

Baca Juga: BRI Wujudkan Kesetaraan Gender Lewat Kepemimpinan Inklusif dan Pemberdayaan Jutaan UMKM Perempuan

Tak hanya di sektor kriya, lini bisnisnya juga merambah kuliner melalui unit F&B bertajuk "Dapur Bunda Peni" yang menyajikan berbagai menu khas Nusantara, mulai dari gado-gado, tahu telur, ketoprak, hingga jus buah segar.

Perkembangan signifikan Diopeni tidak terlepas dari peran aktif BRI. Sejak 2017, Peni rutin mengikuti program pembinaan di Rumah BUMN BRI Malang. Baginya, tempat tersebut bukan sekadar pusat pelatihan, melainkan ruang kolaborasi bagi pelaku UMKM untuk berkembang tanpa biaya.

"Di BRI, wadahnya benar-benar nyata. Pelatihannya sangat lengkap karena menyesuaikan kebutuhan UMKM, mulai dari cara tata kelola keuangan, business plan, hingga strategi pemasaran di media sosial. Bahkan, kami difasilitasi pengurusan legalitas seperti sertifikasi Halal dan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) secara gratis," jelas Peni.

Berkat pengalaman dan dedikasinya, Peni juga kerap dipercaya untuk menjadi pemateri dalam berbagai pelatihan UMKM yang diselenggarakan oleh BUMN.

Di sisi lain, akses permodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI turut berperan dalam memperluas usaha. Peni telah dua kali memanfaatkan fasilitas tersebut untuk memperkuat fondasi bisnisnya. Dana tersebut juga digunakan untuk merenovasi rumah sekaligus membangun mini galeri.

Baca Juga: BRI Borong 3 Penghargaan di Infobank 500 Most Outstanding Women 2026, Perkokoh Kepemimpinan Perempuan

"Meskipun lokasi usaha saya berada di dalam gang, kehadiran mini galeri di rumah hasil dukungan BRI ini terbukti meningkatkan kepercayaan konsumen. Pernah ada rombongan ibu-ibu sampai membawa tiga mobil masuk ke gang hanya untuk melihat koleksi kami secara langsung," kenangnya.

Kini, ruang tamu pribadinya telah disulap menjadi area display profesional dengan manekin dan rak yang tertata rapi.

Secara terpisah, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menjelaskan bahwa Rumah BUMN BRI hadir sebagai ruang kolaboratif bagi pelaku usaha untuk meningkatkan kapasitas sekaligus daya saing. Program ini dirancang untuk membantu UMKM memperluas jaringan serta memanfaatkan peluang di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.

Baca Juga: BRI Perkuat Keuangan Berkelanjutan, Salurkan Pembiayaan Hijau dan Sosial Ratusan Triliun

Ia juga menegaskan bahwa pembinaan UMKM merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan BRI dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Hingga kini, BRI telah membina 54 Rumah BUMN dan menyelenggarakan lebih dari 18.218 pelatihan bagi pelaku UMKM di seluruh Indonesia.

“Melalui peningkatan literasi, digitalisasi, dan kemudahan akses, UMKM didorong untuk memperkuat daya saing dan menghasilkan nilai tambah di pasar dan kisah pelaku usaha Diopeni menjadi kisah inspiratif yang dapat direplika oleh pelaku usaha lainnya di berbagai daerah,” pungkas Akhmad.

Editor : Eka Rahmawati
#diopeni #umkm #bri