RADAR BOGOR – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI kembali menegaskan komitmennya dalam menciptakan nilai optimal bagi pemegang saham, sekaligus menjaga kesinambungan bisnis jangka panjang.
Hal ini tercermin dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun 2026 yang digelar BRI pada Jumat, 10 April 2026.
Di mana BRI menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp52,1 triliun atau setara Rp346,00 per saham untuk Tahun Buku 2025.
Jumlah tersebut sudah termasuk dividen interim sebesar Rp137 per saham dengan total Rp20,6 triliun yang telah didistribusikan lebih dahulu pada 15 Januari 2026.
Pembagian dividen ini mengacu pada kinerja keuangan konsolidasian BRI sepanjang tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2025.
Dengan laba tahun berjalan mencapai Rp57,132 triliun dan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp56,65 triliun.
Direktur Finance and Strategy BRI, Achmad Royadi, menyampaikan bahwa kebijakan dividen yang tetap optimal di tengah fundamental keuangan yang solid menunjukkan kemampuan perseroan dalam menyeimbangkan kepentingan pemegang saham dengan strategi pertumbuhan jangka panjang.
“Dengan kondisi likuiditas dan permodalan yang terjaga kuat, BRI memiliki ruang yang cukup untuk terus memperluas penyaluran kredit secara selektif dan berkualitas, tentunya dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian,” jelasnya.
Dari sisi permodalan, hingga akhir Desember 2025 ekuitas BRI tercatat mencapai Rp330,9 triliun atau tumbuh 2,4 persen secara tahunan (year-on-year). Pertumbuhan ini ditopang oleh kinerja laba bersih yang konsisten.
Baca Juga: Pecinta Rujak Wajib Coba! Kedai Rujak Istana di Bogor Ini Punya Varian Super Lengkap
Capaian tersebut juga telah memperhitungkan seluruh distribusi dividen sepanjang 2025, termasuk dividen interim, sehingga mencerminkan ketahanan modal BRI yang tetap kokoh meski melakukan pembagian laba kepada pemegang saham.
Sementara itu, dari sisi likuiditas, BRI mencatat posisi yang sangat memadai. Hal ini tercermin dari Liquidity Coverage Ratio (LCR) sebesar 136,9 persen serta Net Stable Funding Ratio (NSFR) sebesar 117,7 persen.
Kedua indikator tersebut menunjukkan struktur pendanaan yang stabil dan kemampuan likuiditas yang kuat untuk mendukung ekspansi bisnis.
Tidak hanya itu, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) BRI juga berada pada level yang sangat sehat, yakni 26,63 persen secara konsolidasi dan 23,52 persen untuk bank only, jauh di atas batas minimum yang ditetapkan regulator.
Baca Juga: Masalah Parkir Hambat Rerouting, Dishub Batasi Angkot Masuk Pasar Jambu Dua Kota Bogor
Dengan kondisi tersebut, perseroan memiliki ruang yang luas untuk terus melakukan ekspansi secara terukur.
Sejalan dengan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) tahun 2026, BRI menargetkan pertumbuhan kredit berada di kisaran 7 hingga 9 persen secara tahunan.
“Target ini mencerminkan keyakinan kami terhadap prospek ekonomi domestik, khususnya di sektor UMKM yang tetap menjadi fokus utama bisnis BRI,” tutup Achmad. (***)
Editor : Yosep Awaludin