RADAR BOGOR — Fenomena monkey business kembali menjadi sorotan dalam berbagai tren yang muncul di tengah masyarakat. Mulai dari demam kartu Pokemon, investasi bodong berkedok arisan dan kripto, tanaman hias mahal seperti janda bolong, hingga batu akik, semuanya memperlihatkan pola yang sama, nilai suatu barang tidak selalu ditentukan oleh fungsi, melainkan oleh narasi yang dibangun di sekitarnya.
Akademisi Ilmu Komunikasi Universitas Ibn Khaldun Bogor (UIKA) sekaligus kandidat Doktor Komunikasi Politik Universitas Padjadjaran, Yama Sumbodo, menjelaskan bahwa fenomena ini erat kaitannya dengan cara komunikasi membentuk persepsi publik.
“Fenomena seperti kartu Poke mon, investasi bodong, tanaman mahal, hingga batu akik pada dasarnya menunjukkan bagaimana nilai suatu barang dapat dibentuk oleh komunikasi, bukan semata fungsi atau kegunaannya,” ujar Yama kepada Radar Bogor, Kamis, 30 April 2026.
Baca Juga: Pemerintah Sudah Salurkan 388,3 Ribu Ton Beras SPHP demi Jaga Stabilitas Harga Beras
Menurutnya, peran media sosial, influencer, serta percakapan publik menjadi faktor utama dalam menciptakan persepsi kolektif. Suatu barang bisa dianggap bernilai tinggi, langka, dan layak dimiliki.
“Ketika narasi ini berulang dan diperkuat, publik terdorong untuk ikut serta, bukan karena kebutuhan, tetapi karena dorongan sosial,” tambahnya.
Ia mengungkapkan, dari perspektif komunikasi, terdapat beberapa faktor yang memperkuat fenomena ini, di antaranya social proof, yaitu kecenderungan seseorang mengikuti apa yang dilakukan banyak orang, framing kelangkaan yang menekankan bahwa suatu barang terbatas, serta efek fear of missing out (FOMO) yang mendorong individu untuk tidak ketinggalan tren.
Baca Juga: Usung Program HEBAT, Kelurahan Gudang Kota Bogor Benahi Infrastruktur hingga SDM
Akibatnya, banyak orang melihat keterlibatan orang lain, ditambah narasi kesempatan terbatas yang mendorong mereka mengambil keputusan secara cepat tanpa pertimbangan rasional.
“Dalam banyak kasus, nilai simbolik seperti status, tren, atau identitas lebih dominan dibandingkan nilai ekonomi yang sebenarnya,” katanya.
Yama menekankan pentingnya memperkuat literasi komunikasi dan literasi finansial di tengah masyarakat. Menurutnya, publik perlu lebih kritis dalam membaca narasi yang berkembang, mampu membedakan antara tren sosial dan nilai riil, serta tidak mudah terjebak pada euforia sesaat.
“Pada akhirnya, yang sering dibeli bukanlah barangnya, melainkan cerita dan persepsi yang dibangun di sekitarnya,” tutupnya.(Cr1)
Editor : Eka Rahmawati