RADAR BOGOR - Kinerja PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk pada Kuartal I 2026 menghadirkan cerita menarik di tengah tekanan pasar dan penurunan volume domestik, perseroan justru mampu menjaga pertumbuhan laba secara positif.
Corporate Finance Manager Indocement, David Halim menjelaskan, industri semen nasional mulai menunjukkan tanda pemulihan pada awal 2026.
Ia mengungkapkan, pasar domestik tumbuh sekitar 4,6 persen, terutama ditopang oleh kenaikan signifikan di segmen semen kantong, meskipun segmen curah masih mengalami kontraksi tipis.
Baca Juga: Bakso Aci KRL, Jajan Unik Sambil Melihat Kereta Melintas di Bogor
Namun, di sisi lain, Indocement justru mencatat penurunan volume penjualan domestik sekitar 2,6 persen.
Penurunan ini berdampak pada pangsa pasar yang berada di kisaran 28 persen.
Meski demikian, strategi ekspor menjadi penopang penting, dengan lonjakan volume ekspor yang sangat tinggi hingga ratusan persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca Juga: Kopitography Bogor, Coffee Shop Tenang yang Cocok jadi Tempat untuk Me Time dan Introvert
Secara keseluruhan, kata dia, volume penjualan semen dan klinker Indocement mencapai 4,44 juta ton, tumbuh sekitar 1,8 persen secara tahunan.
Sementara itu, pendapatan bersih tercatat sebesar Rp3,84 triliun, sedikit menurun dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Di balik tekanan tersebut, efisiensi operasional menjadi kunci.
Baca Juga: Santao Meeko Bogor, Mie Siram Unik dalam Box Mulai Rp20 Ribuan
Perseroan berhasil menekan beban pokok pendapatan, sehingga laba bruto tetap terjaga di level Rp1,1 triliun dengan margin mencapai 28,6 persen.
Meski biaya distribusi meningkat dan mendorong naiknya beban usaha, Indocement tetap mampu mencatat margin laba usaha sebesar 6,2 persen dan EBITDA 17 persen.
Kinerja positif juga ditopang oleh peningkatan pendapatan keuangan serta kontribusi dari entitas asosiasi.
Baca Juga: Cikini Rasa Tokyo:,Daisugi Coffee Hadirkan Suasana Autentik Jepang di Tengah Ibu Kota
Pada akhirnya, laba bersih Indocement pada Kuartal I 2026 tercatat naik tipis sekitar 2,1 persen menjadi Rp215,2 miliar.
Dari sisi neraca, kondisi keuangan perusahaan tergolong sangat solid.
Hingga akhir Maret 2026, kas dan setara kas mencapai Rp5,1 triliun, mencerminkan likuiditas yang kuat untuk mendukung ekspansi maupun menghadapi ketidakpastian pasar.
Baca Juga: Bansos Belum Cair? Cek 3 Penyebab Utama Status KPM Masih Januari-Maret dan Cara Mengatasinya
Tidak hanya fokus pada kinerja jangka pendek, Indocement juga menyiapkan langkah strategis.
Perseroan telah menyelesaikan program pembelian kembali saham tahap ketiga dengan nilai Rp437 miliar, sekaligus menjaga tingkat free float tetap sehat.
Selain itu, perusahaan juga berencana melanjutkan program buyback baru hingga Rp750 miliar dalam periode Mei 2026 hingga Mei 2027.
Baca Juga: Belajar Sambil Bermain, Green Farm Bogor Tawarkan Paket Edukasi Satwa Mulai Rp60 Ribu
Dalam waktu dekat, tepatnya pada 21 Mei 2026, perusahaan akan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa untuk membahas rencana pengurangan modal melalui pembatalan sebagian saham treasuri hasil buyback sebelumnya.
Langkah strategis lainnya adalah pembentukan usaha patungan dengan Mondi Industrial Bags GmbH, bagian dari Mondi Group.
Kerja sama ini difokuskan pada penguatan rantai pasok kantong semen, dengan fasilitas produksi yang berlokasi di kompleks Citeureup.
Dalam skema ini, jelas dia, Indocement memegang 40 persen saham, sementara Mondi menguasai 60 persen.
David Halim menilai, langkah ini merupakan bagian dari upaya memperkuat ekosistem industri sekaligus menjaga kualitas distribusi produk di tengah persaingan yang semakin ketat.
Meski demikian, tantangan belum sepenuhnya reda.
Industri semen nasional masih dibayangi kelebihan kapasitas yang berkepanjangan.
Di sisi lain, menurut dia, lonjakan harga energi akibat dinamika geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah, berpotensi menekan daya beli serta memperlambat proyek-proyek baru.
Dalam situasi tersebut, Indocement memilih fokus pada efisiensi operasional dan optimalisasi distribusi sebagai strategi utama untuk menjaga kinerja tetap stabil di tengah tekanan pasar yang belum sepenuhnya pulih. (*)
Editor : Siti Dewi Yanti