Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

PT Phytochemindo Reksa Resmikan Pabrik Klapanunggal Bogor, Perkuat Industri Herbal Nasional

Dede Supriadi • Selasa, 12 Mei 2026 | 23:38 WIB
Direktur Utama PT Phytochemindo Reksa, Patrick Kalona bersama Deputi BPOM RI meresmikan Pabrik Klapanunggal di Kabupaten Bogor. (Dede/Radar Bogor)
Direktur Utama PT Phytochemindo Reksa, Patrick Kalona bersama Deputi BPOM RI meresmikan Pabrik Klapanunggal di Kabupaten Bogor. (Dede/Radar Bogor)

RADAR BOGOR - PT Phytochemindo Reksa meresmikan Pabrik Klapanunggal di Kabupaten Bogor sebagai langkah strategis memperkuat kemandirian ekstrak bahan baku alam nasional, pada Selasa, 12 Mei 2026.

Peresmian fasilitas produksi tersebut menjadi tonggak baru dalam pengembangan industri herbal Indonesia berbasis riset dan berdaya saing global.

Peresmian dilakukan langsung oleh Direktur Utama PT Phytochemindo Reksa, Patrick Kalona bersama Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik BPOM RI, Mohamad Kashuri. Kegiatan tersebut juga dihadiri perwakilan Kementerian Kesehatan dan Kementerian Perindustrian.

Baca Juga: Terminal Bubulak Bogor Direvitalisasi Lagi Tahun Ini, Berikut Fasilitas yang Bakal Dibangun

Pabrik Klapanunggal menjadi fasilitas produksi terbesar sepanjang sejarah perusahaan. Fasilitas itu berdiri di atas lahan seluas 23.235 meter persegi yang mencakup gedung produksi, laboratorium riset hingga gudang terintegrasi.

Pabrik tersebut dirancang sebagai fondasi operasional perusahaan untuk 20 tahun ke depan dengan penerapan standar produksi guna memastikan kualitas, keamanan, dan konsistensi produk.

Direktur Utama PT Phytochemindo Reksa, Patrick Kalona mengatakan, pembangunan fasilitas tersebut merupakan bagian dari visi jangka panjang perusahaan dalam membangun industri herbal berbasis sains.

“Peresmian Pabrik Klapanunggal bukan hanya tentang pembangunan fasilitas produksi, tetapi merupakan wujud komitmen kami dalam membangun kemandirian ekstrak bahan baku alam nasional berbasis riset. Kami percaya bahwa herbal Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi solusi kesehatan global, selama dikembangkan dengan pendekatan ilmiah yang kuat dan berkelanjutan,” ujarnya.

Baca Juga: Permudah Layanan, Kelurahan Sempur Kota Bogor Hadirkan Layanan Rekam e-KTP Malam Hari untuk Pemula

Menurut Patrick, perusahaan ingin mengubah paradigma bahwa produk herbal tidak sekadar bagian dari tradisi, tetapi juga bagian dari sains modern yang mampu bersaing di pasar internasional.

Seiring meningkatnya kebutuhan global terhadap produk kesehatan berbasis bahan alam, keberadaan fasilitas produksi berbasis riset dinilai penting untuk memperkuat posisi Indonesia di pasar global.

Pabrik Klapanunggal sendiri dibangun dari fondasi riset yang telah dimulai sejak 1978 dan telah memperoleh sertifikasi Cara Pembuatan Obat Bahan Alam yang Baik (CPOBAB) tertinggi dari BPOM.

Deputi BPOM RI, Mohamad Kashuri menyebut peresmian pabrik tersebut mencerminkan kemajuan signifikan industri obat bahan alam di Indonesia.

“Peresmian Pabrik Klapanunggal ini mencerminkan kemajuan signifikan industri obat bahan alam di Indonesia. Kami melihat komitmen kuat dari PT Phytochemindo Reksa dalam menerapkan standar CPOBAB secara konsisten, yang menjadi kunci dalam menjamin kualitas, keamanan, dan khasiat produk,” katanya.

Ia menambahkan, BPOM akan terus mendukung pengembangan industri berbasis riset agar mampu bersaing di tingkat global.

Baca Juga: Tiga Calon Direksi PT Sayaga Wisata Jalani Tahap Wawancara, Bupati Bogor Tekankan BUMD Harus Raih Keuntungan

Saat ini, produk unggulan perusahaan seperti ekstrak kunyit dan ekstrak temulawak telah diekspor ke berbagai negara sejak 1992. Hingga kini, perusahaan memiliki lebih dari 300 produk dan menjangkau pasar ekspor di lebih dari 16 negara.

Selain memperkuat kapasitas produksi, perusahaan juga aktif mengembangkan inovasi bersama sejumlah perguruan tinggi. Kolaborasi dengan Institut Teknologi Bandung menghasilkan riset produk Rhemaukur hingga terdaftar sebagai Obat Herbal Terstandar (OHT).

Sementara kerja sama dengan Universitas Gadjah Mada dan Universitas Sanata Dharma melahirkan pengembangan ekstrak nano kunyit pada 2022. Adapun kolaborasi dengan Universitas Indonesia menghasilkan inovasi ekstrak dan kapsul propolis Sulawesi yang diluncurkan pada 2025.

Momentum peresmian juga dirangkaikan dengan peluncuran buku biografi pendiri perusahaan, almarhum Wim Kalona berjudul Meracik Resep Kehidupan Tegas dalam rangka memperingati 110 tahun kelahirannya.

Peresmian Pabrik Klapanunggal dinilai menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian sektor kesehatan nasional, khususnya dalam mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku alam. Dengan dukungan riset, standardisasi, dan industrialisasi berkelanjutan, Indonesia dinilai memiliki peluang besar menjadi pemain utama industri herbal global.(ded)

Editor : Eka Rahmawati
#PT Phytochemindo Reksa #bogor #pabrik #Klapanunggal