RADAR BOGOR - Nilai tukar rupiah yang sempat mendekati level Rp17.500 per dolar AS memicu perhatian publik. Namun Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan.
Karena menurut Menkeu Purbaya fondasi ekonomi Indonesia saat ini dinilai jauh lebih kuat dibanding masa krisis 1998.
Menkeu Purbaya meminta masyarakat tetap tenang menyikapi pergerakan rupiah yang sempat menyentuh level psikologis Rp17.500 per dolar AS.
Menurutnya, kondisi ekonomi nasional masih berada dalam situasi terkendali dan pemerintah memahami langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk menjaga stabilitas.
Purbaya menilai pelemahan kurs kali ini tidak dapat disamakan dengan krisis moneter 1998.
Ia menegaskan struktur ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih solid, sehingga gejolak nilai tukar dinilai masih bisa diatasi melalui kebijakan yang tepat.
Baca Juga: Krisis Integritas di Balik Cerdas Cermat MPR
“Tidak perlu ada kepanikan. Fundamental ekonomi kita cukup kuat, titik lemah yang ada juga sudah dipetakan dan bisa diperbaiki. Situasinya sangat berbeda dengan 1998,” ujar Purbaya di kawasan kantor Kejaksaan Agung RI, Jakarta, Rabu 13 Mei 2026.
Ia juga menegaskan bahwa stabilisasi rupiah tetap menjadi kewenangan utama Bank Indonesia.
Pemerintah, kata dia, siap mendukung langkah bank sentral untuk menjaga agar tekanan terhadap rupiah tidak berlanjut.
Purbaya optimistis otoritas moneter memiliki instrumen yang cukup untuk mengendalikan fluktuasi nilai tukar.
Pemerintah pun akan memberikan dukungan tambahan secara bertahap sesuai kebutuhan pasar.
“Bank Indonesia yang punya otoritas penuh untuk kurs, dan saya yakin mereka bisa mengelolanya. Pemerintah akan membantu bila diperlukan,” katanya.
Lebih lanjut, Purbaya menjelaskan bahwa salah satu opsi yang dinilai paling rasional adalah intervensi di pasar obligasi atau surat utang negara.
Baca Juga: Kamis Bahagia, Bansos PKH Tahap 2 Tahun 2026 Terpantau Cair Hari Ini, Cek Nominal Lengkapnya
Strategi tersebut dianggap lebih efisien karena dapat menjaga stabilitas pasar keuangan tanpa menimbulkan tekanan besar terhadap anggaran negara.
Menurut dia, stabilisasi pasar obligasi dapat mencegah investor melepas kepemilikannya secara masif.
Ketika pasar surat utang stabil, risiko capital loss bagi investor menurun sehingga arus keluar modal juga dapat ditekan.
Ia menambahkan, apabila harga obligasi kembali menguat, investor justru berpeluang memperoleh capital gain, sehingga daya tarik investasi di Indonesia tetap terjaga.
Sebagai informasi, rupiah nyaris menembus level Rp17.500 per dolar AS saat pembukaan perdagangan pada Selasa, 12 Mei 2026.
Pergerakan tersebut menjadi salah satu level terlemah rupiah dalam beberapa waktu terakhir dan memicu sorotan pasar keuangan nasional. (***)
Editor : Yosep Awaludin