RADAR BOGOR – Transformasi digital membuka peluang besar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk berkembang lebih cepat. Peluang itu pula yang dimanfaatkan Hody, brand tas lokal asal Bogor yang berhasil memperluas pasar hingga mancanegara berkat pemanfaatan digitalisasi marketplace Shopee.
Di sebuah rumah di kawasan Pasirmulya, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor aktivitas bisnis Hody berjalan setiap hari. Dari lokasi sederhana tersebut, ribuan produk tas dikirim ke berbagai daerah di Indonesia hingga ke Malaysia, Brunei, dan Australia, didukung sistem penjualan berbasis digital.
Pendiri Hody, Mira Nur Gandaniati mengatakan perjalanan usahanya tidak selalu mulus. Sebelum membangun Hody, ia memulai bisnis sebagai reseller jam tangan melalui platform BlackBerry Messenger (BBM) pada 2011 dan sempat menghadapi masa sulit ketika bisnis keluarga diterpa masalah keuangan.
Berangkat dari pengalaman tersebut, Mira kemudian mendirikan Hody pada 2019 dengan konsep tas fungsional yang terjangkau. Produk yang dijual mulai dari kisaran Rp100 ribuan itu menyasar perempuan aktif, khususnya ibu rumah tangga dan kalangan muda.
Baca Juga: ShopeeVIP Gandeng Duolingo, Bikin Belanja Lebih Hemat dan Upgrade Diri Lebih Menyenangkan
Berawal dari Jaringan Reseller
Pada awalnya, Hody berkembang melalui jaringan reseller yang tersebar di berbagai daerah. Sistem tanpa modal yang diterapkan membuat banyak ibu rumah tangga dapat memperoleh penghasilan tambahan hanya dengan memasarkan produk melalui katalog dan sistem pre-order.
Namun seiring perubahan perilaku konsumen yang semakin digital, Hody mulai melakukan transformasi bisnis. Langkah penting dilakukan pada 2023 ketika Hody membuka toko resmi di Shopee dan mulai membangun tim digital marketing dari nol.
Keputusan tersebut menjadi titik balik pertumbuhan usaha. Hody tidak lagi hanya mengandalkan reseller, tetapi juga memanfaatkan berbagai fitur marketplace seperti live shopping, iklan digital, hingga program afiliasi untuk memperluas jangkauan pasar.
Transformasi UMKM ke Digitalisasi
Berkat strategi tersebut, Hody bertransformasi dari UMKM rumahan menjadi brand tas perempuan yang terus berkembang. Digitalisasi menjadi faktor kunci yang mempercepat pertumbuhan bisnis sekaligus memperluas akses pasar secara signifikan.
Kini Hody mempekerjakan sekitar 60 orang yang terdiri dari tim operasional, host live, hingga advertiser khusus marketplace. Penjualan melalui Shopee bahkan menyumbang sekitar 70 persen dari total omzet perusahaan yang telah mencapai miliaran rupiah per tahunnya.
"Hody bisa sampai titik ini karena kami adaptif, dulu cukup upload barang, sekarang harus mengerti fitur live, afiliasi, dan pengelolaan toko digital, kalau tidak agile, kita akan tertinggal," ujar Mira kepada Radar Bogor.
Tidak hanya fokus pada penjualan, Hody juga membangun komunitas pelanggan bernama Hodyctiv. Komunitas tersebut menjadi wadah belajar bagi perempuan untuk memahami pemasaran digital, pengembangan diri, hingga mengikuti program afiliasi yang memberikan tambahan penghasilan.
Menurut Mira, digitalisasi bukan sekadar memindahkan transaksi ke platform online. Teknologi juga membuka akses yang lebih luas bagi perempuan untuk berwirausaha, belajar pemasaran digital, dan membangun kemandirian ekonomi dari rumah.
Keberhasilan Hody menunjukkan bagaimana UMKM lokal dapat memanfaatkan marketplace sebagai pintu masuk menuju pasar yang lebih luas. Adaptasi terhadap teknologi digital membuat produk lokal mampu bersaing hingga pasar ekspor sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru.
Di tengah persaingan yang semakin ketat, Mira menegaskan Hody tetap mempertahankan produksi lokal. Seluruh proses produksi dilakukan di dalam negeri dengan melibatkan pengrajin lokal sebagai bagian dari komitmen mendukung ekonomi nasional.
"Kalau dulu tantangannya bagaimana memulai usaha, sekarang tantangannya bagaimana terus beradaptasi, karena di era digital, pilihannya hanya satu, terus belajar atau tertinggal," tutup Mira.(uma)
Editor : Eka Rahmawati