RADAR BOGOR – Melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai dirasakan pelaku usaha kecil di Kota Bogor. Salah satunya para perajin tempe rumahan yang kini harus mencari berbagai cara agar usaha mereka tetap berjalan di tengah lonjakan harga bahan baku impor.
Rohmat, pengrajin tempet atau pemilik usaha Tempe Super Mas Jono di kawasan Cimanggu Barata, Tanah Sareal, Kota Bogor mengaku tekanan biaya produksi semakin berat dalam beberapa bulan terakhir. Itu dampak dari kenaikan harga kedelai impor.
Menjadi pengrajin tempet di Bogor sejak 1982, kini dia harus menghadapi kenaikan harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama pembuatan tempe.
Menurutnya, produksi tempe masih dilakukan secara rumahan dengan bantuan empat pekerja. Sistem tersebut sudah menjadi ciri khas industri tempe yang umumnya tidak diproduksi dalam skala pabrik besar.
“Produksi tempe memang berbeda dengan tahu. Semua proses dilakukan sendiri, mulai dari pengolahan hingga penjualan,” ujarnya.
Rohmat menjelaskan, proses pembuatan tempe membutuhkan waktu sekitar empat hari. Mulai dari perebusan kedelai, pengendapan, pencucian, pemberian ragi, hingga proses fermentasi sebelum siap dipasarkan.
Kenaikan harga kedelai membuat kapasitas produksi yang sebelumnya mencapai 80 kilogram per hari kini turun menjadi sekitar 50–60 kilogram.
Harga kedelai yang sebelumnya masih berada di bawah Rp10.000 per kilogram kini melonjak menjadi Rp11.000 hingga Rp12.000 per kilogram.
“Kalau harga bahan baku naik, mau tidak mau produksi harus dikurangi agar modal tetap bisa berputar,” katanya.
Tak hanya kedelai, biaya kemasan juga ikut melonjak. Harga satu ikat plastik pembungkus yang sebelumnya sekitar Rp17.000 kini mencapai Rp26.000.
Kondisi tersebut memaksa para perajin melakukan berbagai penyesuaian. Salah satu langkah yang diambil adalah memperkecil ukuran tempe tanpa menaikkan harga jual agar tetap terjangkau bagi konsumen.
“Kalau harga langsung dinaikkan, khawatir daya beli masyarakat menurun. Jadi yang disesuaikan ukuran produknya,” jelas Rohmat.
Baca Juga: Jalan Batutulis Kembali Dikelupas, Ini 5 Alasan Pemkot Bogor Tak Bisa Menunda Proyek Trase Baru
Meski margin keuntungan semakin tipis, ia memilih tetap menjalankan usaha karena permintaan tempe masih cukup stabil. Sebagai makanan sehari-hari masyarakat, tempe dinilai masih memiliki pasar yang kuat.
“Yang penting usaha tetap berjalan dan kebutuhan keluarga bisa terpenuhi,” ujarnya.
Rohmat menilai ketergantungan terhadap kedelai impor menjadi salah satu penyebab utama rentannya industri tempe terhadap fluktuasi kurs dolar. Pasokan kedelai lokal, menurutnya, masih belum mampu memenuhi kebutuhan produksi nasional.
Ia berharap pemerintah dapat mengambil langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memperkuat produksi kedelai dalam negeri agar pelaku usaha kecil tidak terus terbebani kenaikan biaya produksi.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perdagangan dan Perindustrian (KUKMDagin) Kota Bogor, Rahmat Hidayat, menyebut hingga saat ini belum terjadi lonjakan signifikan pada harga kebutuhan pokok di pasar tradisional.
Berdasarkan pemantauan terbaru, harga tempe masih berada di kisaran Rp15.000 per papan. Adapun kedelai impor di tingkat eceran tercatat sekitar Rp12.000 per kilogram, sedangkan di tingkat penyalur berkisar Rp10.500 per kilogram.
Baca Juga: 6 Rekomendasi Tempat Belanja Seafood Terlengkap dengan Harga Terjangkau di Bogor, Cek Selengkapnya
Meski harga di pasar relatif stabil, para perajin berharap ada solusi jangka panjang agar usaha kecil tetap mampu bertahan menghadapi gejolak harga bahan baku yang dipengaruhi kondisi ekonomi global.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga