RADAR BOGOR – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai berdampak pada sektor otomotif. Sejumlah bengkel motor di wilayah Cibinong, Kabupaten Bogor, mengeluhkan kenaikan harga spare part kendaraan roda dua yang berasal dari distributor maupun pabrikan.
Salah seorang karyawan bengkel motor di Cibinong Bogor, Fandi (30), mengungkapkan bahwa beberapa spare part seperti ban, oli, roller, dan sejumlah spare part lainnya mengalami penyesuaian harga dalam beberapa waktu terakhir.
“Kenaikan memang ada. Beberapa spare part dan oli sekarang di bengkel harganya lebih tinggi dibanding sebelumnya,” ujarnya kepada Radar Bogor, Jumat, 5 Juni 2026.
Baca Juga: Kekerasan Pelajar Gegerkan Bogor, SMK Bina Warga Siapkan Langkah Pembinaan
Menurut Fandi, kondisi tersebut membuat pihak bengkel harus lebih selektif dalam memilih produk yang akan dijual kepada konsumen. Ia mengaku lebih banyak menyediakan merek dengan harga yang relatif terjangkau, sementara produk dengan harga lebih tinggi stoknya dibatasi.
“Kalau ada merek yang harganya lebih kompetitif, itu yang lebih banyak kami sediakan. Untuk yang mahal tetap ada, tapi jumlahnya tidak banyak,” katanya.
Ia menjelaskan, kenaikan harga di tingkat bengkel tidak bisa dihindari karena distributor dan pabrikan terlebih dahulu menaikkan harga jual. Besaran kenaikannya bervariasi, namun rata-rata mencapai sekitar Rp10 ribu untuk beberapa produk.
Baca Juga: Usung 1 Visi Persatuan, Arwinsyah Resmi Maju Jadi Calon Ketua Kadin Kota Bogor 2026
“Kalau harga dari distributor naik, otomatis harga jual di bengkel juga ikut menyesuaikan,” jelasnya.
Di sisi lain, kondisi tersebut turut memengaruhi daya beli konsumen. Menurut Fandi, kenaikan harga sparepart dan oli terjadi saat permintaan jasa bengkel justru sedang lesu.
“Ketika harga naik, konsumen pasti mempertimbangkan lagi. Apalagi sekarang kondisi bengkel juga sedang sepi,” tuturnya.
Meski demikian, Fandi menilai dampak kenaikan harga masih bisa ditoleransi bagi usaha bengkel skala kecil seperti tempatnya bekerja. Namun, ia memperkirakan tekanan yang lebih besar dirasakan oleh pelaku usaha otomotif berskala besar atau distributor utama.
“Kalau kami tidak terlalu besar pengaruhnya karena volumenya tidak banyak. Mungkin yang lebih terasa itu distributor atau grosir besar,” pungkasnya.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga