RADAR BOGOR – Pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) memperkuat koordinasi dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional, khususnya untuk menahan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Dari pertemuan BI, DPR dan pemerintah yang digelar di Kompleks Parlemen Senayan, Sabtu, 6 Juni 2026, lahir dua strategi utama untuk memperkuat posisi rupiah di tengah dinamika ekonomi global.
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, menjelaskan bahwa rapat bersama pemerintah dan BI tersebut digelar sebagai forum evaluasi sekaligus upaya menyatukan langkah antara otoritas fiskal dan moneter dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Baca Juga: Viral Warga Sukasari Jadi Korban Begal Saat Berangkat Kerja di Rumpin Bogor
Menurutnya, pertemuan tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis yang diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan pasar terhadap perekonomian Indonesia.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengungkapkan bahwa fokus utama pembahasan adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Dari hasil koordinasi tersebut, pemerintah dan BI menyepakati dua langkah utama.
Strategi pertama adalah meningkatkan daya tarik instrumen investasi berbasis rupiah, seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Langkah ini ditujukan untuk menarik lebih banyak arus modal asing masuk ke Indonesia sehingga pasokan valuta asing meningkat dan stabilitas pasar tetap terjaga.
BI sebelumnya telah menaikkan suku bunga SRBI pada Mei 2026 untuk memperkuat daya tarik investasi domestik. Kebijakan tersebut dinilai mampu membantu menjaga keseimbangan pasar keuangan di tengah meningkatnya imbal hasil surat utang global.
Data pemerintah menunjukkan strategi ini mulai memberikan hasil positif. Sepanjang tahun berjalan hingga awal Juni 2026, SRBI mencatat arus modal asing masuk bersih yang signifikan. Sementara SBN juga mulai kembali menarik minat investor setelah sempat mengalami arus keluar modal.
Strategi kedua adalah menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan. Upaya tersebut dilakukan melalui pengelolaan kas pemerintah yang lebih optimal dengan dukungan kebijakan moneter BI, termasuk pemberian imbal hasil yang lebih kompetitif terhadap dana pemerintah.
Perry menegaskan bahwa koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter akan terus diperkuat agar mampu mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga stabilitas di tengah tantangan global yang terus berkembang.
Sementara itu, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menilai sinergi yang semakin erat antara pemerintah dan BI akan menjadi faktor penting dalam memulihkan kepercayaan pasar terhadap rupiah.
Menurutnya, keselarasan kebijakan fiskal dan moneter akan memberikan sinyal positif bagi pelaku pasar sehingga mampu memperkuat fundamental ekonomi nasional dan menjaga stabilitas nilai tukar dalam jangka panjang.
Editor : Rani Puspitasari Sinaga