Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Berawal dari Modal Rp50 Ribu, Cinta Batik Semarang Tembus Pasar Internasional Berkat Dukungan LinkUMKM BRI

Yosep Awaludin • Minggu, 14 Juni 2026 | 13:57 WIB
Cinta Batik Semarang menjelma menjadi UMKM batik yang menembus pasar internasional. 
Cinta Batik Semarang menjelma menjadi UMKM batik yang menembus pasar internasional. 

RADAR BOGOR – Berangkat dari modal Rp50 ribu dan peralatan membatik yang sederhana, Cinta Batik Semarang berhasil menjelma menjadi UMKM batik yang menembus pasar internasional. 

Perjalanan usaha Cinta Batik Semarang semakin berkembang melalui pendampingan dan berbagai program penguatan usaha dari LinkUMKM BRI.

Ya, BRI terus memperkuat komitmennya dalam mendorong pelaku UMKM untuk naik kelas melalui peningkatan kapasitas usaha serta perluasan akses pasar.

Salah satu kisah inspiratif datang dari Cinta Batik Semarang, usaha batik asal Kota Semarang yang telah berdiri sejak 2006.

Kini, produk-produknya tidak hanya diminati konsumen dari berbagai wilayah di Indonesia, tetapi juga telah menjangkau pasar mancanegara.

Pemilik Cinta Batik Semarang, Iin Windhi Indah Tjahjani, menuturkan bahwa awal mula usahanya berangkat dari pelatihan membatik yang diselenggarakan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Semarang dalam program revitalisasi batik Semarang.

Baca Juga: Hitam dan Bau Menyengat! Situ Bahar Depok Tercemar Lagi, Warga Minta KDM Turun Tangan 

Seiring waktu, Cinta Batik Semarang dikenal melalui produk batik tulis berbahan pewarna alami yang menjadi ciri khasnya.

Penggunaan warna alam dinilai lebih ramah lingkungan tanpa mengesampingkan aspek kualitas maupun keterjangkauan harga bagi konsumen.

Perjalanan membangun usaha tersebut jauh dari kata mudah. Dengan modal sekitar Rp50 ribu dan perlengkapan membatik seadanya, Iin memulai produksi dengan bekal pengalaman yang masih terbatas.

Beragam kegagalan sempat dialami saat proses pembuatan batik. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah.

Keterbatasan akses untuk berkonsultasi mengenai teknik membatik justru mendorongnya aktif mengikuti berbagai pameran guna mencari referensi, memperluas jaringan, sekaligus meningkatkan mutu produknya.

Iin mengaku bergabung dengan LinkUMKM melalui Rumah BUMN BRI karena melihat banyak program yang dapat membantu pelaku usaha berkembang lebih baik.

"Saya mengenal LinkUMKM melalui Rumah BUMN BRI. Kami tertarik bergabung karena banyak kegiatan yang memberikan manfaat nyata untuk mendukung perkembangan usaha dan meningkatkan kemampuan pelaku UMKM," ujar Iin.

Dalam menjalankan bisnisnya, Cinta Batik Semarang juga memanfaatkan layanan QRIS dan tabungan BRI untuk mendukung kelancaran transaksi.

Saat ini, pemasarannya dilakukan melalui berbagai kanal, mulai dari penjualan langsung, marketplace, partisipasi dalam pameran, hingga kerja sama business-to-business (B2B).

Baca Juga: Little Jamboree Montessori Bogor Gelar Pentas Seni Magical Worlds of Wonder, 45 Anak Tampil Percaya Diri

Jangkauan konsumennya pun terus meluas, dari berbagai daerah di Indonesia hingga ke sejumlah negara.

Produk batik yang diproduksi dalam jumlah terbatas tersebut juga memberikan kesan eksklusif dan nilai tambah tersendiri bagi pelanggan.

Hingga akhir Maret 2026, LinkUMKM tercatat telah dimanfaatkan oleh lebih dari 15,57 juta pelaku UMKM sebagai sarana pendampingan usaha berbasis digital.

Platform tersebut mendukung peningkatan kapasitas bisnis, perluasan akses pasar, hingga percepatan proses naik kelas bagi para pelaku usaha.

LinkUMKM menghadirkan enam fitur utama yang saling terintegrasi, yakni UMKM Smart, Rumah BUMN, Media, Komunitas, Etalase Digital, dan Coaching Clinic.

Selain itu, tersedia pula berbagai layanan pendukung, termasuk registrasi Nomor Induk Berusaha (NIB), yang diperkuat oleh lebih dari 840 modul pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan teknis maupun manajerial pelaku UMKM.

Secara terpisah, Corporate Secretary BRI Dhanny menilai perjalanan Cinta Batik Semarang menjadi bukti bahwa usaha yang dibangun dari keterbatasan dapat berkembang dan memiliki daya saing hingga menembus pasar internasional.

Menurutnya, konsistensi dalam menjaga kualitas produk serta kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan pasar menjadi kunci keberhasilan sebuah usaha.

Kisah Cinta Batik Semarang membuktikan bahwa produk yang berakar pada kearifan lokal mampu bersaing secara luas apabila dikelola dengan konsisten dan terus berinovasi.

Baca Juga: 5 Mie Ayam Terenak di Bogor yang Wajib Dicoba, Ada Favorit untuk Sarapan hingga Porsi Jumbo

Kehadiran batik ramah lingkungan tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi yang berkelanjutan.

"BRI akan terus memperkuat peran LinkUMKM sebagai ekosistem pembelajaran dan pengembangan usaha agar semakin banyak UMKM yang mampu meningkatkan daya saingnya secara berkelanjutan," kata Dhanny.

Keberhasilan Cinta Batik Semarang menjadi inspirasi bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkembang.

Dengan semangat belajar, inovasi, serta dukungan ekosistem yang tepat, UMKM Indonesia memiliki peluang besar untuk menembus pasar yang lebih luas, bahkan hingga tingkat global. (***)

Editor : Yosep Awaludin
#Cinta Batik Semarang #umkm #LinkUMKM BRI