Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Lorena Siap Luncurkan Layanan Kargo Semester II 2026, Strategi Baru Dongkrak Pendapatan

Yosep Awaludin • Jumat, 26 Juni 2026 | 13:42 WIB
Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Eka Sari Lorena Transport Tbk di Bogor, Jumat 26 Juni 2026.
Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Eka Sari Lorena Transport Tbk di Bogor, Jumat 26 Juni 2026.

RADAR BOGOR – PT Eka Sari Lorena Transport Tbk (LRNA) menyiapkan strategi diversifikasi usaha dengan menghadirkan layanan kargo pada semester II 2026.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya Lorena memperkuat kinerja operasional, sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru di tengah persaingan industri transportasi darat yang semakin kompetitif.

Rencana tersebut disampaikan Direktur Pelaksana PT Eka Sari Lorena Transport Tbk, Dwi Rianta Soerbakti, usai Paparan Publik dan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Bogor, Jumat 26 Juni 2026.

Menurut Dwi Rianta, layanan kargo akan dijalankan melalui kolaborasi dengan ESL Express, perusahaan afiliasi (sister company) Lorena yang telah bergerak di bidang jasa pengiriman.

"Kami menargetkan layanan kargo mulai beroperasi pada semester kedua 2026 melalui sinergi bersama ESL Express. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pengembangan bisnis Perseroan," ujarnya.

Selain memasuki bisnis kargo, Lorena juga memperkuat divisi rental sebagai sumber pendapatan yang lebih stabil (fixed income).

Baca Juga: Mulyadi Tampung Aspirasi Massa Pendukung MBG di Bogor, Janji Sampaikan ke Presiden Prabowo

Perseroan turut menyiapkan program peremajaan armada secara bertahap mulai semester kedua tahun ini untuk meningkatkan kualitas layanan kepada pelanggan.

Di bidang pemasaran, Lorena terus memperluas pemanfaatan teknologi digital melalui penguatan strategi digital marketing dan layanan e-ticketing.

Penjualan tiket kini dapat dilakukan melalui berbagai platform daring seperti Traveloka, RedBus, Alfamart, dan Indomaret.

"Pemanfaatan teknologi akan memberikan kemudahan bagi pelanggan bus AKAP dalam memperoleh tiket secara cepat dan praktis," kata Dwi Rianta.

Perseroan juga mengembangkan sistem teknologi informasi yang terintegrasi, baik pada proses front end maupun back end, guna meningkatkan efisiensi operasional.

Selain itu, Lorena melakukan berbagai langkah efisiensi, termasuk memperketat pengawasan terhadap arus penerimaan dan pengeluaran perusahaan serta melakukan penyesuaian di sejumlah lini usaha.

"Program efisiensi terus kami jalankan untuk mengurangi beban operasional perusahaan, termasuk penyesuaian jumlah tenaga kerja sesuai kebutuhan bisnis," jelasnya.

Industri Bus AKAP Masih Hadapi Tantangan

Dwi Rianta mengakui bisnis angkutan antarkota antarprovinsi (AKAP) masih menghadapi berbagai tantangan meski sektor transportasi dan pergudangan mencatat pertumbuhan sebesar 8,78 persen sepanjang 2025.

Menurutnya, pertumbuhan industri bus penumpang belum mampu mengikuti tren positif tersebut karena tingginya persaingan dengan moda transportasi lain, seperti kereta api dan pesawat, khususnya di jalur-jalur padat Pulau Jawa.

Selain itu, semakin banyak masyarakat yang beralih menggunakan kendaraan pribadi maupun layanan travel karena didukung jaringan jalan tol yang semakin luas.

Baca Juga: Warkop Kacida Bogor, Tempat Nongkrong Asyik dengan Sensasi Ayam Bawang Putih yang Menggoda

"Pertumbuhan angkutan bus belum sekuat sektor transportasi secara umum. Persaingan dengan kereta api, pesawat, kendaraan pribadi, hingga travel membuat pasar semakin kompetitif," ungkapnya.

Persaingan juga semakin ketat dengan bertambahnya jumlah perusahaan otobus di Pulau Jawa dan Sumatera.

Di sisi lain, kenaikan harga suku cadang akibat fluktuasi nilai tukar dolar Amerika Serikat turut meningkatkan biaya operasional.

"Kondisi persaingan membuat penyesuaian tarif tidak bisa dilakukan secara bebas, sementara biaya operasional terus meningkat," tambahnya.

Tantangan lainnya adalah regenerasi sumber daya manusia. Banyak pengemudi dan awak bus yang memasuki usia pensiun, sementara minat generasi muda untuk berkarier sebagai sopir bus AKAP dinilai masih rendah.

"Banyak kru senior mulai pensiun, sedangkan minat anak muda menjadi pengemudi bus AKAP masih minim karena pekerjaan ini cukup berat, jauh dari keluarga, dan sistem penghasilannya berbasis insentif," tuturnya.

Kinerja LRNA Sepanjang 2025

Sepanjang tahun buku 2025, Lorena membukukan total pendapatan sebesar Rp59,52 miliar.

Pendapatan terbesar berasal dari layanan Bus AKAP sebesar Rp47,68 miliar, disusul Shuttle Bus Rp7,81 miliar, serta Bus Jarak Pendek Rp4,03 miliar.

Penurunan pendapatan terutama dipengaruhi berakhirnya dua kontrak kerja sama pada divisi rental.

Dari sisi profitabilitas, Perseroan mencatat rugi kotor sebesar Rp1,26 miliar, berbalik dari laba kotor Rp3,72 miliar pada 2024.

Baca Juga: MPR yang Paling Ngerti Rakyat Bogor, Kuliner Martabak Mulai Rp5.000 Dekat Mall Jambu 2

Menurut Dwi Rianta, tingginya beban pendapatan langsung yang mencapai Rp60,78 miliar menjadi faktor utama menurunnya kinerja keuangan perusahaan.

"Perbaikan kinerja tidak hanya bergantung pada peningkatan pendapatan, tetapi juga harus diiringi peningkatan produktivitas operasional dan pengendalian biaya langsung yang menjadi komponen terbesar," jelasnya.

Komponen biaya terbesar meliputi biaya bahan bakar minyak (BBM) sebesar Rp15,44 miliar, penyusutan armada Rp18,22 miliar, serta biaya penyeberangan, terminal, dan tol sebesar Rp9,47 miliar.

Karena itu, manajemen menegaskan pengendalian biaya akan dilakukan hingga ke level operasional.

Mulai dari pengawasan konsumsi BBM per rute, pengurangan waktu armada menganggur (idle time), peningkatan perawatan preventif, hingga disiplin dalam pengadaan suku cadang.

Dari sisi neraca, total aset Lorena tercatat sebesar Rp303,47 miliar, turun 9,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp334,6 miliar.

Total liabilitas menurun menjadi Rp36,73 miliar dari Rp44,73 miliar, sedangkan ekuitas tercatat Rp266,74 miliar, turun dari Rp289,87 miliar.

Baca Juga: Gelar Lebaran Yatim dan Disabilitas 2026, Baznas Kota Bogor dan Kemenag Tebar Santunan

Memasuki 2026, Lorena menegaskan akan melanjutkan berbagai strategi efisiensi secara menyeluruh, termasuk evaluasi rute dan jadwal perjalanan berdasarkan tingkat keterisian (break-even load factor).

Kemudian pengawasan penggunaan BBM berbasis realisasi perjalanan, serta memperkuat program perawatan preventif agar armada tetap optimal dan mampu menekan biaya operasional.

"Kami akan terus menjalankan efisiensi secara berlapis agar operasional semakin produktif, biaya lebih terkendali, dan kinerja perusahaan dapat tumbuh secara berkelanjutan," pungkas Dwi Rianta Soerbakti. (***)

Editor : Yosep Awaludin
#layanan kargo #kinerja operasional #Lorena