Bansos Bogor Ekonomi Hiburan Internasional Jawa Barat Nasional Olahraga Otomotif Pendidikan Politik

Di Bawah Supervisi Danantara, Penguatan Dana Murah Dorong BRI Tekan Cost of Fund dan Perkuat Profitabilitas

Eka Rahmawati • Rabu, 8 Juli 2026 | 19:48 WIB
Volume transaksi pada berbagai kanal BRI digital seperti BRImo, QLola by BRI, Business Merchant dan QRIS BRI cukup tinggi. (Dok. BRI)
Volume transaksi pada berbagai kanal BRI digital seperti BRImo, QLola by BRI, Business Merchant dan QRIS BRI cukup tinggi. (Dok. BRI)
RADAR BOGOR – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus memperlihatkan hasil positif dari transformasi bisnis yang dijalankan melalui penguatan struktur pendanaan yang semakin efisien dan berkelanjutan.

Salah satu fokus utama perusahaan adalah meningkatkan proporsi dana murah atau Current Account Saving Account (CASA), yang terbukti mampu menekan biaya dana (cost of fund/CoF) sekaligus memperkuat kualitas pertumbuhan usaha di tengah kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.

Langkah tersebut sejalan dengan agenda penguatan fundamental perusahaan dan penciptaan nilai (value creation) yang terus didorong melalui Danantara di lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Baca Juga: Terangi Desa, Perkuat Ekonomi: BRI Peduli Hadirkan PLTS di Desa Bojong Bandung Barat

Optimalisasi struktur pendanaan menunjukkan kemampuan BRI dalam mengelola sumber pendanaan secara lebih efektif sehingga memberikan ruang yang lebih besar untuk menjaga tingkat profitabilitas, meningkatkan daya saing, serta mendorong pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkesinambungan.

Kinerja tersebut tercermin pada posisi Dana Pihak Ketiga (DPK) hingga Maret 2026 yang mencapai Rp1.555,1 triliun atau tumbuh 9,4 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Dari total penghimpunan dana tersebut, komposisi CASA secara konsolidasian tercatat sebesar Rp1.058,6 triliun atau setara dengan 68,07 persen dari keseluruhan DPK. Angka ini mengalami kenaikan dibandingkan porsi CASA pada Maret 2025 yang berada di level 65,77 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, efisiensi pendanaan juga terlihat dari penurunan cost of fund BRI yang turun dari 2,98 persen pada Triwulan I 2025 menjadi 2,33 persen pada Triwulan I 2026 atau turun sebesar 65 basis poin.

Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menjelaskan bahwa peningkatan porsi dana murah menjadi salah satu pilar penting dalam transformasi yang sedang dijalankan perusahaan.

Menurutnya, semakin besarnya kontribusi CASA memberikan dampak positif terhadap efisiensi biaya pendanaan sekaligus memperkuat kualitas struktur pendanaan BRI.

“Peningkatan CASA memberikan dampak langsung terhadap efisiensi biaya dana dan kualitas struktur pendanaan Perseroan, tingginya volume transaksi terjadi pada berbagai kanal digital seperti BRImo, QLola by BRI, Business Merchant dan QRIS BRI,” ujar Hery dalam keterangannya.

Dengan struktur pendanaan yang semakin kuat, menurut Heri BRI dinilai mampu menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis, profitabilitas, dan pengelolaan risiko.

Penguatan struktur pendanaan itu turut menopang kinerja Perseroan secara keseluruhan dan sampai dengan Triwulan I 2026, total aset BRI Group tumbuh 7,2 persen YoY mencapai Rp2.250 triliun, sedangkan kredit dan pembiayaan tumbuh 13,7 persen menjadi Rp1.562 triliun, kemudian pada periode yang sama, laba bersih konsolidasian Perseroan meningkat 13,7 persen menjadi Rp15,5 triliun.

Sementara itu, Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara Indonesia yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Pelaksana BUMN, Dony Oskaria, menyampaikan bahwa Danantara terus mendorong transformasi menyeluruh di berbagai perusahaan milik negara agar memiliki fondasi bisnis yang semakin kokoh dan berkelanjutan.

Menurut Dony, kehadiran Danantara bertujuan memastikan BUMN tidak hanya berkembang dari sisi skala usaha, tetapi juga semakin kuat dalam aspek tata kelola perusahaan, efisiensi operasional, serta pengelolaan risiko.

Dengan fundamental yang baik, perusahaan-perusahaan BUMN diharapkan memiliki daya saing yang lebih tinggi sekaligus mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.

Ia menegaskan bahwa penerapan manajemen risiko dan tata kelola perusahaan yang baik merupakan faktor utama dalam menjaga keberlangsungan usaha di tengah dinamika ekonomi global.

“Danantara hadir untuk memastikan BUMN tidak hanya tumbuh dari sisi skala bisnis, tetapi juga semakin sehat dari sisi tata kelola, efisiensi, dan manajemen risiko, fondasi yang kuat membuat BUMN memiliki daya saing yang lebih tinggi dan mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional,” kata Dony.

Menurutnya, penguatan risk management serta tata kelola menjadi fondasi utama agar BUMN mampu bertahan dan berkembang secara berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global. 

Pihaknya pun ingin membangun risk management dan tata kelola yang kuat karena kata Dony hanya perusahaan yang dikelola dengan baik yang bisa sustain pada masa yang akan datang.

Editor : Eka Rahmawati
#bri #Danantara