Mahasiswa UIKA: Saatnya UMKM Bogor Menembus Pasar Dunia

Rani Puspitasari Sinaga • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 16:12 WIB
Nur Muhammad Kosim, Pengusaha UMKM dan Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Ibn Khaldun Bogor. Foto: Dok Pribadi
Nur Muhammad Kosim, Pengusaha UMKM dan Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Ibn Khaldun Bogor. Foto: Dok Pribadi

RADAR BOGOR - Pengusaha UMKM dan Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Ibn Khaldun Bogor Menjual produk ke luar pulau kini bukan lagi perkara besar bagi pelaku usaha di Bogor.

Pesanan dari Aceh, Kalimantan, atau Papua bisa masuk melalui marketplace, dibayar secara digital, lalu dijemput kurir dari rumah atau gudang.

Suasananya berubah ketika alamat pembeli berada di Malaysia, Jepang, Belanda, atau Timur Tengah. Kata “ekspor” masih terdengar mahal, rumit, dan jauh dari jangkauan usaha kecil. 

Sebagai pelaku UMKM yang sedang membangun merek lokal di Bogor, saya memahami keraguan itu. Masalahnya sering bukan karena kami tidak tertarik menjual ke luar negeri.

Baca Juga: Siswa Jawa Barat Diwajibkan Pungut Sampah di Sekolah

Kami hanya belum tahu pintu mana yang harus diketuk lebih dahulu. Pertanyaannya sangat praktis: apakah produk sudah memenuhi standar negara tujuan, dokumen apa yang harus disiapkan, bagaimana menghitung harga jual dan ongkos kirim, serta di mana mencari pembeli yang dapat dipercaya?

Kebingungan itu sayang jika dibiarkan. Bogor memiliki banyak produk yang berpeluang masuk pasar dunia, mulai dari kopi, makanan olahan, rempah, hasil pertanian, kerajinan, fesyen, produk kecantikan, hingga perlengkapan olahraga.

Tidak semuanya siap diekspor sekarang, tetapi banyak yang dapat disiapkan melalui perbaikan mutu, kemasan, kapasitas produksi, pencatatan usaha, dan legalitas.

Potensinya nyata. Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat mencatat nilai ekspor Jawa Barat sepanjang 2025 mencapai 38,72 miliar dolar AS, naik 2,24 persen dibandingkan 2024.

Baca Juga: ONIC Bangkit, Dua Wakil Indonesia Resmi Melaju ke Knockout Stage MSC EWC 2026

Jawa Barat sudah memiliki pijakan kuat dalam perdagangan internasional. Pekerjaan berikutnya adalah membuka jalan agar usaha kecil ikut menikmati peluang tersebut.

Kabupaten Bogor juga memiliki basis usaha yang besar. Sistem Informasi Data Koperasi dan UMKM Kabupaten Bogor mencatat 35.542 UMKM. Tentu, tidak semuanya harus menjadi  eksportir.

Namun, jika sebagian kecil saja mampu memperoleh pembeli luar negeri secara rutin, manfaatnya akan dirasakan pemasok bahan baku, pekerja, usaha pengemasan, pergudangan, dan jasa pengiriman.

Contoh dari Bogor sudah ada. Pada 30 April 2025, PT Minaqu Indonesia mengirim 8.925 kilogram sekam bakar dari Kota Bogor ke Belanda. Produk yang sering dipandang sebagai sisa pertanian ternyata memiliki pasar sebagai media tanam dan bahan bakar alternatif.

Baca Juga: Universitas Republik Indonesia bakal Dibangun di Bogor, Pemkab Dorong Peningkatan SDM

Pada 15 Desember 2025, sebanyak 48 ton durian beku senilai Rp5,1 miliar juga diberangkatkan dari Citeureup ke Tiongkok. Dua pengiriman itu menunjukkan bahwa peluang ekspor tidak selalu datang dari produk yang rumit atau berteknologi tinggi.

Peluang muncul ketika mutu dan manfaat produk bertemu dengan kebutuhan pasar. Pemerintah daerah sebenarnya telah bergerak. Pelatihan simulasi ekspor dan keikutsertaan UMKM Kabupaten Bogor dalam Trade Expo Indonesia telah dilakukan.

Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bogor juga telah mengenali hambatan yang kerap dirasakan UMKM, seperti minimnya informasi pasar luar negeri, rumitnya perizinan, dan kebutuhan modal.

Baca Juga: Real Madrid Pecahkan Rekor! Los Blancos Dikabarkan Tuntaskan Transfer Yan Diomande Senilai Lebih dari 100 Juta Euro

Program tersebut perlu diteruskan. Namun, keberhasilannya jangan berhenti pada jumlah seminar, peserta, atau sertifikat.

Ukuran yang lebih penting adalah hasil setelah kegiatan selesai: apakah produk semakin siap, dokumen selesai, sampel terkirim, pembeli ditemukan, pesanan diterima, dan ekspor dapat dilakukan kembali?

Bagi pelaku usaha kecil, pendampingan yang baik harus berujung pada tindakan. Peserta perlu pulang dengan daftar dokumen, perhitungan biaya, target pasar, dan pihak yang dapat dihubungi.

Tanpa itu, pelatihan mudah menjadi pengetahuan yang tersimpan di buku catatan. Pemerintah daerah dapat menyatukan layanan yang telah ada melalui Klinik Ekspor Bogor.

Baca Juga: Resep Membuat Bakpia Kacang Hijau Ekonomis Ala Rumahan, Rasanya Dijamin Juara

Tidak perlu menjadi lembaga baru dengan birokrasi besar. Cukup tersedia satu pintu yang jelas untuk memeriksa kesiapan produk dan mengarahkan pelaku usaha kepada dinas terkait, Bea Cukai, bank, penyedia logistik, eksportir berpengalaman, atau calon pembeli.

Bantuannya perlu mengikuti kesiapan usaha. UMKM yang baru mengurus legalitas tentu membutuhkan pendampingan berbeda dari usaha yang sudah menerima permintaan sampel atau pesanan.

Masalah modal juga harus dijawab secara praktis. Jangan sampai pesanan luar negeri sudah ada, tetapi gagal dipenuhi karena UMKM kekurangan dana produksi. Bank dan lembaga pembiayaan dapat memberi perhatian lebih kepada pesanan yang telah diperiksa dan dinilai layak.

Baca Juga: Usai Solis, Lintasan Kereta RE Martadinata Kota Bogor Jadi Sasaran Penutupan Berikutnya

Perguruan tinggi di Bogor pun dapat membantu melalui riset pasar, desain kemasan, penerjemahan katalog, penghitungan biaya, dan pemasaran digital. Peran itu akan terasa jika diarahkan pada kebutuhan nyata pelaku usaha.

Pelaku UMKM juga tidak boleh hanya menunggu kemudahan. Kami harus menjaga mutu, memenuhi tenggat produksi, membenahi pencatatan keuangan, memahami legalitas, dan membangun merek yang dapat dipercaya.

Satu pengiriman yang mengecewakan dapat merusak hubungan dagang yang dibangun dalam waktu lama. Ekspor bukan satu-satunya ukuran keberhasilan usaha. Pasar dalam negeri tetap penting dan tidak semua UMKM perlu menjual ke luar negeri.

Namun, usaha yang produknya sudah layak tidak semestinya mundur hanya karena informasi sulit ditemukan dan prosedurnya terasa menakutkan.

Baca Juga: Tissa Biani Genap Berusia 24 Tahun, Dul Jaelani Beri Ucapan Gemas dan Kejutan Hangat

Indonesia tidak kekurangan produk berkualitas. Yang masih kurang adalah jalur sederhana dari produk menuju pembeli. Jalur itu perlu dibangun melalui informasi yang jelas, pendampingan hingga transaksi, akses modal yang sesuai, dan kemauan pelaku usaha untuk terus belajar.

Sudah saatnya Bogor dikenal bukan sekadar sebagai pasar yang ramai dan tempat tumbuhnya usaha kecil, tetapi juga sebagai tempat lahirnya eksportir baru.

Ketika sebuah produk lokal menembus pasar dunia, yang ikut berangkat bukan sekadar barang di dalam kardus. Ada kerja petani, keterampilan pengrajin, penghasilan pekerja, keberanian pengusaha, dan nama Bogor yang dibawa lebih jauh.


Oleh: Nur Muhammad Kosim

Pengusaha UMKM dan Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Ibn Khaldun Bogor

Editor : Rani Puspitasari Sinaga
umkm