BRI Dukung Optimalisasi Instrumen Pengelolaan Kas Negara, Dorong Sektor Riil Melalui Penyaluran Kredit Berkualitas

Eka Rahmawati • Dipublikasikan Rabu, 5 Agustus 2026 | 22:14 WIB
UMKM mendapat dukungan dari BRI. (Dok. BRI)
UMKM mendapat dukungan dari BRI. (Dok. BRI)

RADAR BOGOR – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI menyatakan dukungannya terhadap kebijakan pemerintah melalui Kementerian Keuangan dalam mengoptimalkan pengelolaan kas negara dengan memanfaatkan instrumen penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL).

Kebijakan tersebut dinilai dapat memperkuat keterkaitan antara kebijakan fiskal dan sektor perbankan, terutama dalam menjaga ketersediaan likuiditas di industri keuangan. Kondisi likuiditas yang terjaga diharapkan turut memberikan ruang bagi perbankan untuk meningkatkan fungsi intermediasi dan mendukung aktivitas ekonomi nasional.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi menilai penempatan dana SAL merupakan salah satu instrumen strategis dalam pengelolaan keuangan negara. Selain mendukung stabilitas sistem keuangan, kebijakan tersebut dapat memperkuat kemampuan bank dalam menyalurkan pembiayaan kepada masyarakat dan dunia usaha.

Baca Juga: BRIncubator 2026 Resmi Dimulai, Akselerasi UMKM Naik Kelas

Menurut Hery, tambahan dukungan likuiditas memberikan ruang bagi perbankan untuk menjalankan fungsi intermediasi secara lebih optimal dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian.

"BRI mendukung langkah pemerintah dalam mengoptimalkan pengelolaan kas negara melalui penempatan dana SAL, kebijakan ini memberikan dukungan likuiditas bagi industri perbankan sehingga bank dapat menjalankan fungsi intermediasi secara lebih optimal dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian," ujar Hery.

Ia menambahkan, kondisi likuiditas yang memadai menjadi salah satu faktor penting agar bank dapat menyalurkan pembiayaan secara sehat, khususnya kepada sektor yang memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian.

Perbankan dapat memiliki kapasitas lebih luas dalam memenuhi kebutuhan pembiayaan dunia usaha tanpa mengesampingkan kualitas aset dan penerapan manajemen risiko.

Bagi BRI, dukungan likuiditas tersebut akan diarahkan untuk memperkuat penyaluran kredit berkualitas, terutama pada sektor riil dan UMKM. Pembiayaan produktif dinilai mampu memberikan dampak berantai terhadap perekonomian, mulai dari mendorong aktivitas bisnis, menciptakan lapangan pekerjaan, hingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Sebagai salah satu bank dengan fokus pembiayaan UMKM terbesar di Indonesia, BRI akan terus mengembangkan penyaluran kredit ke berbagai sektor strategis. Selain UMKM, sektor pertanian, perdagangan, industri pengolahan, serta bidang produktif lainnya tetap menjadi sasaran pembiayaan perusahaan.

Hingga akhir Triwulan I 2026, total kredit yang disalurkan BRI mencapai Rp1.562 triliun. Dari jumlah tersebut, pembiayaan untuk segmen UMKM tercatat sebesar Rp1.211 triliun dan masih menjadi bagian utama dalam portofolio kredit perseroan.

BRI memandang koordinasi antara kebijakan fiskal pemerintah dengan industri keuangan memiliki peran penting untuk menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi, khususnya di tengah perubahan dan ketidakpastian ekonomi global.

Karena itu, perseroan menyatakan akan terus mendukung kebijakan pemerintah yang diarahkan untuk mempertahankan stabilitas sistem keuangan sekaligus meningkatkan kemampuan pembiayaan sektor riil.

Hery menegaskan, kerja sama yang kuat antara pemerintah dan industri perbankan merupakan salah satu fondasi dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Melalui pengelolaan likuiditas secara prudent dan penyaluran kredit yang berkualitas, BRI berkomitmen memperkuat perannya dalam mendukung pembangunan ekonomi, memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan, serta meningkatkan kesejahteraan.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan peluang memperpanjang penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pada bank-bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) hingga 2027.

Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya di Tangerang pada Selasa (4/8). Sebelumnya, sebagian dana SAL yang ditempatkan pada perbankan pemerintah direncanakan untuk ditarik kembali menjelang akhir 2026.

Editor : Eka Rahmawati
kas negara bri kredit