RADAR BOGOR – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus mendorong pertumbuhan penyaluran kredit dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian serta pengelolaan risiko yang terukur.
Strategi tersebut dilakukan untuk memastikan ekspansi bisnis perusahaan tetap berlangsung secara sehat, berkualitas, dan berkesinambungan di tengah perubahan kondisi ekonomi.
Sebagai perbankan yang memiliki fokus kuat pada segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), BRI tidak hanya menjadikan besarnya penyaluran kredit sebagai indikator pertumbuhan.
Perseroan juga memberikan perhatian besar terhadap kualitas pembiayaan yang disalurkan. Karena itu, keputusan kredit dilakukan dengan memperhitungkan berbagai faktor, seperti tingkat risiko debitur, prospek bisnis, kapasitas pembayaran, serta perkembangan sektor maupun industri yang menjadi tujuan pembiayaan.
Baca Juga: BRI KKB National Expo Torehkan Rekor MURI, Hadir Serentak di 131 Lokasi
Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti menjelaskan bahwa prinsip prudential banking menjadi dasar dalam proses pemberian kredit. Menurutnya, upaya menjaga kualitas aset telah dilakukan sejak tahap awal melalui underwriting yang ketat, pemantauan portofolio secara berkesinambungan, serta pemanfaatan sistem peringatan dini untuk mengetahui kemungkinan munculnya risiko sejak awal.
BRI tetap membuka ruang untuk meningkatkan penyaluran kredit, terutama kepada sektor-sektor produktif. Namun, ekspansi tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan tingkat risiko secara matang. Setiap pertumbuhan kredit terlebih dahulu melewati proses penilaian risiko yang memadai agar perkembangan bisnis tidak mengorbankan kualitas portofolio.
“Kami memastikan setiap ekspansi kredit melalui proses asesmen risiko yang memadai sehingga pertumbuhan bisnis dapat berjalan secara sehat dan berkelanjutan,” ujar Ety.
Dalam menerapkan strategi tersebut, BRI menggunakan pendekatan selektif sesuai karakteristik risiko pada masing-masing segmen dan sektor ekonomi. Kebijakan kredit serta sistem pemantauan portofolio juga terus diperbarui agar mampu menyesuaikan dengan perubahan kondisi ekonomi dan perkembangan profil risiko nasabah.
Melalui pendekatan tersebut, perseroan berupaya menciptakan keseimbangan antara peluang pertumbuhan bisnis dengan tingkat risiko yang masih dapat dikelola. Pengawasan terhadap kredit juga tidak berhenti setelah pembiayaan diberikan.
BRI melakukan evaluasi portofolio secara rutin dengan memanfaatkan analisis berbasis data. Langkah tersebut bertujuan mendeteksi perubahan kondisi debitur maupun potensi tekanan yang dapat muncul pada sektor ekonomi tertentu.
Menurut Ety, pertumbuhan kredit harus diikuti dengan kualitas yang tetap terjaga. Karena itu, BRI memperkuat seluruh tahapan pengelolaan kredit, mulai dari proses underwriting, pemantauan secara langsung maupun tidak langsung, penerapan early warning system, hingga penanganan terhadap kredit yang membutuhkan perhatian khusus.
Strategi tersebut menjadi semakin penting karena sebagian besar portofolio BRI berada pada segmen UMKM. Karakteristik nasabah UMKM yang beragam dan tersebar di berbagai wilayah Indonesia membuat pengelolaan risiko membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam.
“Kami terus memperkuat proses dari hu-lu hingga hilir, mulai dari underwriting, monitoring baik on-site maupun off-site, early warning system, hingga penanganan kredit yang membutuhkan perhatian khusus,” jelas Ety.
Dengan dukungan pengalaman panjang di sektor UMKM serta pemanfaatan data, BRI terus mengembangkan kemampuan untuk membaca karakteristik dan profil risiko setiap debitur secara lebih terperinci. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu perseroan mengambil keputusan kredit secara lebih tepat.
Perbaikan kualitas aset BRI juga terlihat dari sejumlah indikator risiko. Rasio Non-Performing Loan (NPL) tercatat membaik secara quarter on quarter (qoq), dari 3,07 persen pada akhir Desember 2025 menjadi 3,01 persen pada Maret 2026.
Indikator lain yang bersifat lebih forward-looking, yakni Loan at Risk (LaR), turut menunjukkan perkembangan positif. Rasio tersebut turun dari 11,13 persen pada Maret 2025 menjadi 9,67 persen pada Maret 2026. Dengan demikian, terjadi penurunan sebesar 145 basis poin dalam periode tersebut.
Selain menjaga kualitas kredit, BRI juga mempertahankan tingkat pencadangan dan permodalan yang memadai sebagai bagian dari strategi mitigasi risiko. Kecukupan tersebut berfungsi sebagai bantalan untuk menghadapi kemungkinan tekanan sekaligus menjaga kekuatan fundamental perusahaan dalam mendukung pertumbuhan bisnis.
Komitmen tersebut tercermin dari NPL Coverage yang berada di level 179,45 persen dan LaR Coverage sebesar 55,75 persen. Stabilnya kedua rasio tersebut menunjukkan konsistensi BRI dalam menjaga kecukupan pencadangan sebagai bagian dari penerapan manajemen risiko yang disiplin dan berorientasi pada keberlanjutan.
Editor : Eka Rahmawati