Harga Emas Dunia Tembus USD 4.500 per Ons, Naik 10,92 Persen dalam Sebulan

Yosep Awaludin • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 15:00 WIB
Ilustrasi Harga Emas Antam dunia
Ilustrasi Harga Emas Antam dunia

RADAR BOGOR – Harga emas dunia kembali mencatat penguatan menjelang akhir pekan.

Logam mulia tersebut berhasil menembus level USD 4.500 per ons dan melanjutkan tren positif selama tiga pekan berturut-turut.

Berdasarkan data Trading Economics, harga emas naik 1,09 persen hingga berada di posisi USD 4.566,14 per ons.

Penguatan juga terjadi pada harga perak yang tercatat naik 1,72 persen ke level USD 69,249, dari sebelumnya USD 62,99.

Trading Economics menyebut harga emas masih mampu bertahan di zona penguatan meskipun imbal hasil Treasury AS kembali meningkat setelah sempat mengalami penurunan pada Rabu.

Kondisi tersebut terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap upaya pemerintah Amerika Serikat dalam menekan biaya pinjaman jangka panjang yang dinilai belum tentu memberikan dampak permanen.

Baca Juga: Halte Biskita Kebun Raya Bogor Dipercantik, Air Alam Pasang CCTV Cegah Vandalisme 

“Emas tetap berada dalam tren penguatan meski imbal hasil Treasury kembali naik. Pasar masih mencermati langkah pemerintah dalam mengendalikan biaya pinjaman jangka panjang yang kemungkinan hanya memberikan efek sementara,” demikian keterangan Trading Economics.

Harga Emas Naik Lebih dari 10 Persen dalam Sebulan

Penguatan harga emas tidak hanya terlihat dalam beberapa hari terakhir. Dalam satu bulan terakhir, harga logam mulia tersebut telah melonjak 10,92 persen.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, harga emas bahkan telah mengalami kenaikan hingga 35,45 persen.

Trading Economics juga mencatat harga emas secara historis pernah mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di level 5.608,35 pada Januari 2026.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa emas masih menjadi salah satu aset yang mendapat perhatian investor di tengah dinamika pasar keuangan global.

AS Tingkatkan Buyback Obligasi Jangka Panjang

Di sisi lain, sentimen pasar emas juga dipengaruhi perkembangan kebijakan pemerintah Amerika Serikat terkait pasar obligasi.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya mengumumkan rencana peningkatan dukungan likuiditas untuk program pembelian kembali atau buyback obligasi pemerintah AS dengan tenor panjang, khususnya surat utang bertenor 10 hingga 30 tahun.

Dalam kebijakan tersebut, nilai maksimal buyback yang sebelumnya mencapai USD 2 miliar untuk setiap operasi akan ditingkatkan menjadi sedikitnya USD 4 miliar per operasi.

Rencana tersebut dijadwalkan mulai berlaku pada 9 September hingga 4 November 2026.

Setelah pengumuman tersebut, imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun dilaporkan turun sekitar 7 basis poin menjadi 4,64 persen.

Baca Juga: BPNT Rp600.000 Mengalir Deras di 512 Daerah, KPM Diminta Cek Saldo KKS Hari Ini

Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) melemah sekitar 0,9 persen ke level 98,8. Kondisi tersebut kemudian diikuti kenaikan harga emas sekitar 4 persen hingga mencapai USD 4.520 per ons.

Dalam periode satu bulan terakhir, harga emas pun tercatat telah mengalami lonjakan lebih dari 10 persen.

Pergerakan harga emas global tersebut menjadi perhatian pasar karena dipengaruhi kombinasi sentimen dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah, serta kebijakan pemerintah Amerika Serikat terhadap pasar surat utang. (***)

Editor : Yosep Awaludin
logam mulia harga emas Tren Positif